AKU INI GANDUM ATAU LALANG?

Minggu Biasa XVI
Bacaan: Keb. 12:13,16-19; Rm. 8:26-27; Mat. 13:24-43

Sejak awal penciptaan, Tuhan sudah merancang kita manusia untuk berinteraksi dan saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Itu artinya, kita tidak bisa hidup sendirian. Kalau pun, misalnya sekarang anda di rumah sendirian, pasti tangan anda  tak lepas dari mainan medsos untuk berchating dengan yang lain. 

Dalam hidup bersama dengan orang banyak, kita tentu juga berhadapan dengan aneka karakter, sifat atau watak sesama kita. Dalam hidup bersama dengan orang lain, kita tidak mudah untuk mengerti  sifat-sifat mereka. Sekali pun sebagai pasangan suami istri, yang sudah lama berumah tangga, toh masih merasa sungguh belum mengenal pribadi dari pasangannya. Sewaktu berkenalan atau berpacaran, karakter-karakter atau watak yang diketahui hanya sedikit. Itu pun yang baik-baik yang tampak bagian luar saja. Yang semula tampak alim, atau sopan, ternyata di kemudian waktu sifat aslinya yang berkebalikanlah yang tampak.

Kita sadar bahwa memang tidak mudah untuk mengenal karakter atau watak sesungguhnya  dari orang lain itu. Misalnya saja dalam kehidupan menggereja di lingkungan atau di paroki. Kita tidak mudah untuk mengetahui karakter mereka. Yang tampaknya aktif menggereja, ternyata memiliki maksud dan tujuan untuk kepentingan dirinya sendiri. Memang tidak sedikit dari kita yang terpesona dan  sering terkecoh dengan tampilan fisik atau luaran. Mereka yang berpakaian necis, agamis, berkata sopan dan penuh nasihat yang selalu mengutap-ngutip ayat-ayat Kitab Suci,  kita menganggapnya orang baik. Namun, sikap nyatanya tidaklah demikian. Atau, kita juga sering menduga atau memiliki pemahaman bahwa orang yang bertampang serem, bertato, berbicara dengan keras, kita anggap sebagai orang yang tidak baik dan harus dijauhi. Padahal, belum tentu orang semacam itu demikian. Malah justru lebih baik dari yang kita duga.

Bacaan Injil pada hari ini  tentang ajaran Yesus  agar kita menjadi orang yang beriman, yang memiliki karakter khas sesuai yang diharapkanNya. AjaranNya yang disampaikan lewat perumpamaan lalang di ladang gandum, biji sesawi dan ragi. AjaranNya itu hendak mengajak kita agar kita sungguh-sungguh menjadi orang yang sesuai dengan harapan Tuhan. Yaitu, menjadi orang yang hidup imannya benar. Orang benar yang menurut Tuhan adalah orang yang layak untuk menjadi bagian dari Kerajaan Sorga. 

Yesus sering mengajarkan hal Kerajaan Sorga atau Kerajaan Allah, yang disampaikan lewat perumpamaan-perumpamaan. Namun, Yesus rasanya tidak pernah menjelaskan apa itu Kerajaan Sorga atau Kerajaan Allah  dengan suatu pengertian (definisi) yang mudah kita pahami. Yesus hanya menyatakan bahwa yang dimaksudkan Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga adalah KerajaanNya, yang bukan dari dunia ini, yang memiliki kekuasaan yang bersifat fana (bdk. Yoh. 18:36). Yesus memaksudkan hal Kerajaan Sorga atau Kerajaan Allah adalah  hidup yang bersifat kekal bersamaNya. Di dalam pengajaranNya, tujuan Yesus mengajarkan tentang Kerajaan Sorga, seperti dalam Injil pada hari ini, hendak mengajak kita untuk mengerti bahwa hal  hidup kekal bersamaNya itu adalah hal utama, yang menjadi  prioritas perhatian dan tujuan hidup kita. Di sisi lain, hidup kita dunia ini, yang sifatnya sementara, adalah waktu dan tempat bagi kita untuk bertumbuh dalam iman. 

Melalui ajaranNya hari ini, Yesus menghendaki pertumbuhan iman kita itu secara  bertahap, mulai dari hal-hal yang sederhana atau kecil. Kita diajak  untuk hidup beriman seperti pertumbuhan biji sesawi, biji yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon (bdk. Mat 13:32). Kita juga diajak untuk hidup senantiasa dalam olahan, bimbingan dan kehendak tanganTuhan sendiri, seperti ragi yang dicampur dalam tepung yang diolah sehingga khamir untuk menjadi roti (bdk. Mat. 13:33). Namun dalam kenyataannya, pertumbuhan iman kita lebih suka kita rancang dengan cara hidup sesuai  kehendak kita sendiri. Itu yang menyebabkan kita jatuh dalam kenikmatan yang sifatnya sementara atau kita jatuh dalam keberdosaan. 

Saat ini kita hidup di dunia memang dihadapkan pada situasi kebaikan dan kejahatan, seperti yang digambarkan dalam perumpamaan lalang di antara gandum. Sering kita mengalami bahwa ketika kita  hidup dalam pertumbuhan iman yang baik, seperti rajin berdoa, membaca Kitab Suci, beramal bagi sesama, dll., seringkali terganggu oleh adanya himpitan  pencobaan. Sebagai orang beriman, kita harus mampu untuk bertahan hidup dalam pertumbuhan bersama Tuhan, seperti gandum yang hidup bersama lalang.  Tentunya di saat ada himpitan terhadap iman kita, kita berharap bahwa Allah yang akan melindungi, menjaga dan memelihara kita (bdk. Keb. 12:13). Sekali pun kita jatuh dalam pencobaan, kita percaya bahwa Tuhan memberi kesempatan bagi kita untuk bertobat (bdk. Keb. 12:19) dan RohNya membantu kita  ketika kita mengalami kelemahan (Rom. 8:26). Hanya saja, apakah kesempatan itu kita gunakan dengan baik? Apakah kita ini mau menjadi tanaman gandum atau lalang?

Semoga dengan sabda Tuhan pada hari ini, kita sungguh menjadi orang yang hidup imannya seperti biji sesawi, yang bertumbuh terus menerus;  seperti ragi, yang terbuka hati untuk mau dibentuk oleh bimbingan Tuhan sendiri; seperti gandum, yang teguh dalam himpitan pencobaan, namun tetap mempercayakan diri pada perlindungan dan kehendak Tuhan. Dengan demikian, kita akan menjadi orang benar,  yakni orang beriman yang sesuai dengan kehendak Tuhan, yang pada akhirnya kita pantas dan layak untuk hidup bersama Tuhan dalam Kerajaan Sorga.


Semoga Tuhan memberkati kita dan Selamat Berhari Minggu.

Antonius Purbiatmadi

 

POPULAR