KASIH ADALAH PROTOKOL KESEMPURNAAN HIDUP

Minggu Biasa XXX

Bacaan: Kel. 22:21-27, 1Tes 1:5c-10, Mat 22:34-40

Kita sering mendengar istilah atau kata protokol. Maksud atau tujuan dibuat protokol kesehatan dalam masa pandemik Covid-19 ini, hal pertama dan utama, adalah  agar kita  selamat dari Covid-19. Protokol utamanya adalah bermasker, menghindari kerumunan orang banyak, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Protokol berikutnya yang harus kita biasakan antara lain makan bergizi, berolahraga, menjaga kebersihan lingkungan, dll.

Dalam bacaan Injil  hari ini, Yesus mengajarkan tentang protokol untuk  mencapai kesempurnaan hidup dan  keselamatan kekal. Di hadapan orang Farisi dan ahli Taurat, Yesus menjawab dengan tegas bahwa untuk mencapai ke kesempurnaan hidup dan keselamatan kekal, setiap orang harus mampu menjalankan protokol hukum yang utama  yakni kasih.    Protokol yang utama dan pertama itu adalah kasih terhadap  Allah. Protokol ini harus dibiasakan untuk dilakukan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa serta dengan segenap akal budi (bdk. Mat 22:37).  Jadi, protokol yang utama dan pertama ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, tidak setengah hati atau kalau hanya ada maunya. Protokol utama dan pertama ini adalah dasar dari seluruh kehendak Tuhan. Yang diminta oleh Tuhan bagi setiap dari kita adalah supaya kita mengimani bahwa Allah adalah kasih, dan kasih itu adalah Allah. Di dalam diri Allah ada hukum kasih. Hukum kasih harus kita laksanakan sesuai dengan kehendak Allah. Sikap dan tindakan  kita dalam menjalankan hukum Allah adalah perwujudan kasih kita kepada Allah. Bentuk kasih kita kepada Allah, misalnya, setia menjalankan perintah dan laranganNya seperti yang tercantum dalam sepuluh perintah Allah, menyediakan waktu khusus untuk bersama Tuhan  dalam doa pribadi, doa bersama keluarga atau komunitas, membaca Kitab Suci, meditasi pribadi, dll. Bentuk kasih kita kepada Allah tersebut tentunya harus kita lakukan dengan sepenuh hati dan tulus.

Untuk melengkapi protokol utama, maka diperlukan protokol berikutnya  yaitu mengasihi sesama, seperti mengasihi diri sendiri (bdk. Mat. 22:39). Jika protokol pertama dan utama itu ditujukan terhadap Allah, Yang Tak Terlihat, protokol yang kedua ini berhadapan langsung secara lahiriah terhadap sesama kita. Rasa-rasanya protokol ke dua ini  juga tidak mudah untuk dilakukan. Pengertian kasih dalam protokol kedua ini bukan dalam artian kita jatuh cinta atau menaksir lawan jenis, lalu kemudian menjadi pasangan hidup kita. Kasih dalam protokol ke dua ini adalah bentuk kasih, yang bersumber dari sifat dan sikap Allah sendiri.  Kita tahu, sifat dan sikap Allah tidak memusuhi kita manusia. Meski pun kita berdosa berat, Allah tidak menjauhi kita, tetapi justru mendatangi kita supaya kita mengalami kasih pengampunanNya. Dengan memperhatikan sikap dan sifat Allah yang maha pengampun itu, adakah kita juga mau mengampuni sesama yang berbuat salah kepada kita? 

Kita tentu tahu bahwa Yesus mengajarkan untuk berbuat kasih terhadap sesama, termasuk terhadap mereka yang memusuhi kita, lalu kita diminta untuk mendoakan yang membenci kita. Apa yang Yesus katakan atau ajarkan tentang mengasihi dan mengampuni musuh, Yesus sendiri juga praktekkan. Yakni, ketika Yesus tergantung di kayu salib, Yesus mengampuni seorang dari mereka yang disalibkan dan menjanjikan hidup bahagia bersama Yesus di Firdaus. Jadi, misalnya pasangan kita selingkuh, sanggupkah kita mengampuni dan mendoakan pasangan kita? Atau, karena sakit hati, lalu kita balas ganti dengan tindakan berselingkuh juga? Ajaran Yesus tentang hukum kasih memang tidak ringan. Kasih menuntut sikap kemurahhatian untuk peduli terhadap orang lain. 

Apa yang diajarkan Yesus dalam bacaan Injil pada hari ini tentang hukum kasih, ternyata dalam sejarah perjalanan hidup bangsa Israel, hukum protokol kasih itu sudah diberlakukan. Seperti dalam bacaan pertama, yang menggambarkan pelaksanaan protokol hukum kasih, yang ditunjukkan oleh bangsa Israel dengan sikap untuk berbuatan baik atau kasih  dengan memperlakukannya  terhadap orang-orang yang tidak mampu dan orang asing serta semua orang tanpa membeda-bedakan (bdk. Kel. 22: 27b). Dengan memberlakukan kasih terhadap sesama mereka yang tidak mampu, yakni para janda dan yatim atau orang asing, itu adalah suatu sikap hidup  yang juga mewujudkan hukum kasih terhadap Allah. 

Dari apa yang kita dengarkan dari sabda Tuhan hari ini, semoga kita semakin memahami bahwa mengasihi Tuhan dan sesama adalah hal yang tak terpisahkan satu sama lain. Kita tak bisa cukup taat dan setia menjalankan hukum kasih demi Tuhan saja, namun mengabaikan relasi kasih kita dengan sesama. Demikian, hal sebaliknya. Perbuatan kasih kita kepada Tuhan secara nyata dapat terlihat dalam perbuatan kasih kita terhadap sesama. Karena kasih itu bersumber dari Tuhan sendiri, maka hendaknya pertama-tama dan terutama kita tujukan kepada Tuhan, lalu mengalir untuk mengasihi sesama kita. Jika kita melakukan protokol kasih dari Tuhan itu, maka sebenarnya Tuhan mempergunakan kita sebagai alat-Nya dalam pewartaan dan pelaku hukum kasihNya.  Menurut Rasul Paulus, seperti kita dengarkan dalam bacaan kedua, bahwa hukum dan perbuatan kasih adalah alat Tuhan supaya kita  menjadi teladan hidup bagi semua orang, sehingga membuat banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. Harapan Rasul Paulus, bahwa dengan melaksanakan hukum kasih Tuhan tersebut, maka akan menampakkan hidup iman kita yang sesungguhnya kepada Allah (bdk. 1Tes 1:7-8).

Perintah atau hukum mengasihi Tuhan dan sesama memang merupakan  keutamaan hidup beriman kita. Untuk menghayati atau melaksanakan hukum kasih itu tentulah tidak gampang. Hari ini, melalui FirmanNya, Tuhan mengingatkan kita akan kehadiran kasihNya dalam diri kita dan sesama. Ketika kita mampu melaksanakan hukum kasih Tuhan itu, sebenarnya karena Tuhan telah mengasihi kita terlebih dahulu. Dengan demikian, maka kita harusnya  terlebih dahulu mengasihi Allah, lebih dari yang lainnya.  

Jika selama masa pandemi ini kita diajak untuk selamat dari  penyebaran virus Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan, maka demi peroleh keselamatan dan  kesempurnaan hidup kekal, mari kita laksanakan protokol hukum kasih Tuhan, yakni mengasihi Tuhan dan sekaligus sesama kita.

Semoga Tuhan memberkati kita dan Selamat Berhari Minggu.

Antonius Purbiatmadi




POPULAR