Hari Minggu, Misa baru saja kelar. Berkat penutup sudah diberikan, dan Romo menutup dengan syahdu, "Pergilah dalam damai." Tapi tunggu sampai di parkiran gereja, damai sejahtera itu mendadak bubar jalan.
Penyebabnya? Obrolan basa-basi usai Misa dengan sesama umat yang berujung pada kalimat keramat di dalam mobil: "Kamu tuh mbok ya kayak anaknya Tante Yuni. Udah juara kelas, rajin tugas jadi lektor, sopan lagi! Nggak kayak kamu yang hobinya rebahan sambil scroll TikTok!"
Wahai Bapak/Ibu yang terkasih dalam Kristus, mari kita duduk sebentar dan tarik napas. Pertanyaannya satu: Kenapa sih kita ini hobi banget bikin anak sendiri ngerasa jadi produk gagal pabrik?
Kita ini rajin ke gereja, sering dengar bacaan Kitab Suci, tapi kadang suka amnesia dengan pelajaran Bina Iman Anak yang paling dasar. Kitab Kejadian dengan sangat jelas mencatat bahwa manusia diciptakan menurut "Gambar dan Rupa Allah." Perhatikan baik-baik: Gambar Allah. Bukan "Gambar Anak Tante Yuni" atau "Fotokopi Anaknya Om Budi."
Tuhan sudah repot-repot mendesain anak Anda dengan karakter yang orisinal, unik, dan limited edition, kok ya Anda malah memaksa mereka jadi barang KW-nya anak tetangga?
Kadang ekspektasi orang tua itu memang luar biasa. Kita menuntut anak kita untuk jadi sesempurna Kanak-Kanak Yesus yang bisa memukau para alim ulama di Bait Allah pada usia 12 tahun. Namun, sebelum menuntut sejauh itu, mari kita ngaca sebentar: Maaf nih, situ emangnya sudah sesabar Bunda Maria atau setulus Santo Yosef?
Kalau orang tuanya saja masih sering misuh-misuh gara-gara diserobot saat antre keluar parkiran gereja, rasanya kurang adil menuntut sang anak menjadi malaikat tak bersayap.
Ingatlah Perumpamaan tentang Talenta dalam Injil Matius. Sang Tuan membagikan talenta sesuai dengan kemampuan hamba-hambanya; ada yang diberi lima, ada yang dua, dan ada yang satu. Poin pentingnya: Tuan itu tidak pernah memarahi hamba yang diberi dua talenta dengan berkata, "Heh, kok hasilmu nggak sebanyak yang dapat lima?!"
Tuhan menghargai proses masing-masing orang. Kalau anak Anda talentanya di bidang seni, biarkan dia menggambar atau bermusik. Jangan dipaksa ikut Olimpiade Fisika sampai berbusa hanya agar Anda punya bahan pameran saat kumpul WKRI (Wanita Katolik Republik Indonesia) atau rapat Bapa-bapa Paroki.
Rumput tetangga memang selalu kelihatan lebih hijau, Bapak/Ibu. Tapi ketahuilah, seringkali itu karena tetangga Anda pintar memakai filter Instagram, atau ya... mereka bayar tukang kebun lebih mahal untuk nutupin tanah yang botak. Setiap keluarga punya pergumulannya sendiri-sendiri yang tidak mereka ceritakan di grup WhatsApp lingkungan.
Maka, mulai hari ini, kurang-kurangilah membandingkan. Berhentilah menatap anak Anda seolah ia adalah draf revisi yang tak kunjung disetujui. Syukuri anak yang dititipkan Tuhan ke pangkuan Anda. Peluk mereka, dukung minatnya, dan doakan masa depannya.
Karena di mata Tuhan, anak Anda adalah sebuah masterpiece. Jangan sampai di mata Anda, ia malah cuma dianggap sebagai copy-paste. Berkah Dalem!
(RB)
(RB)
