MENGIMANI YESUS, SANG MESIAS, KUNCI RAHASIA ILAHI

author photo August 22, 2020

Hari Minggu Biasa XXI
Bacaan: Yes 22:19-23, Rom 11:33-36, Mat 16: 13-20.

Menjadi orang yang terkenal itu bisa dengan aneka cara. Seperti contoh beberapa waktu lalu viral tentang seorang pesilat perempuan dari Lampung. Sosok pesilat itu, sebut saja nama dia Chintya, banyak diperbincangkan di kalangan netizen, karena ia sering memviralkan ketrampilannya berbeladiri dan memamerkan kesaktiannya di medsos. Namun, ada yang meragukan sosok diri Chintya. Dia  dituding bahwa aksi-aksi kesaktian, yang dapat kita lihat di chanel youtubenya, itu bohong dan diduga menggunakan trik-trik kamera, dsb. Atas aksinya itu, ada orang-orang yang membuat gerakan untuk membuktikan kebohongan Chintya.  

Setiap orang bisa seperti Chintya, yang ingin menjadi orang terkenal. Namun, kadang ada yang salah cara dan arah, sehingga ia tidak menjadi orang yang terkenal, dalam artian yang positip, tetapi malah namanya jadi tercemar. Memang, menjadi orang terkenal itu tentu membawa konsekuensi pada diri sendiri. Karena sudah menjadi orang yang terkenal, maka setiap orang akan punya persepsi, pendapat atau penilaian atas sosok dirinya.

Bacaan Injil pada hari ini tentang persepsi, pendapat atau penilaian dari para murid Yesus terhadap jati diri Yesus. Dari sabda Tuhan hari ini, kita pun diajak juga untuk kembali melihat dasar iman kita, "Siapakah diri Yesus, menurut diriku sendiri?". Perikop bacaan Injil ini merupakan rangkaian perikop sebelumnya, tentang sikap iman dari orang Farisi dan orang Saduki terhadap diri Yesus. Mereka mencobai Yesus untuk minta tanda agar mereka yakin bahwa Yesus itu adalah sungguh Mesias, yang diperbincangkan oleh banyak orang (lih: Mat 16:1-4).  Atas sikap orang Farisi dan Saduki, Yesus mengingatkan para muridNya untuk bersikap hati-hati terhadap mereka. Yesus berpesan agar para muridNya waspada terhadap ajaran orang Farisi dan orang Saduki (lih. Mat 16:5-12).

Dalam banyak kesempatan, para murid selalu bersama Yesus. Tentu mereka mengetahui apa yang Yesus ajarkan, katakan dan perbuat bagi banyak orang, termasuk ketika Yesus berhadapan dengan orang-orang Farisi dan Saduki. Pengajaran dan perbuatan baik Yesus yang dilakukan di mana-mana membuat Yesus menjadi terkenal dan sudah menjadi public figure. Akibatnya, tentu orang banyak itu memiliki berbagai pikiran, persepsi atau pendapat mereka tentang jatidiri Yesus. Dapat kita baca di bagian lain dari Injil, bahwa mereka yang mengalami kebaikan hati Yesus, misalnya kesembuhan atau mukjizat yang dilakukan Yesus, mereka menjadi percaya dan mengimani Yesus. Namun, bagi yang tidak mau mengakui Dia sebagai Mesias, pikiran dan tindakannya akan terus mencari-cari siapakah sebenarnya diri Yesus itu.

Yesus tahu bahwa para murid selalu bersamaNya. Walau demikian, belum tentu mereka mengenal siapa diri Yesus sesungguhnya menurut kacamata iman para muridNya. Untuk itu, seperti dapat kita baca dalam  Injil hari ini, Yesus menguji para muridNya dengan mengajukan pertanyaan penggerak yang mendasar, yaitu "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" dan "Apa katamu, siapakah Aku ini?".  Yesus menanyakan hal itu kepada para muridNya, bukan karena Yesus tidak tahu jawaban mereka, melainkan Yesus ingin  mengetahui seberapa sungguh mereka mengenal diriNya. Jangan-jangan para murid memiliki anggapan, pandangan atau pikiran yang sama dengan mereka yang selama ini mengikutiNya. Jawaban yang diharapkan Yesus dari para muridNya itu  bukan untuk supaya Ia mendapatkan pujian, legitimasi atau hal sejenisnya. Yesus tidak gila hormat atau jabatan,  sehingga Ia harus mendapatkan pengakuan dari para muridNya.

Maksud Yesus mengajukan pertanyaan tersebut adalah untuk membuat para murid-Nya berpikir kembali secara sungguh-sungguh tentang DiriNya berdasarkan pengalaman hidup mereka sendiri. Bukan, karena  terpengaruh oleh pendapat banyak orang. Melalui pertanyaan "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" dan  "Apa katamu, siapakah Aku ini?", Yesus hendak mengajak para muridNya untuk fokus atau memusatkan perhatian pada pengenalan akan diri Yesus yang sesungguhnya. Asumsi Yesus, bahwa karena mereka sangat dekat dengan DiriNya, maka dari para muridlah Yesus ingin dapatkan  pernyataan iman yang mendasar, yang melebihi pendapat atau pandangan daripada apa kata orang lain tentang DiriNya itu.

Dalam percakapan Yesus dengan para muridNya itu, Yesus memang tidak  memberitahukan dengan  terus terang siapa jatidiriNya yang sesungguhnya. Melalui dialog dengan para muridNya, Yesus  membiarkan mereka untuk kembali mengingat pengajaran dan perbuatan-perbuatanNya bagi banyak orang selama ini, sehingga para murid mampu menyimpulkan sendiri tentang sosok pribadiNya. Yesus hanya ingin mengetahui apakah mereka mampu untuk memberi kesimpulan tentang iman yang mendasar. Yesus berharap, jika mereka sungguh mengenalNya sebagai Mesias (ay. 20), maka dengan iman yang mendasar itu, mereka kelak akan dengan mudah untuk mewartakan, mengajar atau mengenalkan tentang DiriNya kepada banyak orang, sehingga orang banyak itu menjadi percaya padaNya.

Dari dialog dengan para muridNya, Yesus mendapatkan kesimpulan tentang  dasar iman  mereka,  yang disampaikan oleh Petrus, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (ay. 16). Untuk memberikan jawaban yang tegas dan penuh iman itu, kita bisa membayangkan bagaimana sikap Petrus, yang mewakili para murid dan kita. Tentu Petrus berjuang untuk meyakinkan dirinya bahwa   Yesus sungguh  Mesias, Anak Allah yang hidup. Pernyataan sikap iman Petrus bukanlah  hasil dari buah pikiran rasional, akal budi atau pengetahuannya berdasarkan pendapat orang lain. Juga bukan karena hal yang sekedar untuk menyenangkan hati Yesus, karena Petrus dan para murid lain sudah rela meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus (baca: Mat 19:27). Jawaban Petrus adalah hasil dari pergumulan iman mereka. Melalui jawaban Petrus, Yesus menilai bahwa para murid sudah memiliki kematangan dan ketajaman rohani.  Yesus menilai bahwa pernyataan iman Petrus itu  bersumber dari Allah (ay. 17). 

Yesus sudah yakin akan iman para muridNya, bahwa mereka tidak lagi menganggap DiriNya sebagai Mesias atau Raja untuk membawa kembali kejayaan bangsa Israel seperti yang mereka harapkan, melainkan Mesias yang datang dari Allah, yang membebaskan manusia dari kuasa dosa dan kuasa jahat. Atas sikap iman Petrus itulah, maka  Yesus memberi “kunci”, bahwa di bawah kepemimpinan Petrus, para muridNya kelak akan mampu membawa banyak orang percaya kepadaNya.

Apa yang bisa kita pelajari dari bacaan Kitab Suci pada hari ini bagi hidup iman kita adalah bahwa mengimani Yesus tidak didasarkan pada pengetahuan atau akal budi, yang kita peroleh dengan belajar atau berdasarkan pendapat orang lain,  melainkan sikap batin kita sendiri atas dorongan Roh Allah. Jika kita mengimani bahwa Allah adalah segala-galanya di dalam segala sesuatu dan kita mau dibimbing untuk mengerti cara berpikir Allah, seperti dalam bacaan kedua, Rasul Paulus menegaskan bahwa Allah akan  membantu kita mengetahui misteri keselamatan Allah dalam diri Yesus. Sebagai pengikut Kristus, semoga kita mampu  menjadi orang yang bertanggung jawab atas pilihan iman kita. Orang yang percaya pada diri Yesus akan mendapatkan “kunci”, yakni kewenangan istimewa untuk mengetahui rahasia-rahasia Ilahi. Bahwa orang yang percaya kepada Allah pada akhirnya akan menang dan peroleh kemuliaan serta kekuasaan, sebagaimana kita dengar dalam bacaan pertama. 

Semoga Tuhan memberkati kita dan Selamat Berhari Minggu.

Antonius Purbiatmadi

 


 

Next article Next Post
Previous article Previous Post