Tuhan Saja Miskin, Kok Kamu Gengsi?

Kumpul keluarga besar sering kali berubah wujud jadi ajang flexing terselubung. Yang karirnya moncer akan parkir SUV mentereng di garasi utama, sementara yang ekonominya pas-pasan rela parkir motor matic bututnya di luar pagar biar tidak menghalangi jalan. Jujur saja, di sela-sela dentingan sendok dan piring, kadang ada bisik-bisik halus: "Eh, si A kasihan ya, hidupnya gitu-gitu aja."

Puncak komedinya? Terkadang keluarga inti malah malu mengakui keberadaan "Si A". Seolah-olah punya saudara yang ekonominya rendah adalah aib keluarga atau semacam virus flu yang bisa menular lewat udara. Kalau ada tamu penting datang, saudara yang ini disembunyikan di dapur, atau minimal tidak diajak ngobrol biar tidak bikin "malu-maluin".

Agak menggelitik, bukan? Pasalnya, umat yang tiap hari Minggu fasih menyanyi "Kasih Pasti Lemah Lembut" sambil menutup mata, senyumnya mendadak diskon 70% di acara keluarga untuk saudara yang saldonya minim. Pajangan salib kayu jati dan patung Keluarga Kudus di ruang tamunya sebesar gaban, tapi hatinya dipasangi kawat berduri untuk saudara sendiri.

Gereja Katolik selalu mengajarkan bahwa keluarga adalah Ecclesia Domestica alias Gereja Rumah Tangga. Tapi kalau kasih sayangnya diukur dari ketebalan dompet, itu sih bukan Gereja, melainkan Kelab VIP yang butuh minimum charge untuk masuk.

Mari kita throwback ke 2000 tahun lalu. Kalau standar kebanggaan keluarga adalah kekayaan materi, Tuhan Yesus pasti sudah di-cancel sama keluarga besar-Nya sejak hari pertama. Lahirnya saja di palungan yang bau tahi domba. Bapak asuhnya, Santo Yusuf, cuma tukang kayu yang penghasilannya mungkin hanya setara UMR Nazaret (atau malah di bawahnya). Lingkaran pertemanannya pun nelayan-nelayan bau amis dan orang-orang pinggiran.

Secara ekonomi, Yesus adalah "saudara kere". Kalau Dia hidup di zaman now, mungkin nomor-Nya sudah di-kick dari grup WhatsApp Keluarga Besar karena jarang ikut patungan kado. Tapi justru dalam kemiskinan itulah, Allah hadir paling nyata.

Rasul Yakobus sebenarnya sudah menyindir telak kelakuan gengsi-gengsian ini. Dalam suratnya (Yakobus 2:1-4), ia pada dasarnya bilang: Kalau kamu menyambut orang kaya pakai karpet merah dan kursi empuk, tapi menyuruh orang miskin duduk di lantai dekat kakimu, kamu sudah jadi hakim dengan pikiran yang jahat.

Nah, apalagi kalau orang miskin itu adalah darah dagingmu sendiri? Orang yang diikat denganmu tidak hanya melalui garis keturunan, tapi juga oleh rahmat Sakramen Baptis yang sama. Masa ikatan ilahi ini harus kalah telak sama digit mutasi rekening?

Punya anggota keluarga yang ekonominya sedang seret bukanlah sebuah noda di atas curriculum vitae keluargamu. Sebaliknya, itu adalah ladang pelayanan dan ujian kasih yang paling real. Sebelum kita sibuk menjadi donatur panti asuhan demi konten bakti sosial di Instagram, coba cek dulu meja makan keluarga kita sendiri. Jangan-jangan ada "Lazarus" yang sedang kelaparan kasih sayang dan pengakuan di sana, dan kita sedang sibuk menjadi orang kaya yang cuek bebek.

Akhir kata, tiket masuk surga itu dinilai dari seberapa besar kita mencintai, bukan dari lampiran rekening koran. Jadi, turunkan sedikit gengsimu. Rangkul saudaramu yang sedang berjuang, traktir dia makan tanpa niat merendahkan, dan buktikan bahwa kasih Katolik di keluargamu itu unlimited, bukan pay-per-view yang cuma tayang kalau ada uangnya. (*)