TENANGLAH! JANGAN TAKUT!

Minggu Biasa XIX

Bacaan: 1Raj. 19:9a,11-13a;  Rm. 9:1-5; Mat. 14:22-33

Siapa pun tak ada yang menyangka bahwa pandemi Covid-19 ini membuat seluruh dunia masih mengalami ketakutan. Ada yang menganggap bahwa saat ini memang era New Normal, yakni kenormalan baru kita dalam bingkai ketakutan.  Sekali pun banyak orang yang (sok) berani, itu pun tampaknya demi viral atau popularitas diri. Dalam hati kecilnya  pun mungkin tetaplah ada rasa keprihatinan dan ketakutan akan dampak dari pandemi ini.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari Minggu Biasa Pekan XIX ini berbicara  tentang rasa ketakutan  ketika  mengalami atau menghadapi peristiwa atau masalah berat. Dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan para murid yang berada dalam perahu yang diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Para murid pernah mengalami hal serupa, di mana saat mereka berada di perahu, sekonyong-konyong mengamuk angin ribut, yang membuat perahu itu ditimbus gelombang (bdk. Mat 8:23-27). Meski mereka adalah nelayan yang berpengalaman, namun ombang-ambingan gelombang tetaplah membuat mereka gelisah dan menimbulkan ketakutan. Seperti dalam perikop Injil hari ini, para murid berteriak-teriak karena ketakutan saat melihat Yesus berjalan di atas air, yang mereka kira hantu. Hati mereka menjadi tenang ketika Tuhan berkata kepada mereka, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (bdk. Mat 14:27). 

Peristiwa terombang-ambingnya para murid tersebut dapat memberi gambaran bahwa kita pun sering terombang-ambing di tengah persoalan atau masalah,  yang membuat hidup kita seakan-akan bergerak tanpa arah tujuan yang jelas dan menakutkan. Sering kita mengaku diri sebagai orang beriman. Namun, dalam kenyataannya ketika mengalami sakit penyakit yang tak tersembuhkan, atau persoalan yang selalu datang silih berganti, ternyata  iman kita pun ikut terombang-ambing. Dalam situasi demikian, kita pasti mengalami ketakutan. Jika kita dikuasai ketakutan, maka kita tidak akan mampu merasakan kehadiran Tuhan. Namun, ketika dalam keadaan kritis, barulah kita sadar dari rasa ketakutan, bahwa kita perlu pertolongan Tuhan!. Seperti Petrus, yang ketakutan akan jatuh tenggelam, justru membuat dirinya jatuh ke air. Dalam situasi kritis seperti itu, lalu barulah ia berteriak minta tolong, “Tuhan, tolonglah aku!” (bdk. Mat 14:30). Yesus yang mengulurkan tanganNya dan menyelamatkan Petrus, membawa pesan bagi kita bahwa ketika kita jatuh dalam pergumulan penderitaan atau badai hidup apa pun, Tuhan tetap memperhatikan dan mau mengulurkan tanganNya untuk menolong kita.

Pengalaman akan ketakutan  juga dialami oleh nabi Elia dan Rasul Paulus.Seperti dalam bacaan pertama, digambarkan tentang nabi Elia yang mengalami kesendirian dan kesepian di dalam  gua di gunung Horeb. Di tempat itu, Elia meratapi nasibnya di hadapan Tuhan. Elia merasa ketakutan, karena telah membunuh banyak nabi, sehingga ia pergi menyelamatkan nyawanya sampai ia bersembunyi  dalam sebuah gua di gunung Horeb. Dalam situasi ketakutan itu  Tuhan datang mengunjunginya lewat malaikatNya. Malaikat Tuhan datang membawakan makan dan minum untuk Elia (bdk. 1Raj 19:5-8). Tuhan hadir, yang disertai angin besar, gempa bumi, dan api, tetapi Tuhan tidak ada secara fisik di dalam semua peristiwa itu. Elia hanya merasakan kehadiran Tuhan ada  dalam bentuk "angin sepoi-sepoi basa" (bdk. 1Raj 19:12). Kehadiran Tuhan tersebut,  oleh nabi Elia dipahami bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan dirinya, walau ia mengalami tekanan dan  ancaman sekali pun. 

Seperti nabi Elia, Rasul Paulus pun mengalami kesendirian dan kesepian diri. Dalam bacaan kedua dikisahkan Paulus rela untuk dikucilkan dari kumpulan orang percaya, dipisahkan dari jemaat dan persekutuan. Hal itu dikarenakan pewartaan yang dilakukannya ternyata  ditolak oleh orang-orang Yahudi. Mereka tidak mau percaya akan Injil yang diwartakannya. Sikap penolakan dari orang-orang Yahudi tersebut membuat Paulus merasa  sangat berdukacita dan selalu bersedih hati (bdk. Rom 9:2).

Dari bacaan Kitab Suci hari ini, hal utama yang dapat kita petik sebagai pembelajaran iman kita adalah bahwa ketika kita mengalami peristiwa yang membuat kita ketakutan, janganlah jadi orang yang kurang percaya dan bimbang hati (bdk. Mat. 14:31). Di saat krisis iman dan bimbang hati, hendaknya kita ingat seruan Yesus, “Tenanglah! Akulah ini, jangan takut” Seruan Yesus tersebut  sungguh-sungguh memberi kekuatan iman kita untuk “melihat” uluran tangan Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan selalu mengulurkan tanganNya dan menolong kita.

Semoga Tuhan memberkati kita dan Selamat Berhari Minggu.

Antonius Purbiatmadi


POPULAR