Gereja: Rumah atau Ruang Sidang?

Sabtu sore atau Minggu pagi, bangku-bangku deretan belakang gereja mulai lowong dari jaket hoodie dan sepatu sneakers. Kalau pun ada anak muda yang datang, mereka memilih posisi paling strategis: dekat pintu keluar, masuk tepat saat lagu pembukaan berakhir, dan langsung menghilang sebelum pastor sempat sampai di depan pintu gereja untuk bersalaman. Sementara itu, rapat Orang Muda Katolik (OMK) makin sepi, kalah ramai dengan antrean kopi susu di seberang paroki.

Lalu, para sesepuh dan pengurus mulai mengelus dada sambil bertanya, "Anak muda zaman sekarang kok makin jauh dari Tuhan, ya?"

Tunggu dulu. Jangan buru-buru menyalahkan algoritma TikTok, jadwal kuliah, atau krisis iman. Bisa jadi, anak muda bukannya menjauh dari Tuhan, melainkan sedang menjaga jarak dari umat-Nya yang terlalu gemar menghakimi tetapi lupa caranya mendengar.

Banyak Dinasihati, Minim Didengarkan

Coba kita jujur sejenak. Seberapa sering ruang-ruang pelayanan kita berubah menjadi "ruang sidang" bagi kaum muda?

Saat anak muda mencoba mengusulkan konsep baru untuk acara paroki, jawaban sakti yang sering keluar dari para senior adalah: "Dari dulu juga begini dan tetap jalan kok," atau "Kalian itu masih muda, belum paham aturan liturgi dan birokrasi." Ide segar dipangkas sebelum sempat tumbuh, digantikan dengan daftar tugas teknis. Anak muda pun merasa hanya dibutuhkan tenaganya untuk angkat kursi, pasang tenda, menjadi seksi konsumsi, atau mengurus sound system—tetapi suara dan pemikiran mereka dianggap angin lalu.

Lebih menyedihkan lagi ketika mereka datang membawa beban hidup. Anak muda hari ini bergulat dengan kecemasan akan masa depan, kesehatan mental, relasi yang rumit, hingga krisis identitas. Namun, saat mereka memberanikan diri bercerita di lingkungan rohani, respons instan yang sering mereka terima adalah ceramah instan: "Makanya, kamu kurang doa sih," atau "Banyakin novena saja."

Kalimat-kalimat itu memang terdengar sangat rohani di telinga yang mengucapkan, tetapi terasa dingin dan nir-empati di hati yang mendengarkan. Mereka datang mencari rangkulan, tetapi pulang membawa cap "kurang beriman".

Belajar dari Jalan ke Emaus

Jika kita mau menengok Injil, Yesus punya cara pendekatan yang sangat berbeda—bahkan cenderung "menampar" cara kita berpastoral hari ini. Lihatlah kisah dua murid yang berjalan meninggalkan Yer menuju Emaus dalam keadaan kecewa, bingung, dan patah arang (Lukas 24:13-35).

Apa yang Yesus lakukan saat mendekati mereka? Dia tidak langsung membuka gulungan Kitab Suci dan menceramahi mereka karena kurang iman. Yesus memilih berjalan beriringan dan bertanya, "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?"

Yesus—Sang Sabda itu sendiri—memilih untuk diam dan mendengarkan keluh kesah mereka sampai tuntas. Ia membiarkan kedua murid itu menumpahkan segala kekecewaan dan kebingungan mereka tanpa dipotong sedikit pun. Baru setelah mereka merasa didengarkan dan diterima, Yesus mulai menjelaskan Kitab Suci hingga hati mereka kembali berkobar-kobar.

Prinsipnya sederhana: hati manusia tidak akan pernah terbuka pada pengajaran sebelum mereka merasa dipahami.

Dari Monolog Menuju Dialog

Gereja Katolik saat ini sedang gencar berbicara tentang Sinodalitas—berjalan bersama. Namun, kita tidak bisa berjalan bersama jika yang satu terus-menerus berada di depan sambil memberi komando, sementara yang muda dipaksa mengekor di belakang tanpa boleh bersuara.

Sudah saatnya komunitas paroki, lingkungan, dan keluarga Katolik mengubah gaya komunikasi dari monolog menjadi dialog:

  • Tahan hasrat untuk langsung menasihati. Saat anak muda berkeluh kesah, berikan telinga, bukan kutipan ayat. Terkadang mereka hanya butuh divalidasi bahwa lelah dan bingung yang mereka rasakan itu manusiawi.

  • Beri ruang untuk gagal dan berkreasi. Libatkan OMK dalam pengambilan keputusan, bukan sekadar menjadi panitia pelaksana. Biarkan mereka mewarnai gereja dengan cara yang relevan bagi generasi mereka, selama tidak menyimpang dari esensi iman.

  • Hadir sebagai sahabat, bukan pengawas. Jadilah figur yang membuat mereka merasa aman untuk pulang, seberantakan apa pun hidup yang sedang mereka jalani.

Anak muda tidak sedang mencari gereja yang sempurna bak panggung konser. Mereka merindukan gereja yang hangat seperti rumah—tempat di mana mereka tidak dipandang sebagai "masalah yang harus diperbaiki", melainkan sebagai pribadi yang berharga untuk didengarkan.

Jadi, sebelum minggu depan kita kembali mengeluh mengapa bangku gereja makin sepi dari wajah-wajah muda, mari bertanya pada diri sendiri: ketika mereka berbicara, apakah kita sungguh-sungguh mendengarkan, atau kita hanya sedang menyiapkan kalimat untuk mematahkan omongan mereka? (RB)