Ini adalah salah satu pertanyaan tertua dan paling mendalam dalam sejarah umat manusia. Ketika kita melihat berita tentang peperangan, bencana alam, penyakit mematikan, atau bahkan saat kita sendiri mengalami duka yang begitu dalam, pertanyaan ini pasti pernah terlintas: "Jika Allah itu Mahakuasa dan Mahabaik, mengapa Dia membiarkan semua ini terjadi?"
Gereja Katolik menyadari bahwa tidak ada jawaban instan yang bisa dengan mudah menghapus rasa sakit akibat penderitaan. Katekismus Gereja Katolik (KGK 309) bahkan menyatakan bahwa seluruh pesan Kristiani pada dasarnya adalah jawaban atas misteri kejahatan ini.
Untuk memahaminya, kita perlu melihat dari kacamata iman Katolik melalui empat pilar berikut:
1. Risiko dari Sebuah Kehendak Bebas (Free Will)
Cinta yang sejati tidak pernah bisa dipaksakan. Saat Allah menciptakan manusia, Dia tidak menciptakan robot yang diprogram untuk selalu taat. Dia menciptakan kita karena cinta, dan Dia menginginkan balasan cinta yang tulus.
Namun, agar cinta itu tulus, harus ada kebebasan untuk menolaknya. Ketika manusia menyalahgunakan kebebasan ini dengan menolak Allah (sumber segala kebaikan), maka ketiadaan kebaikan itulah yang kita sebut sebagai "kejahatan". Sebagian besar penderitaan di dunia (seperti perang, ketidakadilan, pengkhianatan) berakar dari pilihan bebas manusia yang keliru, bukan dari kehendak Allah.
2. Dunia yang Belum Sempurna
Lalu, bagaimana dengan penyakit dan bencana alam? Mengapa bayi yang tak berdosa bisa sakit?
Gereja mengajarkan bahwa akibat Dosa Asal, harmoni seluruh ciptaan menjadi retak. Kita hidup di dunia yang sedang "dalam keadaan peziarahan" (in statu viae) menuju kesempurnaannya yang terakhir. Bumi yang kita tinggali saat ini belum mencapai kemuliaan puncaknya. Ada hukum alam, kerusakan, dan kefanaan fisik yang terjadi. Penderitaan fisik adalah realitas dari dunia yang masih terbatas ini, yang sedang menantikan langit dan bumi yang baru.
3. Allah Tidak Diam, Ia Turut Menderita
Inilah letak perbedaan iman Kristiani yang paling radikal. Ketika kita bertanya, "Di mana Tuhan saat aku menderita?", jawaban Katolik bukanlah teori filosofis yang dingin. Jawabannya ada pada Salib.
Tuhan kita bukanlah dewa yang duduk nyaman di surga sambil menonton kita kesakitan. Dalam diri Yesus Kristus, Allah turun ke dunia dan ikut merasakan lumpur penderitaan manusia. Ia dikhianati, disiksa, difitnah, dan mengalami kematian yang paling hina. Allah Mahabaik tidak menghapus penderitaan, melainkan masuk ke dalam penderitaan itu sendiri bersama kita. Karena Salib, tidak ada satu pun penderitaan manusia yang tidak dimengerti oleh Tuhan.
4. Makna Penebusan (Salvific Suffering)
Tuhan mungkin mengizinkan penderitaan terjadi, tetapi Ia tidak pernah membiarkan kejahatan memegang kata akhir. Allah selalu mampu mendatangkan kebaikan yang lebih besar dari suatu keburukan—kebaikan terbesar dalam sejarah justru lahir dari kejahatan terburuk: kebangkitan Kristus yang menyelamatkan dunia lahir dari penyaliban yang kejam.
Dalam iman Katolik, penderitaan kita tidak harus berakhir sia-sia. Santo Paulus menulis, "Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus" (Kol 1:24). Ketika kita menyatukan penderitaan, rasa sakit, dan air mata kita dengan Salib Kristus, penderitaan kita diubah menjadi doa yang memiliki kuasa penebusan.
Sebuah Akhir yang Berpengharapan
Misteri penderitaan mungkin tidak akan pernah bisa kita pahami sepenuhnya dengan akal budi kita yang terbatas selama di dunia. Pada akhirnya, jawaban Tuhan atas penderitaan bukanlah sebuah rumus penjelasan yang rumit, melainkan sebuah Kehadiran.
Ia berjanji menemani kita melewati lembah kekelaman, dan memberikan kita jaminan bahwa penderitaan saat ini tidak ada artinya dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita kelak (Rom 8:18), di mana "Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi" (Why 21:4).
(RSA)
