YESUS ADALAH MAKANAN DAN MINUMAN SURGAWI

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus
Bacaan: Ul 8:2-3, 14b-16a; 1Kor. 10:16-17; Yoh. 6:51-58

Di antara kita pasti suka makan daging, yang diolah dalam bentuk sate, tongseng, gulai, dll. Atau ada yang suka saksang atau sangsang, yakni olahan daging, yang dibumbui rempah dan dimasak dengan menggunakan darah hasil sembelihan hewan. Jenis makanan tersebut   diyakini memberi sensasi rasa tertentu. Ada juga yang percaya bahwa dengan mengkonsumsi olehan daging bercampur darah itu untuk penyembuhan penyakit tertentu. Tetapi yang jelas, makanan itu enak sekali.

Daging dan darah adalah bagian penting dari tubuh atau badan kita. Jika kita mengalami kekurangan darah atau menderita anemia, maka tubuh kita akan lemah. Darah sering kali dikonotasikan sebagai  tempat tinggal “nyawa”.  Jadi, jika kita kehabisan darah, maka kita akan mati.  Sementara itu, daging dipandang sebagai “baju atau pembungkus” dari tulang dan organ-organ tubuh kita. Bisa dibayangkan, bagaimana jika tubuh kita tidak ada dagingnya. Betapa darah dan daging itu adalah unsur penting bagi tubuh kita. Kita perlu mensyukuri atas tubuh kita. Agar kita memiliki tubuh yang sehat dan kuat, selain berolahraga, kita perlu mengkonsumsi makanan dan minuman yang bernutrisi.

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Tuhan, yang biasanya dijadikan sebagai hari untuk penerimaan komuni pertama atau sambut baru bagi anak-anak. Namun, karena kondisi pandemi Covid-19 ini, tentu penerimaan komuni pertama ini ditiadakan. Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari Minggu ini berkaitan dengan soal makan, minum, lapar, haus, manna, roti hidup, daging dan darah. Dalam  bacaan Injil hari ini, Yesus berulang kali menyebut diriNya sebagai roti hidup atau daging untuk dimakan dan  darahNya untuk diminum. Pernyataan Yesus tersebut tentu bukan dalam arti lahiriah atau harafiah. Kalau artikan secara harafiah, tentu maksud Yesus “makan dagingKu atau minum darahKu”, nanti dianggap sebagai kanibalisme.

Pernyataan Yesus tentang roti hidup, makan dagingNya dan minum darahNya itu tidak mudah untuk dimengerti. Dalam konteks  iman sekarang, kita memahami pernyataanNya itu adalah komuni kudus, yang kita terima dalam perayaan Ekaristi. Melalui perayaan Ekaristi kita diajak untuk selalu menerima  diri Yesus, yang adalah penjamin kehidupan kekal. Namun, bagaimana sikap kepantasan kita dalam menerima Tuhan Yesus dalam komuni kudus itu? Adakah kita sungguh menyambut komuni kudus dengan hati yang bersih dan pantas? Jika kita sudah menyambut komuni kudus, adakah hidup iman kita  berubah menjadi baik, selalu bersyukur dan setia dalam ketaatan melaksanakan firman dan kehendak Tuhan?


Janganlah seperti bangsa Israel, seperti dapat kita baca dalam bacaan pertama, yang mengisahkan bangsa Israel sebagai bangsa yang berperilaku tidak taat untuk berpegang pada perintah-perintah Allah. Bangsa yang sering melupakan Allah. Bangsa yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, sperti ketika mereka dibebaskan Allah dari penderitaan di padang gurun saat menghadapi binatang yang mematikan, kelaparan dan kehausan. Ketika mereka  mengalami kelaparan, Allah memberikan mereka manna dan burung puyuh (bdk. Kel. 16:1-36). Ketika mereka kehausan, Allah memberikan air yang keluar dari gunung batu (bdk. Kel. 17:1-7). Bangsa Israel itu tidak pernah mau belajar dari pengalaman hidupnya, bahwa ketika mereka hidup dalam kepenuhan kebutuhan makanan jasmaniah (manna dan air), mereka melupakan Allah dan tidak lagi taat pada perintah dan firman Allah.

Rasul Paulus pernah mengingatkan kepada jemaat di Korintus untuk tidak meniru pengalaman hidup bangsa Israel itu (bdk. 1Kor 10:1-10). Rasul Paulus justru mengajak untuk selalu bersekutu dengan Allah dan  hendaknya mengambil bagian di meja perjamuan Tuhan melalui roti dan cawan. Rasul Paulus menegaskan bahwa bersekutu dengan Allah, itu berarti mengambil bagian dalam kematian dan pengorbanan Kristus. Pernyataan Rasul Paulus itu, yang sekarang kita mengerfti tidak lain adalah perayaan Ekaristi. Rasul Paulus menegaskan bahwa bersekutu dengan Allah adalah  tidak cukup beriman kepadaNya dalam diri Yesus, PutraNya,  tetapi kita harus hidup bersatu dengan Kristus (bdk. ayat 17).

Baik dalam bacaan pertama maupun kedua, digambarkan bahwa mereka, yang tidak taat pada perintah atau firman Allah dan tidak bersekutu dengan Allah, akan mengalami penderitaan, yakni mengalami kelaparan dan kehausan  atau, dalam bahasa  iman, akan mengalami kematian. Dalam bacaan Injil, Yesus menegaskan hal itu. Bahwa  barangsiapa tidak makan diriNya dan minum darahNya itu berarti tidak ada persekutuan denganNya dan Allah Bapa (bdk. Yoh. 6:56-57).

Kalau kita membaca perikop sebelumnya dari bacaan Injil hari ini, Yesus berulang kali menyatakan diriNya adalah roti hidup, makan dagingNya dan minum darahNya, hidup kekal dan kesatuan hidup bersamaNya. Itu berarti bahwa perjalanan hidup kita ke arah tujuan utama pada   kehidupan kekal bersamaNya. Dan perjalanan itu akan berhasil, jika jiwa kita dikuatkan dengan makanan dan minuman yang berasal dari diri Tuhan sendiri. Tidak seperti makanan manna atau air, yang bangsa Israel makan dan minum, namun tidak menjamin keselamatan hidup mereka.  Sedangkan tubuh dan darah Tuhan menjamin kita akan kehidupan kekal bersama Allah.

Sebagai umat beriman, kita percaya bahwa komuni kudus yang kita terima dalam perayaan ekaristi adalah sungguh tubuh dan darah Tuhan Yesus sendiri. Dialah  makanan dan minuman sorgawi yang memberi jaminan hidup kekal bagi yang menyambutNya. Melalui perayaan ekaristi, kita mengimani bahwa Yesus mengorbankan DiriNya untuk menyelamatkan  kita. Tubuh dan darahNya menjamin hidup  bersama dalam persekutuan dengan Allah (bdk. Yoh 6:51, 56). Jika kita ikutserta  dalam perayaan ekaristi dan menyambut komuni kudus, maka sebenarnya kita memperbaharui dan menyegarkan iman kita sendiri untuk semakin percaya kepada Tuhan Yesus, bahwa Dialah makanan dan minuman sorgawi, yang menjamin keselamatan hidup kekal kita.


Semoga Tuhan memberkati kita.
Selamat Hari Raya Tubuh dan Darah Tuhan, dan Selamat Berhari Minggu.

Antonius Purbiatmadi

POPULAR