Tidak ada bunyi yang lebih efektif menguji kedamaian batin seorang umat beriman di Sabtu pagi selain lengkingan mesin potong keramik dari rumah sebelah. Ngiiiiiing!
Awalnya kita mengira tetangga hanya sedang membetulkan talang air yang bocor. Namun, ketika satu truk pasir muntah di depan pagar mereka, disusul tumpukan bata ringan yang menjulang seperti Tembok Yerikho, kita sadar: ini bukan perbaikan kecil. Ini adalah renovasi total. Dan tanpa kita sadari, saat tukang bangunan mulai membongkar atap rumah sebelah, ada sesuatu yang ikut retak di dalam hati kita—rasa cukup.
Aneh tapi nyata, rumah kita yang kemarin malam masih terasa nyaman untuk rebahan sambil menonton televisi, mendadak terlihat kusam, sempit, dan kurang estetik tepat di hari rumah tetangga mulai dipasang batu alam.
Dari Debu Semen Menjadi Debu Perdebatan
Fase paling krusial dari renovasi rumah tetangga sebenarnya bukan saat pengecoran dak beton, melainkan saat obrolan sore di teras rumah kita sendiri mulai bergeser nadanya.
"Pak, lihat deh, rumah Pak Anton sekarang dibuat dua lantai. Keren ya, konsepnya industrialis gitu," ujar sang istri sambil menyapu debu kiriman dari sebelah. Kalimat ini terdengar informatif, tetapi bagi telinga suami yang peka, itu kadang terdengar seperti kode keras: Kapan kanopi kita yang kalau hujan bunyinya mirip konser drum ini diganti Alderon juga?
Tiba-tiba, cat dinding ruang tamu yang baru berumur dua tahun tampak "kurang warm". Keramik lantai ukuran 40x40 mendadak terlihat kuno dibandingkan granit ukuran 60x60 milik sebelah yang masih terbungkus kardus di garasi mereka. Jemari pun mulai gatal membuka Pinterest, menghitung simulasi KPR atau tabungan, lalu berakhir dengan helaan napas panjang saat melihat saldo rekening yang lebih mirip padang gurun masa Prapaskah.
Kalau tidak hati-hati, bunyi palu dari rumah sebelah bisa memicu "bunyi piring" di dapur sendiri. Kita mulai membanding-bandingkan: pekerjaan suami, gaya hidup, hingga nasib.
Keluaran 20:17 yang Terlalu Spesifik
Jika kita membuka Kitab Suci, ada satu hal yang sangat menggelitik sekaligus menohok dari Sepuluh Perintah Allah. Dalam Perintah Kesepuluh (Keluaran 20:17), Tuhan berfirman: "Jangan mengingini rumah sesamamu..."
Pernahkah kita berpikir, mengapa dari sekian banyak benda di dunia, Tuhan secara spesifik menyebut rumah sesamamu di urutan pertama sebelum menyebut yang lain? Padahal zaman Musa belum ada desain rumah Scandinavian, belum ada pagar laser-cut, apalagi lampu gantung kristal. Bangsa Israel bahkan masih sering tinggal di kemah!
Rupanya, Tuhan sudah sangat paham tabiat manusia. Sejak ribuan tahun lalu, rumput—dan atap—tetangga memang selalu tampak lebih hijau dan lebih megah. Keinginan untuk membandingkan tempat tinggal kita dengan milik orang lain adalah godaan klasik yang usianya setua sejarah keselamatan itu sendiri.
Dalam tradisi Gereja Katolik, rasa iri (invidia) bukan sekadar perasaan tidak enak hati, melainkan kesedihan atas kebaikan atau keberuntungan yang diterima orang lain. Saat tetangga naik kelas secara finansial dan mampu mempercantik rumahnya, ego kita sering merasa "turun kelas", padahal tidak ada satu pun genteng di rumah kita yang berkurang.
Membangun House vs Menghidupi Ecclesia Domestica
Tentu saja, ingin merenovasi rumah agar lebih nyaman, sehat, dan tidak bocor sama sekali bukan dosa. Punya cita-cita memperluas kamar anak yang mulai beranjak dewasa adalah niat yang mulia. Yang menjadi masalah adalah ketika motivasi kita bergeser dari kebutuhan keluarga menjadi kompetisi gengsi.
Gereja Katolik memiliki istilah yang sangat indah untuk keluarga: Ecclesia Domestica atau Gereja Rumah Tangga. Nilai sebuah Gereja Rumah Tangga sama sekali tidak ditentukan oleh seberapa mewah fasad depannya, melainkan oleh seberapa hangat kasih yang mengalir di dalamnya.
Apa gunanya ruang keluarga berkonsep open space yang mewah jika anggota keluarganya sibuk dengan gawai masing-masing dan hanya berkomunikasi lewat grup WhatsApp? Apa artinya meja makan marmer jika di atasnya tidak pernah ada doa makan bersama dan tawa yang tulus? Rumah dengan tembok yang sedikit mengelupas namun penuh pengampunan jauh lebih menyerupai Nazaret daripada rumah bak istana yang penghuninya saling dingin seperti es batu.
Keluarga Kudus Nazaret sendiri—meskipun Santo Yusuf adalah seorang tukang kayu atau tekton yang handal—hidup dalam kesederhanaan yang bersahaja. Yesus tidak tumbuh di istana Herodes yang berlapis emas, melainkan di rumah sederhana yang kaya akan kehadiran Allah.
Tips Iman Menghadapi "Musim Renovasi" Tetangga
Agar iman dan dompet tetap aman saat tetangga sebelah sedang sibuk merenovasi rumah, ada beberapa langkah rohani nan praktis yang bisa kita terapkan:
Ubah Lirikan Jadi Doa Berkat: Setiap kali terdengar suara bor atau gerinda yang memekakkan telinga, alih-alih menggerutu atau melirik dari balik gorden dengan wajah masam, ucapkan doa singkat: "Tuhan, berkatilah rumah tetanggaku ini agar menjadi tempat yang damai bagi keluarga mereka, dan lindungilah para tukang yang bekerja." Sulit untuk merasa iri pada orang yang sedang kita doakan dengan tulus.
Kirimkan Es Teh atau Gorengan: Cara paling ampuh mengalahkan roh iri hati adalah dengan tindakan kasih yang nyata. Sesekali, kirimkan sepiring gorengan hangat atau es teh manis untuk para tukang yang bekerja di sebelah, atau sapa tetangga dengan antusias: "Wah, makin cakep nih rumahnya, Pak! Semoga lancar sampai selesai ya." Mengikutsertakan diri dalam sukacita sesama akan membebaskan hati kita dari rasa tertekan.
Renovasi Hati Sebelum Renovasi Dapur: Saat muncul keinginan impulsif untuk ikut-ikutan membongkar teras padahal dana belum siap, ajak pasangan duduk bersama. Hitung kembali berkat-berkat yang sudah ada di dalam rumah: kesehatan, anak-anak yang bertumbuh, makanan di meja, dan atap yang masih setia melindungi dari hujan.
Pada akhirnya, debu proyek di rumah sebelah pasti akan reda, dan cat baru mereka suatu saat akan memudar juga oleh cuaca. Biarlah tetangga sibuk memperkokoh tiang betonnya, sementara kita tetap tekun memperkokoh tiang doa dan rasa syukur di dalam rumah kita sendiri. Sebab di hadapan Tuhan, rumah terindah bukanlah yang paling mirip katalog majalah arsitektur, melainkan rumah yang di dalamnya Kristus betah tinggal sebagai Kepala Keluarga. (PD)
