Damai di Bumi

author photo September 17, 2023
Minggu, 17 September 2023
Minggu biasa XXIV Tahun A
Bacaan: Putra Sirakh 27:30 – 28:9; Roma 14:7-9; Matius 18:21 – 35

Romeo dan Juliet adalah sebuah cerita tragedi percintaan karya William Shakespeare. Mereka ini adalah dua anak muda yang jatuh cinta pada pandangan pertama mereka. Mereka sadar bahwa mereka berdua berasal dari keluarga yang saling bermusuhan. Hal itu tidak menghalangi niat mereka untuk melanjutkan hubungan cinta mereka. Mereka berencana untuk lari dan menikah secara rahasia dengan dibantu oleh Pastor Lawrence. Namun sayang rencana mereka gagal dan mereka berdua mengakhiri hidup mereka di dunia ini.

Cerita diatas akan bisa menjadi akhir yang membahagiakan bilamana keluarga mereka mau saling berdamai dengan mau saling mengampuni. Petrus pada injil hari ini bertanya kepada Yesus, berapa kali dia bisa memberikan pengampunan kepada saudaranya. Jawaban Yesus sangat menarik bahwa pengampunan ini musti diberikan bukan hanya tujuh kali namun tujuh puluh kali tujuh kali (bdk. Mat 18:22). Dengan kata lain, Yesus hendak mengatakan bahwa pengampunan musti dilakukan dengan tak terbatas dan dengan tulus hati. Bila semua orang melakukan hal tersebut, maka terwujudlah kedamaian di muka bumi atau dengan kata lain terwujudlah Kerajaan Surga di muka bumi ini. Selanjutnya dengan perumpamaan Yesus menjelaskan lebih lanjut, mengapa hal ini musti dilakukan.

Pada bagian pertama perumpamaan, Yesus mengungkapkan bahwa kerajaan surga ini adalah seumpama seorang raja, seorang yang sangat berkuasa dan kaya raya. Sang Raja berkenan untuk mengampuni hambanya yang tidak dapat membayar hutangnya 10 ribu talenta. Semestinya hamba itu dan keluarganya dijual untuk bisa menebus hutangnya (bdk. Mat 18:23-27). Satu talenta kurang lebih bernilai 10 ribu dinar, sementara satu dinar adalah upah pekerja dalam satu hari. Hamba ini tentu saja beruntung karena sang Raja berkenan untuk menghapus hutang yang sangat besar, yaitu 10 ribu talenta atau setara dengan 100 juta dinar atau setara dengan 100 juta hari kerja atau 274 ribu tahun. Yesus hendak mengajarkan bahwa setinggi atau sekaya apapun seseorang, dia masih tetap menjadi sesama bagi orang lain dan semalang apapun seseorang, dia masih tetap bisa mengharapkan bantuan dari mereka yang lebih beruntung. Suasana demikianlah yang akan bisa membuat kedamaian di muka bumi. Kedamaian di bumi akan terwujud bilamana mereka yang berkelebihan bersedia untuk membantu mereka yang berkekurangan. Demikianlah Kerajaan Sorga akan terwujud di muka bumi.

Pada bagian kedua muncul sesuatu yang sangat kontras. Diceritakan bagaimana sang hamba yang sudah dihapuskan hutangnya itu kemudian menagih hutangnya yang berjumlah 100 dinar atau 100 hari kerja kepada rekan kerjanya. Sang hamba ini kemudian menjebloskan rekannya ke penjara. Teman-teman si hamba yang malang kemudian menyampaikan hal ini kepada sang Raja dan sang Raja pun bertindak kepada hamba yang jahat ini (bdk. Matius 18: 28-34). Sang hamba yang sudah mengalami kemurahan hati sang Raja, tidak mau membagikan kasih yang dia peroleh kepada rekan yang lainnya. Dia yang saat ini sudah berkelimpahan tidak mau membagikan kelimpahannya kepada mereka yang berkesusahan. Hamba yang jahat ini tidak mau menjadi sesama dan saudara bagi rekan kerjanya. Melihat situasi ini, rekan-rekan kerja yang lain tidak diam. Mereka berani menyuarakan ketidakadilan yang terjadi kepada sang Raja (bdk. Mat 18:31). Mereka bertindak sebagai suara hati yang peka akan keadilan dan kewajiban moral yang harus terjadi. Demikianlah kedamaian di muka Bumi juga akan terwujud bila semua orang menjadi peka dan mau serta berani menyuarakan keadilan dan kewajiban moral. 

Menjadi pertanyaan bagi kita di minggu ini:  
  • apakah aku sudah bertindak sebagai sesama bagi saudaraku yang lain dengan mau membantu mereka yang bekesusahan? 
  • apakah aku juga mau mengampuni saudaraku yang bersalah kepadaku tanpa batas? 
  • sejauh mana aku berani menyuarakan ketidakadilan dan kewajiban moral yang terjadi di masyarakat?

Semoga perumpamaan hari ini menyadarkan kita sebagai pengikut Kristus untuk selalu bertindak sebagai sesama bagi saudara kita yang lainnya dengan mau mengampuni tanpa batas serta mau membantu mereka yang berkesusahan, juga berani menyuarakan ketidakadilan dan kewajiban moral yang terjadi di masyarakat.

Selamat berhari Minggu.
Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita.

Kristophorus Wahyu Nugroho Utomo
Sie Kitab Suci – Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Kota Wisata

 
Sumber illustrasi: Freebibleimages.org

Next article Next Post
Previous article Previous Post