Penghayatan Iman Kristiani

author photo October 01, 2023

Minggu, 1 Oktober 2023
Minggu Biasa XXVI Tahun A
Bacaan: Yehezkiel 18:25-28; Filipi 2:1-11; Matius 21:28-32

Beberapa saat lalu, kita mendapat kabar yang tidak mengenakkan terjadi pada seorang tokoh Katolik. Yang bersangkutan harus berurusan dengan KPK akibat dugaan korupsi. Jumlah uang yang diduga dikorupsi luar biasa besarnya. Lebih tidak mengenakkan lagi, ada indikasi bahwa uang hasil korupsi ini digunakan oleh beliau untuk membantu Gereja. Umat Katolik yang mustinya bisa menjadi contoh dan bisa menjadi garam dunia, akhirnya ikut larut dalam kegelapan dunia.

Bacaan injil hari ini berkisah tentang dua orang anak yang diminta bapanya untuk pergi dan bekerja ke kebun anggur. Perumpamaan hari ini sebagai reaksi Yesus atas pertanyaan para ahli Farisi dan ahli Taurat yang menanyakan tentang asal kuasa yang digunakan oleh Yesus. Untuk menjawab pertanyaan ini, Yesus mengajukan pertanyaan tentang asal kuasa yang digunakan oleh Yohanes Pembabtis. Mereka tahu bahwa Yohanes mendapat kuasa dari Allah namun mereka tidak berani menjawab pertanyaan ini (bdk. Mat 21:23-27). Yesus melihat ada ketidakjujuran dan ketidaktaatan pada mereka dalam menjalankan ajaran agamanya. Inilah problem utama di kalangan pemimpin Yahudi. Untuk itu Yesus mengungkapkan perumpamaan ini.

Anak pertama, ketika disuruh Bapa Nya langsung mengatakan iya namun tidak mengerjakannya. Sementara anak yang kedua pada awalnya menolak akhirnya mengerjakannya. (bdk. Mat 21:28-31). Anak pertama menunjukkan bagaimana si anak ini tidak jujur dan tidak taat terhadap tugas yang diberikan bapaNya. Baginya dengan mengatakan Iya, dia berhasil membuat bapanya senang sehingga tidak mengganggunya lagi sehingga dia bisa bebas mengerjakan apa yang senang ia kerjakan. Dia mengingkari kesanggupannya. Si anak pertama ini menggambarkan sikap tidak jujur dan taat para pemimpin Yahudi. Mereka tahu bahwa Yohanes mendapat kuasanya dari Allah, namun mereka tidak jujur menjawab pertanyaan Yesus. Mereka selama ini selalu mengatakan ya pada setiap ajaran Allah namun mereka sering tidak menaatinya.

Berbeda dengan anak yang kedua. Dia pada awalnya menolak. Dia tidak suka dengan tugas yang diberikan bapanya. Namun akhirnya día menyesal telah menolak perintah bapanya sehingga ia berubah pikiran dan akhirnya pergi melakukannya. Nampak kejujuran dan ketaatan pada si anak kedua. Anak kedua ini menggambarkan para pemungut cukai dan pelacur yang dianggap masyarakat sebagai orang berdosa dan tidak taat ajaran agama. Namun mereka menyesali ketidaktaatan mereka dan berbalik kepada Allah dengan percaya kepada ajaran Yesus.

Cerita dua anak ini mengingatkan kita pentingya suatu kejujuran dan keataatan dalam menjalankan perintah agama. Beragama bukanlah sekedar resmi memeluk suatu agama dan mencantumkannya di KTP. Kita dituntut untuk lebih dari itu. Kita dituntut untuk menjalankan perintah Allah dan menghayatinya dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun seringkali, kita masih terjebak pada formalitas hidup keagamaan. Kita rajin pergi ke Gereja, kita rajin ikut dalam kegiatan Gereja namun iman yang ada pada kita tidak kita hayati dalam hidup keseharian. Pada akhirnya apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, berbeda sekali dengan cara kita menjalankan ibadah. Kehidupan kita sehari-hari musti sungguh menampakkan iman kita. Kita diminta untuk berbuat sesuai dengan iman kita secara sungguh-sungguh dan bukan sekedar formalitas dan tampak lahiriah belaka.

Dalam hidup menggereja, Rasul Paulus, yang berada di penjara, merasa sangat bergembira bila jemaatnya bisa mencontoh Yesus. Yesus yang adalah Anak Allah mau merendahkan diri-Nya menjadi manusia dan taat pada perintah-Nya bahkan sampai mati di kayu salib (bdk. Flp 2:5-8). Kerendahan hati inilah yang diperlukan oleh tiap-tiap anggota jemaat sehingga mereka bisa membangun Jemaat Kristiani yang sejati yaitu Jemaat Kristiani yang sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia (bdk Flp 2:1-3). Sikap rendah hati inilah yang disukai oleh Allah, karena dengan kerendahan hati akan bisa terbangun sikap pertobatan. Dengan pertobatan, kita akan memperoleh keselamatan (bdk. Yeh 18:27-28)

Bacaan minggu ini mengajak kita untuk melihat kembali kehidupan kita sebagai umat Kristiani: apakah kita selalu jujur dan taat pada perintah-Nya serta melaksanakan perintah-Nya dalam kehidupan sehari-hari? Mampukah kita melihat segala kebaikan Allah dalam segala hal yang ada di dunia ini? 

Dengan merefleksikan ini semua kita diajak untuk bisa melaksanakan kehidupan Kristiani kita secara benar  Kita harus selalu sadar dan berusaha untuk menerima dan melaksanakan kehendak Allah dalam setiap situasi dan kondisi kita masing-masing. Tawaran keselamatan Allah kepada kita harus selalu kita terima dengan jujur dan taat kendati kita adalah manusia yang lemah.

Selamat berhari Minggu. Semoga Tuhan senantiasa menguatkan kita sehingga kita bisa menghayati Iman Kristiani dalam kehidupan sehari-hari.

Kristophorus Wahyu Nugroho Utomo
Sie Kitab Suci – Paroki Maria Bunda Segala Bangsa 



Sumber Ilustrasi: freebibleimages.org

Next article Next Post
Previous article Previous Post