Pernah nggak, sih? Sedang lelah sepulang kerja atau kampus, rebahan sambil scroll Instagram atau TikTok, lalu tiba-tiba napas terasa lebih berat.
Di layar handphone, teman seangkatan baru pamer kunci mobil baru, yang lain sedang liburan aesthetic di Eropa, dan ada lagi yang baru saja dipromosikan jabatannya. Tiba-tiba, hidup kita terasa menyedihkan. Kita merasa tertinggal. Kita merasa... gagal.
Tekanan untuk terlihat sukses di media sosial hari ini sangat brutal. Kita hidup di era di mana nilai seseorang seolah diukur dari apa yang bisa dipamerkan di feed. Akibatnya? Banyak orang memaksakan diri. Rela berutang demi gaya hidup, atau kehilangan damai sejahtera hanya karena hidupnya tidak terlihat "sekeren" orang lain di dunia maya.
Sebagai orang Katolik, mari kita ambil jeda sejenak dan melihat realita ini dengan kacamata iman.
Sindrom "Etalase Toko"
Media sosial itu etalase, bukan gudang belakang. Orang hanya akan menaruh barang-barang terbaik, paling mengkilap, dan paling mahal di etalase. Kamu sedang membandingkan "gudang belakang" hidupmu yang berantakan dengan "etalase" hidup orang lain yang sudah dikurasi, diedit, dan diberi filter.
Masalahnya, tekanan ini membuat kita haus akan validasi. Kita jadi sibuk memoles citra diri agar diakui sukses oleh netizen—orang-orang yang bahkan mungkin tidak peduli jika kita sedang sakit atau jatuh.
Rasul Paulus pernah memberikan teguran keras yang sangat relevan untuk para pencari validasi online:
"Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus." (Galatia 1:10)
Sukses Versi Dunia vs. Setia Versi Surga
Dunia bilang, sukses itu kalau saldo rekeningmu digitnya banyak, jabatanmu mentereng, dan liburanmu instagramable. Jika itu standar yang kita pakai, wajar kita merasa lelah. Kita berlari di atas treadmill yang tidak ada ujungnya.
Tapi, apa kata Tuhan? 1 Samuel 16:7 mengingatkan kita: "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
Tuhan tidak punya akun Instagram untuk mengecek seberapa keren feed-mu hari ini. Tuhan juga tidak terkesan dengan flexing pencapaianmu. Santa Teresa dari Kalkuta pernah mengatakan sebuah kalimat yang bisa menjadi penangkal racun media sosial:
"Tuhan tidak memanggil kita untuk sukses, Ia memanggil kita untuk setia."
Setia pada panggilan hidupmu saat ini. Setia mencintai keluarga. Setia bekerja dengan jujur meski gajinya belum bisa untuk pamer jalan-jalan. Setia melayani sesama dalam hal-hal kecil yang tidak pernah masuk FYP. Itulah kesuksesan sejati di mata Tuhan.
3 Langkah Detoks Hati
Jika tekanan di media sosial sudah mulai merebut damai sejahteramu, lakukan tiga hal ini:
Unfollow Tanpa Rasa Bersalah: Jika melihat akun tertentu (bahkan teman sendiri) membuatmu iri, insecure, atau merasa gagal, mute atau unfollow saja. Menjaga kewarasan dan damai hatimu jauh lebih penting daripada menjaga gengsi digital.
Cek Niat Sebelum Posting: Sebelum mengunggah sesuatu, tanya pada dirimu sendiri: "Apakah aku posting ini untuk berbagi kebahagiaan, atau diam-diam aku ingin memancing pujian dan pembuktian diri?"
Kembali pada Identitas Aslimu: Nilaimu tidak ditentukan oleh likes, followers, atau pujian di kolom komentar. Nilaimu ada pada kenyataan bahwa kamu adalah anak Allah yang dikasihi. Titik. Tanpa syarat. Tanpa perlu diberi filter.
Berhentilah bersaing di jalur yang salah. Hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan demi membuat kagum orang-orang di dunia maya.
Tutup aplikasinya, ambil napas panjang, dan sadarilah: Di mata Tuhan, kamu sudah berharga, persis seperti apa adanya dirimu saat ini.
(YS)
