IMAN HARUSLAH BERTUMBUH DAN BERKEMBANG

author photo June 12, 2021
Minggu, 13 Juni 2021
Minggu Biasa XI
Bacaan: Yeh.17:22-24;   2Kor.5:6-10; Mrk.4:26-34.

Kalau kita menanam pohon atau tanaman, tentu berharap akan tumbuh dan berkembang serta  berbuah. Untuk itu, kita pasti harus merawatnya dengan menyirami, memberi pupuk, memotong ranting-ranting yang kering, dsb. Tanaman yang tumbuh, berkembang dan berbuah dengan baik tentu akan memberi rasa sukacita pada diri kita. Pertanyaan reflektif kita adalah apakah kita yang menanam ini tahu persis proses pertumbuhan atau perkembangan tanaman tersebut? Sebagai penamam, kita sering kali hanya menanam saja, bahkan lupa atau malas untuk merawatnya. Walau tidak kita rawat,  kadang tanaman itu ternyata dapat bertunas, tumbuh dan berkembang, bahkan dapat berbuah lebat. Sebagai orang beriman, kita percaya bahwa pertumbuhan atau perkembangan tanaman tersebut pastilah atas kuasa dan kehendak Allah.

Bacaan-bacaan Kitab Suci, yang diperdengarkan dalam perayaan Ekaristi Pekan XI ini mengajak kita untuk memusatkan perhatian kita  tentang pentingnya  pertumbuhan atau perkembangan iman kita. Seperti dalam bacaan pertama, nabi Yehezkiel menggambarkan harapan Allah akan pertumbuhan kehidupan bangsa Israel. Yang dalam konteks hidup kita saat ini, tentu itu berkaitan dengan harapan Allah akan hidup iman kita, yang  hendaknya  tumbuh berkembang ibarat pertumbuhan dari tanaman. Bagian mana pun dari suatu tanaman, yang dipetik pada bagian carangnya atau pucuknya, dan kemudian ditanam di tempat yang tinggi sekali pun, hendaknya dapat tumbuh atau  berkembang dengan baik. Nabi Yehezkiel dengan menarik menggambarkan tentang kuasa Allah, yang memberikan kehidupan pada tanaman untuk  bertumbuh dan berkembang serta berbuah, yang memberi manfaat bagi segala macam burung dan yang berbulu bersayap dapat tinggal di bawahnya (bdk. Yeh. 17:22-23). Itulah  gambaran harapan Allah akan perkembangan iman dan hidup kita.

Dalam konteks hidup kita di jaman sekarang ini, situasi pandemi covid dan segala persoalan lain yang kita alami dan hadapi,  kiranya bukanlah menjadi suatu alasan untuk bersikap apatis, pasrah tanpa daya, melainkan justru menjadi suatu tantangan bagi kita untuk menyuburkan pertumbuhan hidup kita sebagai orang Kristiani yang dewasa dalam iman. Sebagai orang beriman, kita ini ibarat benih yang ditanam oleh penabur. Dalam bacaan Injil, Yesus memberikan gambaran tentang Kerajaan Allah dengan perumpamaan seorang penabur benih dan biji sesawi. Melalui perumpamaan tersebut Yesus berharap kita untuk dapat tumbuh berkembang menjadi orang Kristiani sejati yang dewasa dalam imannya. Gambaran seorang penabur, yang hanya menabur dan merawatnya, namun tidak mengetahui proses pertumbuhannya, adalah gambaran diri kita yang telah dianugerahi Allah akan iman. Seorang penabur atau petani itu pasti tidak bisa memberitahu dengan  pasti  bagaimana proses suatu benih itu bisa bertunas. Jelaslah, bahwa pertumbuhan biji mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu dan itu pasti adalah rahasia Ilahi (bdk. Mrk. 4: 27). 

Kita pun seperti penabur atau petani, yang hanya bisa melihat benih itu telah bertunas, kemudian tumbuh membesar. Namun, kita pasti  juga tidak bisa menceritakan bagaimana proses benih itu tumbuh. Demikian halnya iman kita, kita tidak tahu persis  bagaimana cara Allah mengubah hati  kita, yang sekali pun kita ini melawan atau menjauh dariNya, tetapi pada akhirnya iman kita pun bisa bertumbuh dan berkembang. Kita hanya percaya, bahwa jika kita dengan sungguh-sungguh mengelola iman kita dengan benar dan dinamis, maka Allah akan melakukan hal-hal   besar dalam diri kita, di luar sepengetahuan kita sendiri. Contoh bentuk mengelola iman yang benar dan dinamis, misalnya rajin berdoa, mendoakan orang lain, mendalami Kitab Suci, aktif dalam kegiatan menggereja di lingkungan, membantu sesama yang menderita, dll. Ibaratnya benih, jika perbuatan kita semua itu kita lakukan di mana pun, kapan pun  dan untuk siapa pun, dengan mempercayakan diri pada Tuhan, yang menyirami dan memberi pertumbuhan pada diri kita, maka hidup beriman kita akan menghasilkan buah-buah yang tidak saja dinikmati secara duniawi, tetapi kelak juga kehidupan kekal.  

Sebagai orang beriman, kita tentunya tidak saja berharap memperoleh kebahagiaan hidup duniawi, tetapi juga kehidupan kekal. Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus mengajak kita untuk tidak berpkir tentang hidup di dunia, yang banyak penderitaan, tetapi juga memikirkan hidup dalam perspektif kekekalan. Rasul Paulus membagikan pengalaman imannya, bahwa meski ia mengalami penderitaan dalam tugas pewartaan Injil, namun ia tetap dengan rela dan sukacita menanggungnya, dengan harapan akan menerima kehidupan kekal bersama Tuhan. Tentu menjadi bahan renungan kita bersama, apakah kita, yang saat ini sedang dirundung pandemi Covid-19 dan beban hidup lainnya, juga masih mampu  menjalani hidup ini dengan berpengharapan akan kekekalan hidup bersama Allah? Jika kita mampu menjalani hidup ini dengan menuruti kehendak Allah, yang menyirami dan memberi pertumbuhan pada diri kita, maka Allah akan memampukan kita untuk bertumbuh di tengah-tengah persoalan hidup, yang kelak pada saatnya Allah sendiri yang datang untuk memetik buah iman kita untuk hidup dalam kekekalan bersama Allah.

Semoga dengan sabda Tuhan hari ini, kita semakin diteguhkan bahwa kita tidak hanya berfokus pada pertumbuhan iman untuk kepentingan hidup yang fana ini, melainkan juga untuk hidup dalam kekekalan bersama Allah. Untuk itu, marilah kita senantiasa terbuka akan siraman dari Allah, agar kita dapat bertunas, bertumbuh serta berbuah, yang kelak Allah sendiri yang akan memetik buah-buah iman kita. Amin.

Antonius Purbiatmadi



Next article Next Post
Previous article Previous Post