Sindrom "Aturan Untukmu, Toleransi Untukku"

Pernahkah Anda memperhatikan obrolan menjelang pemilihan ketua lingkungan, pengurus gereja, atau bahkan pemimpin negara? Jika ditanya apa kriteria pemimpin yang ideal, jawabannya hampir selalu seragam: "Kita butuh pemimpin yang tegas!", "Harus berani menertibkan!", atau "Jangan pandang bulu kalau ada yang melanggar aturan!"

Mendengar itu, kita semua seperti paduan suara yang sepakat bahwa ketegasan adalah harga mati.

Namun, mari kita putar skenarionya. Bayangkan pemimpin yang tegas itu benar-benar terpilih. Suatu hari Minggu, Anda datang terlambat mengikuti Perayaan Ekaristi karena bangun kesiangan. Sesuai aturan yang sudah disepakati, petugas tata tertib dengan tegas meminta Anda duduk di luar dan tidak diizinkan masuk ke ruang utama gereja.

Apa reaksi pertama kita? Sangat jarang kita berkata, "Puji Tuhan, petugas gereja kita sangat tegas dan berwibawa." Yang sering terjadi justru kita menggerutu, "Ya ampun, kaku amat sih jadi orang! Sama umat sendiri kok nggak ada toleransinya. Nggak ada belas kasih sama sekali!"

Itulah lucunya sifat manusia. Kita sangat memuja keadilan dan kedisiplinan, selama aturan itu diterapkan kepada orang lain. Namun, giliran aturan yang sama menabrak kenyamanan dan kelalaian kita sendiri, tiba-tiba kita mendadak menjadi korban yang paling keras menuntut "kebijaksanaan" dan "fleksibilitas".

Kisah Klasik Raja Daud

Sikap standar ganda ini sebenarnya bukan barang baru. Ribuan tahun lalu, Raja Daud pernah terjebak dalam situasi yang persis sama.

Dalam Kitab Suci (2 Samuel 12), Nabi Natan menceritakan sebuah perumpamaan kepada Daud tentang seorang kaya yang memiliki banyak domba, tetapi malah merampas satu-satunya domba kesayangan milik tetangganya yang miskin untuk dijadikan hidangan. Mendengar itu, Daud meledak dalam amarah. Sebagai raja yang menjunjung tinggi keadilan, ia dengan tegas berteriak, "Demi Tuhan yang hidup, orang yang melakukan itu harus dihukum mati!"

Lalu, apa kata Nabi Natan dengan tenang? "Engkaulah orang itu!"

Nabi Natan sedang menyentil Daud yang telah merebut Batsyeba dari Uria, panglimanya sendiri yang setia. Daud sangat tegas ketika melihat kesalahan orang lain, tetapi buta ketika ia sendiri yang menjadi pelaku pelanggaran.

Keadilan vs Kerahiman: Cermin Bagi Diri Sendiri

Gereja Katolik selalu mengajarkan keseimbangan yang indah antara Keadilan (Justice) dan Kerahiman (Mercy). Keduanya tidak bisa dipisahkan. Namun, masalahnya sering kali kita memposisikannya secara terbalik: Kita menuntut keadilan mutlak dan ketegasan dari pemimpin untuk menghukum orang lain, tetapi kita memohon kerahiman dan pengecualian tanpa batas untuk kesalahan kita sendiri.

Yesus sudah memperingatkan sindrom ini dengan sangat jenaka namun tajam: "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?" (Matius 7:3).

Kita mendambakan pemimpin yang berani membawa pedang kebenaran, tetapi kita lupa bahwa pedang kebenaran itu bermata dua—ia juga akan memotong ketidakdisiplinan, kemalasan, dan ego kita sendiri.

Menginginkan pemimpin yang tegas adalah hal yang sangat baik dan memang diperlukan untuk membangun komunitas atau masyarakat yang sehat. Namun, ketegasan sejati tidak dimulai dari kursi kepemimpinan, melainkan dari bangku umat. Aturan tidak diciptakan hanya untuk membatasi orang-orang yang kita anggap "bermasalah", tetapi juga untuk mendisiplinkan diri kita sendiri.

Jadi, sebelum kita kembali mengeluh dan berteriak menuntut hadirnya sosok pemimpin yang tegas, mari luangkan waktu sejenak di depan cermin dan tanyakan pada diri sendiri: "Jika pemimpin yang sangat tegas itu benar-benar datang hari ini, sudah siapkah saya untuk dipimpin olehnya?"

(AMS)