HIDUP DALAM HIKMAT TUHAN

Minggu Biasa XVII
Bacaan: 1Raj. 3:5,7-12; Rm. 8: 28-30; Mat. 13:44-52

Tentu kita masih ingat akan suatu peristiwa pada  tahun 2014-an, yang pernah heboh tentang rencana penggalian sebuah situs purbakala di kota Bogor. Di daerah situs tersebut diyakini terdapat harta karun. Diperkirakan harta karun tersebut dapat digunakan untuk membayar utang negara. Namun, karena alasan tertentu, rencana penggalian harta karun tersebut akhirnya dibatalkan.

Di berbagai belahan bumi ini dipercaya banyak harta karun yang terpendam dan menjadi incaran para pemburu dan penikmat atau kolektor harta karun. Harta karun dicari dan dijual-belikan serta dikuasai, karena harta karun itu  memiliki nilai yang sangat berharga, bukan saja dari aspek finansial, tetapi juga aspek lain seperti budaya, antropologi, dll. Banyak individu, kelompok atau pemburu profesional yang hidupnya dari hasil perburuan harta karun. Berburu atau memiliki harta karun dianggap sebagai suatu  hal yang prestisius atau memberi kepuasan batin. Tentang kisah perburuan harta karun dapat kita lihat di  banyak film, yang antara lain berjudul Indiana Jones: Raiders of The Lost Ark, Pirates of the Caribbean, Sahara, The Mummy, dll.

Dalam hidup kita sehari-hari, kita dikatakan hidup yang lengkap itu  jika keberhargaan kita dilihat atau diukur dengan kepemilikan  harta, perhiasan dan sarana yang berharga. Harta misalnya berupa rumah, furniture yang bagus dan mahal, atau aset lainnya, dll. Perhiasan misalnya  cincin, gelang atau kalung indah dari bahan emas yang bertatahkan berlian atau mutiara. Sedangkan sarana, misalnya pekerjaan dengan gaji besar, mobil, toko, pabrik, atau sarana usaha, dll. Untuk bisa memiliki ketiga hal tersebut, tentu kita harus berburu atau mengupayakannya dengan usaha atau kerja keras. Banyak dari kita bekerja keras demi pengumpulan harta, perhiasan dan sarana, namun hal itu sifatnya sementara atau tidak  kekal.

Untuk hidup lengkap, dalam arti kekal,  Yesus mengajar kita untuk memiliki harta, perhiasan dan sarana yang sifatnya sorgawi.  Dalam pengajaranNya pada hari-hari yang lalu dari minggu kemarin ini, Yesus menekankan kepada kita, sebagai pengikutNya, untuk menjadi pemili dari isi yang ada dalam Kerajaan Sorga. Seperti dalam bacaan Injil pada hari Minggu Biasa Pekan XVII ini, Yesus menggambarkan Kerajaan Sorga itu seumpama  harta terpendam dan mutiara yang sangat berharga serta pukat (yakni alat yang sangat penting bagi nelayan). Dengan kata lain,  bahwa ketika kita hidup bersama Tuhan dalam KerajaanNya, kita akan memiliki  kelimpahan harta, kelengkapan keindahan dan sarana sorgawi yang memberi kepuasan jiwa kita.

Dari rangkaian pengajaran Yesus tentang Kerajaan Sorga, Yesus menghendaki agar hidup kita di dunia ini fokus atau mengarah secara lurus ke tujuan hidup kekal bersama DiriNya dalam KerajaanNya. Karena Yesus menggambarkan bahwa hidup bersamaNya itu “sesuatu” yang sangat berharga nilainya dibandingkan “sesuatu” yang ada di dunia,  maka setiap dari kita harus terlebih dahulu mau mengutamakan untuk memiliki “sesuatu” yang bernilai kekal.

Mengutamakan untuk memiliki harta,  perhiasan atau sarana yang kekal dan bernilai sorgawi itu memang tidak mudah.  Kita perlu sikap hidup hikmat. Hidup hikmat adalah hidup yang mampu mengutamakan hal yang rohaniah dibandingkan yang duniawi. Seperti sikap hidup Salomo, sebagaimana kita dapat baca dalam Bacaan Pertama, di mana Salomo lebih mengutamakan sikap hati yang penuh hikmat dan pengertian (bdk. 1Raj 3:12). Salomo tahu  bahwa dia bisa minta kepada Allah untuk memiliki apa pun di dunia ini. Namun ia mengutamakan hal yang lebih kekal dari pada  hal-hal yang lahiriah atau duniawi. Sikap hikmat Salomo itu menggerakkan hati Allah, sehingga Allah berkenan pada Salomo. Melalui bacaan pertama, kita diajak untuk  mengerti bahwa Allah melihat sikap hidup   orang yang percaya dan mengutamakan untuk mencari dan memohon hikmat sorgawi, maka hidupnya akan berkelimpahan.

Kita pasti berharap untuk hidup dalam berkelimpahan baik yang dapat memuaskan  jasmani maupun rohani kita. Seperti yang Yesus ajarkan bahwa hendaklah kita terlebih dahulu mengutamakan hal yang paling berharga dan indah bagi hidup kita kelak bersamaNya. Dan dalam upaya untuk mewujudkan hal itu, memang tidaklah mudah. Seringkali ada godaan atau tantangan terhadap usaha-usaha kita dalam hidup iman yang benar. Namun demikian, hendaknya kita tetap terus mengupayakan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam suratnya untuk jemaat di Roma, dan tentu juga untuk kita semua, Rasul Paulus mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi dan mengutamakan kehendak Tuhan (bdk. Rom. 8: 28). Maksud Rasul Paulus adalah hendaknya kita sebagai orang beriman untuk terus menerus berupaya mau mengorbankan diri atau mempertaruhkan semua yang kita miliki, untuk mengutamakan hidup selaras dengan kehendak Tuhan, agar kita bisa   memiliki  hal yang lebih berharga dan kekal dari sebelumnya. Walau sekarang bukan masa Pentakosta, semoga kita selalu rajin berdoa memohon Roh Hikmat, agar kita menjadi orang bijak yang mengutamakan cita-cita sorgawi. Semoga Tuhan memberkati kita dan Selamat Berhari Minggu.


Antonius Purbiatmadi

Matthew 13:44-52 – Interrupting the Silence

POPULAR