BERKUNJUNG UNTUK MEMBAWA BERKAT TUHAN DAN KEGEMBIRAAN

Hari Raya SP Maria Diangkat ke Surga
Bacaan: Why 11:19a. 12:1.3-6a.10ab, 1Kor 15:20-26, Luk 1:39-56

Dalam masa normal, sebelum terjadi pandemi Covid-19, kita sering berkunjung atau berkumpul di tempat sanak kerabat, teman atau ke suatu tempat.  Berkumpul bersama tentu sangat mengasyikkan. Ada anggapan bahwa jika ada dua atau lebih perempuan berkumpul, biasanya ngegosip. Atau, kalau pun mereka tidak ngegosip, paling tidak ngobrolin film drakor atau drama korea yang lagi ngetop. Apalagi, setelah sekian lama terkurung oleh pandemi Covid-19, hal berkunjung untuk ngegosip akan lebih kenceng. Ah, itu hanya halusinasi dari mereka yang punya pikiran negatif terhadap kaum perempuan.
 
Ada saat-saat atau momen tertentu yang membuat kita kangen untuk saling berkunjung dan berkumpul bersama keluarga. Umumnya kita berkumpul dalam acara sukacita seperti perkawinan, arisan keluarga, ulang tahun, dll. Sudah lebih dari enam bulan ini acara kunjungan atau kumpul-kumpul bersama keluarga dan sahabat praktis tidak bisa kita lakukan secara bebas seperti dulu. Ada batasan-batasan atau protokol yang harus kita taat dan ikuti demi kebaikan kita bersama. Meski dalam situasi pandemi ini, namun toh silaturahim dengan yang orang lain masih tetap dapat kita dilakukan secara virtual.

Bacaan Injil pada hari Minggu Biasa Pekan XX ini tentang pertemuan Maria dan  Elisabet. Di awal perjumpaan, ketika Maria sampai di rumah Elisabet, Maria memberi salam kepada Elisabet, tanda kedatangannya. Salam sapaan Maria ditanggapi oleh janin dalam kandungan Elisabet, sebagai sapaan balasan yang penuh sukacita. Kisah perjumpaan Maria dan Elisabet, barangkali dapat membuat kita mengerti bahwa membangun relasi dalam kekerabatan keluarga itu sangatlah penting. Perjumpaan tidak sekedar bertemu untuk membangun kedekatan relasional, melainkan sarana untuk berbagi berkat Tuhan dan kegembiraan.

Perjumpaan Maria dan Elisabet terjadi dalam momentum kegembiraan, baik pada diri Maria sendiri maupun Elisabet. Mereka adalah para perempuan yang tidak saja bahagia, tetapi mereka juga menjadi perempuan yang istimewa, karena  terpilih dan diberkati untuk menjadi ibu dari tokoh iman, yakni Yohanes Pembaptis sebagai yang mempersiapkan jalan bagi Mesias, dan Yesus adalah Mesias, Juruselamat yang datang untuk menyelamatkan umat manusia.
Relasi persaudaraan dan perjumpaan kedua perempuan itu adalah pernyataan Allah untuk karya penyelamatan dunia.

Elisabet menyebut Maria sebagai perempuan yang lebih terberkati, bukan hanya karena sebagai ibu Tuhan (ay. 43), tetapi juga karena sikap hidupnya yang  mempercayakan diri secara total pada kehendak dan janji Allah. Tidak seperti dirinya yang bersikap tidak percaya atas berita  kehamilannya, yang disampaikan Malaikat Tuhan kepada Zakharia suaminya. Dari perikop ini kita dapat melihat betapa mereka adalah perempuan yang berbahagia karena menerima anugerah yang istimewa dari Allah untuk ikut ambil bagian dalam rencana keselamatan Allah bagi umatNya. Mereka menerima tugas perutusan itu dengan penuh iman dan sukacita. Sikap sukacita  seharusnya menjadi sikap beriman bagi setiap orang yang mau mengerti dan menerima serta melaksanakan kehendak rencana Allah. Seperti Maria, kita diajak untuk selalu bersikap sukacita dalam menanggapi tugas-tugas perutusan, misalnya menjadi pengurus lingkungan, anggota koor, dsb. Inilah yang ditekankan dalam bacaan Injil hari ini (ay. 47).  

Sikap sukacita juga ditekankan juga oleh Rasul Paulus. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, sebagaimana kita dengarkan dari bacaan kedua, Rasul Paulus mengajak kita untuk bersyukur, bahwa Yesus sudah bangkit. Kebangkitan Yesus memberi jaminan bahwa kita kelak akan dibangkitkan, tubuh kita akan diubah menjadi tubuh baru dan mulia. Mereka yang memiliki ketaatan dan kebenaran iman akan Yesus membuat mereka dapat dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus (ay. 22). Hidup dalam persekutuan dengan Kristus sudah dialami oleh Maria. Maria telah mendapat tempat istimewa dalam sorga bersama Kristus, putranya.  

Pada hari ini, bersama seluruh umat beriman, kita merayakan hari raya “Santa Maria diangkat ke surga”. Melalui peristiwa iman ini, Gereja mengajak kita untuk merenungkan perbuatan yang dikerjakan oleh Allah dalam diri Maria. Sebagaimana disebutkan dalam bacaan pertama, Yohanes memberi gambaran tentang Maria yang dipilih oleh Allah untuk menjadi Tabut PerjanjianNya, yang  mengandung Yesus. Sikap imannya itulah yang membuat Maria  dimuliakan di surga. Semoga dengan peristiwa iman “Maria diangkat ke sorga”, dan perjumpaan Maria dan Elisabet, kita semakin beriman bahwa Maria tetap sebagai partner utama Allah dalam rencana keselamatan Allah bagi umat manusia. Kita yakin bahwa Maria pun tetap setia mengunjungi kita, terutama di saat kita  “mengandung” persoalan atau masalah dalam rahim hidup iman kita. 

Semoga Tuhan memberkati kita dan Selamat Berhari Minggu.

Antonius Purbiatmadi


POPULAR