BERTOBAT: MENANGGAPI KASIH ALLAH

Minggu, 6 Desember 2020
Hari Minggu Adven II

Bacaan: Yes 40:1-5.9-11, 2Ptr 3:8-14, Mrk. 1:1-8

Kita sudah memasuki masa Adven. Yang harus kita pahami adalah bahwa masa Adven bukan saja dalam artian rentang waktu bagi kita untuk mempersiapkan dan menyambut perayaan Natal. Lebih dari itu, Adven adalah juga suatu rentang waktu bagi kita untuk menantikan kedatangan kedua dari Tuhan Yesus ke dunia. Kalau kedatanganNya yang pertama itu kita kenangkan dan kita rayakan pada perayaan Natal. Dan kemudian  lewat sengsara, wafat serta kebangkitanNya, Yesus menebus umat manusia dari keberdosaan. Sedangkan adven kedua atau kedatanganNya kembali  kelak adalah untuk menghakimi umat manusia dan menyelamatkan kita dari hukuman kekal.

Sebagaimana kalau kita akan menyambut kedatangan tamu istimewa, tentulah kita mempersiapkan  diri tidak saja yang sifatnya lahiriah, misalnya kebersihan rumah, sajian jamuannya, dll., tetapi juga suasana hati kita. Bacaan-bacaan Kitab Suci pada Minggu Adven II ini mengajak kita untuk melakukan persiapan hati kita dalam menyambut kedatangan Tuhan dengan pertobatan diri. Pertobatan adalah jalan persiapan iman kita, yang kita lakukan sebagai ungkapan menanggapi kesetiaan kasih Allah untuk menyambut kedatangan Tuhan. Dalam tradisi Gereja kita, pada Minggu Adven II kita nyalakan lilin ungu kedua, yang melambangkan kesetiaan dan cinta Allah kepada umatNya. Untuk itu kita juga harus menanggapi kesetiaan dan kasih Allah dengan pertobatan diri untuk menyambut kedatangan Yesus, PutraNya.

Ajakan untuk menanggapi kasih Allah dengan pertobatan diri dalam menyambut kedatangan Tuhan telah diserukan oleh nabi Yesaya, sebagaimana kita baca atau dengarkan dalam bacaan pertama dan oleh Yohanes Pembaptis, dalam bacaan Injil pada hari ini: ”Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan. (bdk. Yes. 40:3-4, Lukas 3:4). Seruan dari nabi Yesaya tersebut oleh Yohanes Pembaptis dipertegas  bahwa hendaknya kita bertobat dengan memberi diri kita untuk diperbaharui oleh Allah dengan pengampunanNya atas dosa kita  (Mrk 1:4). Rasul Petrus, dalam bacaan kedua, juga mengajak supaya kita semua orang untuk bertobat dan berpaling kembali kepada Allah. Allah menghendaki supaya jangan ada dari kita yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat (bdk. 2Ptr. 3:9).

Seruan-seruan untuk bertobat, baik dari nabi Yesaya, Yohanes Pembaptis maupun Rasul Petrus, semua itu mengajak kita untuk meninggalkan keberdosaan kita, yakni gunung dan bukit kesombongan, lembah hati yang penuh dendam, iri hati, percabulan, dll., maupun jalan hidup kita yang sering menjauh dari kasih Allah. Kita semua diajak untuk menanggapi kasih Allah itu lewat pertobatan diri, agar kita layak dan siap menyambut kedatangan Yesus kembali. Dengan pertobatan kita dan pengampunan dari Allah, maka kita akan mengalami perdamaian dengan Allah, yang digambarkan oleh nabi Yesaya, Allah sebagai seorang gembala yang menggembalakan kawanan ternakNya dan menghimpunkannya dengan tanganNya; anak-anak domba dipangkuNya, induk-induk domba dituntunNya dengan hati-hati (bdk. Yes 40:11). Memang tidak mudah bagi kita untuk meninggalkan gunung dan bukit serta jalan lika-liku hidup kita yang penuh dengan keberdosaan. Namun demikian, Rasul Petrus menasihati agar kita harus berusaha, supaya ketika hari Tuhan yang akan  tiba seperti pencuri, kita kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapanNya, sehingga kita mengalami perdamaian dengan Allah (bdk. 2Ptr 3:14). Yohanes Pembaptis pun mengajak kita untuk membersihkan diri melalui pertobatan dan bimbingan Roh Kudus (bdk. Mrk 1:8).

Mari kita tanggapi tawaran kasih Allah itu selain dengan pertobatan diri dengan menerima sakramen rekonsiliasi, kita juga melakukan pertobatan ekologis. Sejalan dengan seruan AAP tahun ini dari keuskupan Bogor, bahwa pertobatan ekologis dapat kita mulai dari hal yang sederhana. Misalnya, kita membangun kesadaran diri bahwa di balik sebutir nasi yang sampai di meja kita, yang ada di depan kita dan siap untuk kita santap itu, ada kerja keras dan keringat banyak orang. Oleh karena itu, jangan menyia-nyiakan makanan, membuang makanan begitu saja. Jika kita menyia-nyiakan dan membuang makanan, itu sama saja kita  tidak menghargai jerih payah orang-orang yang telah menyediakan sebutir nasi itu untuk kita. Dan saat ini adalah kesempatan baik bagi kita untuk melakukan pertobatan diri sebagai bentuk menanggapi kasih Allah tersebut. Nah, sebagai orang beriman, bagaimana dengan tawaran kasih Allah lewat sakramen rekonsiliasi, yang telah diberikanNya melalui Gereja? Bentuk pertobatan lain apa yang bisa kita lakukan? Semoga dengan menanggapi kasih Allah lewat pertobatan diri itu, kita akan mengalami pemulihan dan perdamaian hati dengan Allah yang penuh kasih sehingga kita mengalami kegembiraan menyambut kedatangan kembali Tuhan. 

Semoga Tuhan memberkati kita dan Selamat Minggu Adven Kedua.

Antonius Purbiatmadi



 

POPULAR