Mari kita bahas sebuah fenomena unik yang sering berseliweran di sekitar kita: seseorang yang secara resmi beragama Katolik, punya surat baptis yang dilaminating rapi, tapi jadwal ke gerejanya lebih langka daripada komet Halley. Biasanya, mereka ini baru muncul di gereja saat Misa Malam Natal—itu pun kadang demi update media sosial dengan latar belakang dekorasi kandang domba.
Lalu muncul pertanyaan kritis: secara teknis, apakah mereka ini masih sah disebut Katolik?
Jawaban singkatnya: Masih. Jawaban panjangnya: Masih, tapi ibarat Anda punya membership gym seumur hidup kelas premium, tapi Anda cuma memakainya untuk rebahan di sofa sambil makan gorengan setiap akhir pekan. Statusnya ada, ototnya tidak.
Tato Spiritual yang Anti-Luntur
Dalam tradisi Katolik, Sakramen Baptis itu meninggalkan meterai yang tak terhapuskan. Ibarat tato spiritual permanen. Begitu dahi Anda dikucuri air dan diberkati dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, Anda resmi masuk "klub". Cap ini tidak bisa luntur, bahkan kalau Anda mencoba menggosoknya pakai sabun cuci piring sekalipun. Jadi, secara ontologis (dan secara KTP), status Katolik seseorang tidak punya tanggal kedaluwarsa.
Namun, ada tapinya. Menjadi Katolik itu bukan sekadar status administratif kependudukan, melainkan soal relasi. Bayangkan Anda punya pasangan, tapi Anda tidak pernah sudi diajak ketemuan, tidak pernah membalas pesan, dan cuma ingat dia kalau lagi butuh pinjaman uang darurat. Terdengar egois, bukan?
Baterai HP vs Baterai Jiwa
Gereja Katolik menyebut Ekaristi (Misa) sebagai "sumber dan puncak" kehidupan Kristiani. Misa bukanlah sekadar ritual dengerin khotbah, tapi tempat kita me- charge baterai rohani lewat komuni.
Coba renungkan ini: Smartphone Anda tinggal 15% saja, Anda sudah panik mencari colokan listrik. Masa jiwa sendiri dibiarkan dalam mode low battery bertahun-tahun? Tanpa Misa dan Ekaristi, kehidupan rohani kita ibarat tanaman hias yang cuma disiram setahun sekali saat Paskah—hidup segan, mati tak mau.
Bukan Satpam Presensi, Tapi Tuan Rumah Perjamuan
Gereja memang punya aturan yang mewajibkan umatnya mengikuti Misa hari Minggu. Tapi sebelum Anda mengira Tuhan itu seperti guru piket atau satpam yang sibuk memegang buku absensi di depan pintu gereja, mari ubah perspektifnya.
Tuhan sebenarnya tidak butuh kehadiran kita di gereja; kita yang butuh. Misa adalah sebuah perjamuan makan malam keluarga. Kalau Anda sengaja tidak pernah ikut makan, Anda memang tetap berstatus sebagai anggota keluarga. Tidak ada yang mencoret nama Anda dari Kartu Keluarga. Namun, Anda adalah anggota keluarga yang sedang kelaparan dan menderita kurang gizi kronis.
Jadi, seseorang yang tidak pernah Misa memang sah disebut Katolik. Tapi, mereka adalah Katolik yang sedang berjalan dalam mode survival. Identitasnya ada, tapi napas spiritualnya ngos-ngosan.
Kabar baiknya dari semua ini? Tuhan tidak pernah mengganti password pintu gereja-Nya. Kursi kayu yang panjang itu akan selalu menyisakan tempat kosong. Kapan pun si "Katolik KTP" ini siap untuk mampir dan dine-in kembali, perjamuannya selalu hangat dan siap dihidangkan, tanpa ada yang menghakimi dan bertanya, "Ke mana aja lo selama ini?" (EKZ)
