MENGENAL SUARA TUHAN

Minggu, 17 Januari 2021
Minggu Biasa II
Bacaan: 1Sam. 3:3b-10.19; 1Kor. 6:13c-15a.17-20; Yoh. 1:35-42

Ada suara-suara yang khas, yang bisa membuat si pendengar itu segera bereaksi atau menanggapi. Misalnya saja, suara khas derap sepatu dari  pimpinan yang sedang berjalan menuju ruang kerjanya, ternyata mampu membuat ruangan kerja menjadi hening seperti suasana di kuburan. Padahal, sebelumnya mereka berisik dan mungkin membicarakan pimpinannya tersebut. Setiap kita pasti memiliki kemampuan dalam mengenal suara-suara yang khas, yang membuat kita sigap atau siap siaga untuk bersikap. Namun, bagaimana dengan kemampuan kita mendengar suara Tuhan?

Bacaan-bacaan Kitab Suci dalam perayaan Ekaristi pada hari Minggu Biasa Pekan Kedua ini berkaitan dengan kemampuan mendengar dan menanggapi suara Tuhan. Melalui sabda Tuhan hari ini, kita semua diajak untuk lebih mengenal  dan menanggapi dengan penuh iman akan suara Tuhan, terutama dalam situasi yang dipenuhi oleh rasa kecemasan, ketakutan bahkan hilang harapan akibat masalah hidup kita atau situasi pandemi Covid-19 ini. Melalui peristiwa iman atau pandemi Covid-19 ini, mungkin Tuhan hendak atau sedang berbicara kepada kita, umatNya.  Mungkin, pandemi ini  adalah cara Tuhan untuk  menyatakan kerinduanNya kepada kita. Karena, mungkin selama ini ternyata kita  tidak mampu untuk mengerti atau menanggapi kerinduan Tuhan dengan tepat !

Kita ini rasanya seperti Samuel, sebagaimana dikisahkan dalam bacaan pertama. Tuhan ingin sekali berbicara dengan Samuel, untuk menyatakan kehendakNya. Tuhan sendiri telah memanggil Samuel dengan namanya yang jelas sebanyak tiga kali. Dan Samuel memang mendengar suara Tuhan dengan jelas pula dan Samuel pun menanggapi suara Tuhan dengan tindakan segera. Namun, karena Samuel belum mengenal Tuhan, maka Samuel pun tidak tepat dalam menanggapi panggilan Tuhan. Ia mengira bahwa imam Eli yang memanggilnya (bdk. 1 Sam 3 : 8b). Seperti Samuel,  kita pun masing-masing dipanggil sebenarnya untuk dibentuk oleh Tuhan menjadi utusanNya guna   menjalankan tugas-tugas perutusan dari Tuhan.

Pengalaman menanggapi dari hasil “mendengar” juga dapat kita lihat dalam diri Andreas. Dalam bacaan Injil pada hari ini, dikisahkan Andreas, murid Yohanes Pembaptis, yang setelah mendengar apa yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis tentang Yesus, lalu Andreas pun  pergi bersama temannya untuk mengikuti Yesus. Andreas memiliki kemampuan mendengar dengan efektif, yang membuat ia mampu mengerti siapa Yesus, yang  telah Yohanes ajarkan. Memang berbeda dengan Samuel, karena Samuel belum tahu atau belum mengenal siapa Tuhan itu (vide 1Sam.3:7). Sementara Andreas, yang saat itu telah menjadi murid Yohanes Pembaptis, tentu ia sudah memiliki pengetahuan tentang Yesus, Mesias, berkat pengajaran Yohanes Pembaptis. Peristiwa ini menggambarkan bahwa telinga lahiriah Andreas telah membukakan  telinga  imannya. Tentu, ini menjadi suatu gambaran bagi kita bahwa    mendengar suara Tuhan itu penting bagi pertumbuhan iman kita. Bahwa kita haruslah peka untuk mendengar suara Tuhan. Kemampuan  mendengar dengan penuh iman itu mampu mengubah hidup, sebagaimana dialami oleh Andreas, yang semula sebagai murid Yohanes dan sebagai nelayan, kemudian Andreas menjadi murid Yesus dan menjadi penjala manusia (bdk.  Mat 4:19, Mrk. 1: 17).

Berbagai hal mungkin telah membuat telinga kita tidak peka lagi atau tidak mampu untuk mendengar suara Tuhan. Sebagai orang beriman, kita dituntut untuk memiliki kemampuan mendengar suara Tuhan, agar kita mampu untuk memenuhi kerinduan Tuhan, yang ingin berbicara dengan kita. Rasul Paulus, dalam bacaan kedua, mengingatkan dan menasihati kita untuk menjaga kesucian tubuh  kita, karena tubuh kita adalah anggota Kristus, bahwa tubuh kita  adalah bait Roh Kudus, tempat Tuhan berdiam bersama kita (bdk. 1Kor 6:15, 19). Melalui suratnya kepada jemaat di Korintus itu, Rasul Paulus mengajarkan kepada kita bahwa tubuh kita harus menjadi sarana yang benar untuk membawa kita kepada sikap hidup yang baik dan benar menurut Allah. Karena telinga adalah bagian dari tubuh kita, maka telinga kita pun harus kita jaga untuk tidak pernah boleh dijadikan sebagai alat keberdosaan. Mari kita hindari kebiasaan mendengar gosip-gosip,  berita-berita hoax, yang menyesatkan, atau hal-hal yang memfitnah, dsb. Sebab keberdosaan itulah yang menghambat kemampuan kita untuk mendengar bisikan Roh Kudus. Mari kita tanggapi seruan Rasul Paulus itu dengan menjauhkan diri kita dari setiap keberdosaan dan hendaknya kita gunakan tubuh kita untuk memuliakan dan melayani Tuhan.

Sebagai orang beriman, semoga dengan banyaknya persoalan di dalam hidup kita, terlebih dalam masa pandemi ini, kita menyadari diri bahwa Tuhan ingin menyatakan kehendakNya, berbicara kepada kita, atau Tuhan ingin bersama kita. Oleh karena itu, mari kita heningkan raga, heningkan pikiran, dan heningkan hati, supaya dalam keheningan dan  kejernihan iman, kita dapat mendengar suara Tuhan dan mampu menanggapi suara panggilanNya dengan tepat. Mari kita biasakan    menyediakan waktu khusus kita untuk bersama Tuhan dan mengarahkan hati kepada Tuhan, yang tinggal di dalam lubuk hati kita. Dan dalam keheningan diri, kita dengarkan suara bisikan  dan perkataan atau kehendak Tuhan. Ini hanya bisa kita lakukan bila kita terbuka hati dalam bimbingan Roh Kudus. Semoga Roh Kudus membimbing kita untuk mampu mendengar suara Tuhan. Amin. 
 
Semoga Tuhan memberkati kita dan Selamat Berhari Minggu.
 
Antonius Purbiatmadi
 


 

POPULAR