BERSIAP DIRI DALAM KEBIJAKSANAAN IMAN

Minggu Biasa XXXII
Bacaan: Keb. 6:13-17, 1Tes. 4:13-18, Mat. 25:1-13.

Hari Minggu yang lalu kita memperingati Hari Raya Semua Orang Kudus, untuk menghormati para saksi iman yang mati bagi Kristus dalam usahanya mewartakan iman akan Yesus Kristus. Mereka telah berbahagia dan memandang kemuliaan Allah di sorga. Lalu, di hari berikutnya bersama seluruh umat beriman kita mengenang dan mendoakan arwah semua orang beriman, yakni saudara-saudara kita yang telah meninggal namun masih berada di Api Penyucian.  Mereka ini yang kita doakan lewat doa novena bagi arwah dan permohonan indulgensi. Bahwa selama bulan Nopember ini kita diajak secara khusus untuk berdoa  memohon kerahiman Allah atas jiwa-jiwa mereka yang masih di Api Penyucian. Kita pun pada suatu saat akan mengalami seperti mereka. Kita percaya bahwa hidup atau mati, kita tetap milik Kristus. Tapi bagaimana dengan kesiapan diri kita supaya kita pantas dan layak hidup dalam persekutuan para kudus dan dibebaskan dari segala hukuman atas dosa-dosa kita serta diperkenankan melihat wajah kemuliaan Allah?

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari Minggu Biasa Pekan XXXII ini berkisar tentang kebijaksanaan dalam hidup untuk menyambut kedatangan Tuhan pada akhir jaman. Kebijaksanaan adalah kualitas pribadi  kita dalam menggunakan akal budi, pengetahuan dan pengalaman  untuk bertindak menghadapi hal-hal yang sulit dan penting. Contoh sikap kebijaksanaan dapat kita pahami seperti yang digambarkan dalam  perumpamaan dari bacaan Injil hari ini. Yakni tentang lima  gadis yang bijaksana dan lima gadis yang bodoh. Tindakan menunggu sesuatu yang tidak jelas kapan saatnya datang adalah hal yang sangat membosankan diri. Dalam situasi demikian, diperlukan sikap bijaksana. Dalam bacaan Injil dikatakan bahwa karena  datangnya mempelai yang tidak diketahui dengan pasti, disikapi dengan cara berbeda oleh para gadis. Gadis-gadis yang bijaksana menyikapinya dengan  menggunakan akal budinya dan bertindak mempersiapkan diri dengan membawa pelita bersama minyak dalam buli-bulinya. Sedangkan, gadis yang bodoh tidaklah demikian. Ketika sang mempelai datang, gadis-gadis yang bijaksana selamat dan mendapat kesempatan untuk menikmati perjamuan nikah. Sementara gadis-gadis yang bodoh, karena kebodohannya, tentu saja mengalami kesusahan. Sikap gadis-gadis yang bijaksana, yang dalam bacaan pertama, adalah orang yang berjaga-jaga atau mempersiapkan diri karena kebijaksanaan yang membebaskan dari kesusahan  (bdk. Keb. 6:15)

Perumpamaan yang disampaikan  hari ini adalah menggambarkan Yesuslah Sang Mempelai yang dimaksudkan dalam bacaan Injil. Hal kedatangan kembali Tuhan,  tidak tahu kapan saatnya tiba. Tidak seorang manusia pun di dunia ini tahu, malaikat pun tidak juga. Demikian halnya Yesus sendiri pun juga tidak tahu kapan jadwal untuk datang lagi yang ke dua ke dunia kita nanti. Hanya Allah Bapa yang tahu dan yang mengutusNya pergi ke dunia lagi.  Dalam hal ketidak-pastian akan kedatanganNya lagi itu, Yesus hanya menghendaki para murid dan pengikutNya untuk selalu berjaga-jaga, mempersiapkan diri menyambutNya. Hal itu berulang kali Yesus katakan kepada para murid dan pengikutNya.

Apa maksud dan tujuan  kedatangan kembali Yesus kelak, menurut Rasul Paulus, seperti kita dengarkan dalam bacaan kedua, adalah untuk mereka yang telah meninggal dalam Yesus, baik yang sudah lebih dahulu meninggal maupun yang masih hidup ketika Kristus datang, kedua-duanya akan dikumpulkan oleh Allah untuk dipertemukan dengan Yesus  dan tinggal bersama-Nya selama-lamanya (bdk. 1 Tes. 4:14-17). Penjelasan Rasul Paulus ini tentu menjadi bahan permenungan kita bersama untuk memiliki sikap iman yang bijaksana dalam menyambut kedatangan Tuhan kelak. Bahwa kita  mati atau hidup semuanya kita alami. Rasul Paulus menghendaki agar kita memiliki pengharapan dan percaya akan pemberitaannya tentang hidup kembali  bersama Tuhan. Ketika Tuhan datang yang kedua kali nanti, kita orang beriman yang sudah mati akan dibangkitkan dan beroleh tubuh kebangkitan Tuhan dan hidup bersamaNya (bdk. 1Tes 4:17-18).

Benarlah bahwa bacaan-bacaan liturgi pada hari Minggu ini tentang sikap kebijaksanaan dalam hidup beriman untuk menyambut kedatangan Tuhan pada akhir jaman kelak. Hal yang dapat kita catat untuk permenungan kita adalah bahwa  kisah perumpamaan tentang sepuluh gadis ini mengajak kita sebagai orang beriman untuk selalu memperhatikan keadaan hidup rohani atau iman kita masing-masing dalam menghadapi kedatangan Tuhan, yang waktunya tidak diketahui dan tidak diduga. Kita  harus senantiasa  bertekun dalam iman supaya bila saat kedatanganNya itu tiba, kita bisa masuk ke dalam ruang perjamuanNya dan diterima oleh Tuhan (bdk. Mat 15:10). Karenanya kita perlu selalu siap diri dengan memelihara hubungan pribadi kita dengan Tuhan, entah lewat doa,  mendalami Kitab Suci, berbuat amal baik, dll. Jika kita mengabaikan atau lalai dalam kesiapan diri dan tidak  memelihara hubungan yang baik dengan Tuhan secara pribadi, maka pada saat kedatangan Tuhan kembali, pastilah kita tidak akan dikenal oleh Tuhan dan kita akan  jauh dari perjamuan sorgawiNya. Semoga dengan sabda Tuhan hari ini, iman kita semakin diteguhkan untuk bersikap bijaksana menyambut kedatangan Tuhan. Semoga Tuhan memberkati kita dan Selamat Berhari Minggu.

Antonius Purbiatmadi 

 



POPULAR