CARA BIJAK MENASEHATI ORANG LAIN

Minggu Biasa XXIII
Bacaan: Yeh 33:7-9, Rom 13:8-10, Mat 18:15:20

Siapa yang tak dengar viralnya film pendek “Tilik”, yang belakangan ini banyak dibicarakan netizen?. Di media sosial Facebook atau group WA, banyak yang masih membahas tokoh fenomenal, yakni bu Tejo, si ratu ghibah. Dalam film itu, bu Tejo bersama ibu-ibu dari desanya  berada di dalam truk sedang dalam perjalanan ke kota untuk menengok bu Lurah yang sedang dirawat di rumah sakit. Seperti pada umumnya, jika bepergian bersama-sama dengan orang banyak, maka  untuk menghilangkan kepenatan atau kebosanan selama dalam  perjalanan,  biasanya ada-ada saja topik pembicaraan. Di sepanjang perjalanan,  pembicaraan mereka  tentang Dian. Tidak tahu persis bagaimana sebenarnya sosok Dian, namun mungkin hanya berdasarkan  desas desus atau isu-isu sedikit saja, bu Tejo mampu untuk memancing ibu-ibu lain agar bersemangat  dan ramai membicarakan, menghakimi atau memberi cap negatip pada diri Dian.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita berkecenderungan untuk  lebih suka membicarakan aib atau kejelekan orang lain, bahkan berani menghakimi orang lain. Sangat sulit bagi kita untuk mampu menjadi pendengar yang empatik, bersikap netral atau sebagai orang yang mampu  memberi tegoran atau nasihat untuk meluruskan isu-isu atau berita yang tidak benar. Menegur atau memberi nasihat kepada orang lain memang bukan hal mudah dan mengenakkan. Jika kita ingin menegur atau memberi nasihat, maka mengandaikan kita ini harus terlebih dahulu memiliki sikap yang benar. Sebab mereka yang kita tegor atau nasihati belum tentu menerimanya. Bahkan mereka akan balik menasihati atau menegor kita, ‘Apakah dirimu lebih baik dari diriku?”.

Seperti pada umumnya, orang tidak mau dinasihati atau ditegor di hadapan banyak orang. Hal itu dirasakan seolah-olah banyak orang ikut memberi nasihat atau tegoran, bahkan ikut menghakiminya ramai-ramai. Dalam bacaan Injil pada hari ini Yesus mengajarkan cara menasihati atau menegor orang lain secara bijak. Tujuan Yesus mengajarkan cara bijak ini agar orang yang dinasihati atau ditegor dapat kembali ke sikap hidup yang benar dan baik. Dalam kontek hidup beriman, ajaran Yesus dimaksudkan agar kita ikut bertanggung jawab  untuk membawa kembali “domba yang tersesat”, dan menjaga suasana damai, bahagia dalam hidup kita menggereja.

Supaya tegoran atau nasihat kita memberi perubahan positip pada diri orang yang salah, kita perlu lakukan dengan cara-cara yang bijak. Cara bijak menasihati orang lain, menurut Yesus adalah pertama tegoran harus dilakukan di bawah empat mata. Hal itu agar supaya jangan sampai tegoran itu membuat kita bermaksud mempermalukannya (ay. 15). Jika pada langkah awal ini, ia tidak mau mengakui kesalahannya atau menolak untuk upaya-upaya perbaikan sikap seperti yang kita kehendaki, maka kita dapat lakukan langkah berikutnya, yakni membicarakan bersama dengan 1 atau 2 orang yang bijak lainnya. Jika kita nasihati di hadapan tambahan orang lain, kita berharap orang itu akan lebih mau mendengarkan nasihat kita. Seperti kata peribahasa “Plus vident oculi quam oculus”, yang artinya kurang lebih bahwa jika banyak saksi melihat  maka lebih menguatkan daripada hanya satu saksi. Maka kehadiran orang bijak lain, sebagai pihak yang tidak memihak, mungkin bisa membuatnya mengakui kesalahannya dan ada niat untuk berbalik baik.
 

Karakter orang memang berbeda satu sama lainnya. Ada orang yang bersikap keras kepala, di mana nasihat atau tegoran yang disampaikan baik secara pribadi atau di hadapan sedikit orang lain pun tidak ditanggapi dengan baik. Jika sudah demikian, maka kita perlu minta bantuan dan membicarakannya dengan melibatkan banyak pihak lain yang lebih berkompeten. Jika banyak orang sudah menasihati, namun ia tetap tidak mau berubah, ya sudah kita serahkan kepada Tuhan. Kita hanya bisa berdoa saja. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa ada kuasa besar dalam doa kita bersama. Allah selalu siap menjawab doa-doa dari umatNya (ay. 19).

Bahwa setiap kita memiliki ketercelaan atau bahkan keberdosaan. Melalui ajaran Yesus hari ini kita diajak untuk tidak bersikap seperti bu Tejo dalam film pendek “Tilik” itu. Sebaliknya, seperti diungkapkan dalam bacaan Kedua, pesan Rasul Paulus kepada jemaatnya di Roma, agar kita mau mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Perbuatan kasih kita itu diharapkan dapat membawa kembali kepada sikap perbuatan baik. Ajaran Yesus dalam hal menasihati saudara kita yang bersalah adalah agar ia mau berubah baik atau bertobat, sehingga ia akan peroleh keselamatan. Sebagai orang beriman, tugas kita adalah  membantu untuk memperingatkan orang yang bersalah itu supaya bertobat dari hidupnya, Dalam bacaan Pertama, nabi Yeheziel membawa pesan moral agar kita memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya. Tetapi jika ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, dan kita telah menyelamatkan hidup kita sendiri (bdk. Yeh 33:9). Sebagai orang beriman, semoga kita mampu mewujudkan ajaran Tuhan itu dalam kehidupan nyata kita sehari-hari. 

Semoga Tuhan memberkati kita dan selamat berhari Minggu.

Antonius Purbiatmadi


 

POPULAR