Seminar: Kupas Tuntas Perkawinan Katolik

author photo April 29, 2024

Mendengarkan paparan Romo Driyanto mengenai perkawinan kita diajak memaknai kembali tujuan perkawinan itu sendiri. Dengan gaya berceritanya yang nyeleneh mengoyak-ngoyak perasaan peserta yang mendengarnya.

Sentilan-sentilannya kadang membuat jengah terperanjat yang mendengarnya, apalagi peserta yang dijadikan contoh harus sedalam mungkin memakluminya atau memaknai kembali apa yang disampaikan romo hanyalah sebuah contoh semata, walau kadang bisa menitikan air mata.

Drama Rudolfo dan Maria

Seminar yang diadakan KEP 17, pada Sabtu, 27 April 2024 ini, diawali dengan drama “Rudolfo dari tanah Jawa dan Maria Cinta yang hilan” dimainkan dengan sangat baik, yang salah satu pemainnya saya kenal Romo. Dedi (MBSB), yang bermain total mendampingi pemeran wanitanya yang bermain tidak kalah luwes.

Sebagai suatu tontonan dan pengantar seminar merupakan 𝑡𝑟𝑖𝑔𝑔𝑒𝑟 yang pas, membawa atmosfir positif dan menaikkan minat peserta untuk menyaksikaan 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑒𝑛𝑡 seminar yang setengah hari lebih itu.

Paparan Romo Driyanto

Seperti biasanya Romo yang kini bertugas di Unpar Bandung memasuki tahun ke 5 dan memasuki usia ke 25 sebagai Vikaris Yudisial keuskupan Bogor ini,  selalu mengawali paparannya dengan pertanyaan, apa tujuan perkawinan pada pesertanya. Bukan hanya kali ini, di kesempatan lain selalu ditanyakan hal yang sama.

Romo yang sudah berpengalaman ini, selalu tepat menanyakan pada peserta yang baru dikenalnya, ndilala selalu Jawaban dari para peserta yang ditanyakan itu, hidup bahagia ataupun kebahagiaan. Tentu saja jawaban ini dijelaskan oleh Romo dengan mengelaborasi tujuan perkawinan yang menyatakan bukan kebahagiaan.

Mempertajam pengantarnya mengenai Perkawinan Gereja Katolik yaitu: Tujuan, Identitas & Misi, serta Proprietas, Romo yang merupakan dosen RD. Boni dan RD. Dedi ini juga kerap menggunakan analogi sebuah kursi
Adapun Tujuan Perkawinan yang disampaikan Romo Dri menurut Gereja Katolik ada 3 hal seperti berikut ini:

1. Kebaikan Pasangan
§  Benovelence: ingin pasangan suami / istri baik
§  Partnership: sebagai suami/ istri tetap pasangan dimanapun berada dan tahu masing2 aktivitasnya
§  Companionship: teman berbagi roti dalam perjalanan.Teman perjalanan yang baik.
§  Friendship: Bisa menjadi sahabat. Tempat menyimpan rahasia yg paling dalam.
§  Care: Tahu yang dibutuhkan langsung menyediakan tanpa bertanya.

2. Kelahiran (prokreasi)
§  In Humano modo: Dalam cara manusiawi hubungan suami istri.
§  Self Giving: Pemberian diri.
§  Responsible paternity: Bertanggung jawab.
§  KBA: Keluarga Berencana Alamiah Bisa memiliki anak alamiah.

3. Pendidikan/ Edukasi
§  Fisik: Ajari anak makanan yg bergizi, Istirahat yg cukup, Bermain
§  Moral: Pamali dan kualat Ajarkan anak pada pemahaman yang tepat, tidak bias. Contohnya: Anak-anak omong di gereja pastur marah. Anak-anak berisik Tuhan Marah dsb.
§  Intelektual: Anak dapat berpikir logis, dan memahami sebab akibat.
§  Sosial: Bisa memahami masyarakatnya, yang kadang tidak seberuntung dirinya.
§  Religius: Beriman harus juga rasional.
Anak sakit harus diobati bukan hanya berdoa, tapi keduanya penting, pakai akal budi.
§  Kultural: Ada nilai yang harus dipahami seperti pakaian adat dan kebudayaan.

Banyaknya pertanyaan yang harus dijawab dan keterbatasan waktu, Identitas, Misi dan Proprietas Perkawinan dibahas sebatas poin-poin nya saja. Tentu saja hal ini semua bisa dibaca dalam buku tulisannya yang berjudul “Tujuan, Identitas dan Misi Perkawinan Katolik” yang kemarin bukunya habis diborong peserta.

Mengakhiri paparannya Romo Vikaris Yudisial Keuskupan Bogor ini, menceritakan kembali kisah yang disampaikan  Ajahn Bram seorang biksu asal Australia dan penulis terkenal dengan kisah, “sepasang suami istri yang pergi berbulan madu, yang berbeda dan bertengkar hebat hanya karena mendengar suatu suara, istri mengatakan suara bebek dan suami mengatakan suara ayam” yang maknanya jangan mempermasalahkan hal remeh yang tidak prinsip, kalau hanya perbedaan itu menjadi pertengkaran menyakitkan, apalagi membuat putus hubungan.

Acara ini ditutup dengan foto bersama seluruh panitia dan peserta.
Sebagai suatu seminar acara yang dilaksanakan KEP ini berjalan sukses, lancar dan cukup lengkap ada drama, ice break, lagu-lagu yang dinyanyikan live mengiringi saat lunch enak didengar, dan paparan materi itu sendiri. Hal ini bisa dilihat juga dari para peserta yang masih banyak bertahan hingga acara berakhir. Proficiat Panitia KEP 17, Tuhan Memberkati.






Next article Next Post
Previous article Previous Post