Di setiap paroki biasanya ada orang-orang yang sudah sangat lama melayani. Mereka tahu sejarah paroki, mengenal banyak keluarga, tahu siapa yang dulu aktif di lingkungan tertentu, mengenal anak-anak umat sejak kecil, dan memiliki jaringan pertemanan yang luas. Kehadiran orang-orang seperti ini tentu merupakan kekayaan bagi komunitas. Pengalaman mereka, kesetiaan mereka, dan lamanya mereka berjalan bersama Gereja adalah sesuatu yang patut dihargai.
Tetapi ada satu godaan yang kadang muncul justru karena seseorang sudah terlalu lama berada dalam sebuah komunitas: merasa bahwa karena sudah mengenal banyak orang, maka ia juga berhak mengetahui banyak hal tentang kehidupan pribadi mereka.
Di sinilah batas antara peduli dan kepo mulai menjadi sangat tipis.
Ada orang yang ketika mendengar kabar tentang kehidupan pribadi seseorang, radar keingintahuannya langsung menyala. Ada anak umat yang tiba-tiba menikah? Penasaran. Menikah dengan orang berbeda agama? Semakin penasaran. Pernikahannya terlihat mendadak? Perlu dicari tahu. Belum lagi kalau muncul kabar lain mengenai kehamilan, hubungan keluarga, pekerjaan, kondisi ekonomi, atau persoalan pribadi lainnya.
Pertanyaan pun mulai bermunculan: "Sudah kursus belum?" "Kursus privat, ya?" "Kok mendadak?" "Sudah hamil, ya?" Dan yang menarik, penyelidikan seperti ini kadang tidak berhenti ketika persoalan tersebut sudah selesai. Orangnya sudah menikah, masih ditanyakan. Sudah punya anak, masih dibicarakan. Seolah-olah kehidupan orang lain adalah serial yang selalu membutuhkan episode berikutnya.
Padahal ada satu pertanyaan sederhana yang sebenarnya layak kita ajukan kepada diri sendiri sebelum bertanya kepada orang lain:
"Memangnya saya perlu tahu?"
Peduli atau sekadar ingin tahu?
Kita sering membungkus rasa ingin tahu dengan kata yang terdengar jauh lebih mulia: kepedulian. "Saya kan cuma peduli." Kalimat ini memang sulit dibantah. Siapa yang berani mengatakan bahwa kepedulian itu salah?
Masalahnya bukan pada kepedulian. Masalahnya adalah ketika kata peduli digunakan untuk membenarkan keinginan mengetahui sesuatu yang sebenarnya tidak perlu kita ketahui.
Peduli berarti bersedia membantu ketika seseorang membutuhkan pertolongan. Peduli berarti hadir ketika orang lain sedang mengalami kesulitan. Peduli berarti mendoakan, mendengarkan, dan memberikan dukungan ketika dibutuhkan. Peduli tidak selalu berarti mengetahui seluruh cerita hidup seseorang. Bahkan kadang-kadang, bentuk kepedulian yang paling dewasa adalah memberikan ruang kepada orang lain untuk menyimpan sesuatu sebagai urusan pribadinya. Kalau seseorang ingin bercerita, dengarkan. Kalau ia meminta bantuan, bantulah. Kalau ia meminta doa, doakan. Tetapi kalau ia tidak bercerita, tidak berarti kita harus melakukan penyelidikan.
Gereja bukan pusat informasi kehidupan umat
Paroki adalah komunitas umat beriman. Karena itu, kepercayaan seharusnya menjadi salah satu fondasi kehidupan bersama. Ketika seseorang sedang menghadapi persoalan keluarga, perkawinan, anak, ekonomi, atau masalah pribadi lainnya, ia seharusnya dapat merasa aman untuk mencari pertolongan tanpa takut kisah hidupnya berubah menjadi bahan pembicaraan.
Bayangkan kalau budaya kepo menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Seseorang mengalami persoalan keluarga, lalu orang lain mulai bertanya kepada sana-sini. Satu orang mengetahui sedikit. Orang lain mengetahui bagian yang lain. Kemudian potongan-potongan informasi tersebut dirangkai menjadi sebuah cerita.
Masalahnya, tidak seorang pun memiliki seluruh cerita.
Yang kita tahu mungkin hanya hasil akhirnya. Kita tidak tahu pergulatan yang terjadi di dalam keluarga. Kita tidak tahu berapa banyak doa yang sudah dipanjatkan. Kita tidak tahu percakapan yang berlangsung bertahun-tahun. Kita tidak tahu air mata, kebingungan, pertimbangan, dan pergumulan yang mungkin terjadi sebelum sebuah keputusan dibuat.
Namun karena merasa sudah mendapatkan beberapa potongan informasi, kita kemudian merasa cukup tahu untuk bertanya dan bahkan menarik kesimpulan.
Di sinilah rasa ingin tahu dapat berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi sehat.
Tidak semua informasi harus menjadi milik kita
Ada informasi yang memang diperlukan untuk sebuah pelayanan. Ada persoalan yang memang perlu ditangani oleh orang yang tepat. Ada situasi yang membutuhkan pendampingan pastoral. Tetapi ada pula informasi yang seharusnya cukup berhenti di telinga kita. Tidak perlu ditanyakan lagi. Tidak perlu dikonfirmasi kepada orang lain. Tidak perlu diceritakan kepada teman. Tidak perlu dibawa ke percakapan berikutnya. Dan terlebih lagi, tidak perlu dijadikan bahan untuk menebak-nebak kehidupan seseorang.
Kita perlu belajar sebuah kalimat sederhana: "Saya tahu, tetapi saya tidak perlu ikut campur." Ini bukan berarti kita tidak peduli. Ini berarti kita memahami batas.
Orang lama bukan berarti memiliki kartu VIP
Ada sebuah kesalahpahaman yang kadang muncul dalam komunitas mana pun. Karena seseorang sudah lama berada di dalam komunitas, ia merasa memiliki hak istimewa untuk mengetahui berbagai hal tentang orang lain.
"Saya sudah kenal keluarga itu sejak lama."
"Saya tahu orang tuanya."
"Saya sudah puluhan tahun di paroki ini."
Semua itu mungkin benar. Tetapi lamanya kita mengenal seseorang tidak otomatis memberikan kita akses terhadap seluruh kehidupan pribadinya.
Menjadi orang lama bukan berarti memiliki kartu VIP untuk memasuki ruang pribadi orang lain.
Pengalaman dan senioritas seharusnya justru membuat seseorang semakin matang dalam menjaga batas. Semakin lama kita berada di dalam Gereja, seharusnya semakin kita memahami bahwa kepercayaan bukan sesuatu yang boleh dipermainkan. Bukan semakin lama di gereja berarti semakin banyak cerita orang lain yang kita kumpulkan. Justru sebaliknya: semakin lama berjalan bersama umat, semakin kita tahu cerita mana yang harus kita jaga.
Yesus tidak mengajarkan kita menjadi detektif
Kita sering membaca Injil dan berbicara tentang kasih, pengampunan, belas kasih, dan kerendahan hati. Namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, kadang-kadang kita lebih tertarik pada kehidupan orang lain daripada pada pertobatan diri sendiri.
Kita ingin tahu mengapa orang itu menikah.
Kita ingin tahu apa yang terjadi dengan keluarganya.
Kita ingin tahu mengapa anaknya mengambil keputusan tertentu.
Kita ingin tahu apakah kabar yang kita dengar itu benar.
Kita ingin tahu apakah ada sesuatu yang disembunyikan.
Tetapi pertanyaannya: untuk apa?
Apakah informasi itu akan membuat kita mampu mengasihi orang tersebut dengan lebih baik? Apakah informasi itu akan membuat kita mampu menolongnya? Atau sebenarnya kita hanya ingin memuaskan rasa penasaran?
Yesus tidak memanggil kita untuk menjadi detektif kehidupan sesama. Kita dipanggil untuk menjadi saudara. Dan seorang saudara yang baik tidak selalu bertanya, "Apa sebenarnya yang terjadi?" Kadang ia cukup berkata, "Kalau kamu membutuhkan saya, saya ada."
Jangan sampai paroki berubah menjadi "Badan Intelijen"
Tentu saja ini bukan berarti kita harus menjadi komunitas yang sama sekali tidak peduli dengan kehidupan satu sama lain. Gereja bukan kumpulan orang asing yang tidak saling mengenal. Persaudaraan justru berarti kita saling memperhatikan. Tetapi ada perbedaan besar antara saling memperhatikan dan saling mengawasi. Yang pertama melahirkan rasa aman. Yang kedua melahirkan rasa waswas.
Kalau setiap persoalan pribadi umat selalu menjadi bahan pertanyaan dan pembicaraan, lama-kelamaan orang akan belajar satu hal: kalau punya masalah, jangan cerita ke siapa-siapa. Ironis sekali jika orang datang ke gereja untuk mencari tempat yang aman, tetapi justru merasa harus berhati-hati karena takut kehidupan pribadinya menjadi bahan pembicaraan. Gereja seharusnya menjadi tempat orang menemukan belas kasih, bukan tempat orang merasa sedang menjalani pemeriksaan latar belakang.
Pertanyaan yang lebih penting
Sebelum kita bertanya tentang kehidupan orang lain, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:
- Apakah informasi ini benar-benar saya perlukan?
- Apakah orang tersebut meminta saya untuk mengetahuinya?
- Apakah pertanyaan saya akan membantu atau justru membuatnya tidak nyaman?
- Kalau saya berada di posisi orang tersebut, apakah saya ingin ditanya hal yang sama?
- Kalau jawaban atas pertanyaan ini tidak mengubah apa pun dalam pelayanan saya, mengapa saya perlu mengetahuinya?
- Saya sedang ingin membantu, atau sebenarnya hanya ingin tahu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sederhana, tetapi bisa menjadi pemeriksaan batin yang cukup telak. Sebab terkadang kita tidak sedang mencari cara untuk membantu seseorang. Kita hanya sedang mencari cerita baru untuk diketahui.
Tidak semua kehidupan membutuhkan "episode berikutnya"
Ada sesuatu yang perlu kita terima dalam kehidupan bersama: tidak semua cerita akan kita ketahui sampai selesai. Ada orang yang menikah tanpa menjelaskan seluruh prosesnya kepada kita. Itu haknya. Ada keluarga yang memiliki persoalan yang tidak ingin mereka ceritakan. Itu haknya. Ada anak yang mengambil keputusan yang berbeda dari harapan orang tuanya. Itu bagian dari pergumulan mereka. Ada keluarga yang sedang menghadapi sesuatu yang hanya diketahui oleh mereka sendiri dan Tuhan. Kita tidak harus mendapatkan seluruh penjelasan.
Tidak semua kehidupan manusia membutuhkan episode berikutnya untuk kita tonton. Kadang-kadang episode itu memang bukan milik kita. Dan kalau bukan milik kita, biarkanlah.
Pertobatan juga bisa berarti berhenti kepo
Kita sering menganggap pertobatan sebagai perubahan dari dosa besar menjadi hidup yang lebih baik. Tetapi kehidupan rohani juga dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kecil: bagaimana kita berbicara, bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita menggunakan informasi, dan bagaimana kita menghormati batas pribadi.
Mungkin ada saatnya kita perlu berdoa bukan supaya orang lain berubah, tetapi supaya rasa ingin tahu kita sendiri mengalami pertobatan. Supaya kita tahu kapan harus bertanya dan kapan harus diam. Supaya kita tahu kapan harus membantu dan kapan harus memberi ruang. Supaya kita mampu membedakan antara kepedulian dan keingintahuan.
Karena tidak semua yang kita dengar perlu kita cari tahu lebih jauh. Tidak semua yang kita ketahui perlu kita tanyakan. Dan tidak semua yang kita tanyakan perlu kita ceritakan kepada orang lain.
Yang dibutuhkan Gereja bukan orang yang paling banyak tahu
Paroki tidak membutuhkan orang yang paling banyak mengetahui kehidupan pribadi umat. Paroki membutuhkan orang yang paling bisa dipercaya oleh umat. Bukan orang yang ketika mendengar kabar langsung bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi?" Tetapi orang yang berkata, "Kalau kamu membutuhkan bantuan, saya ada." Bukan orang yang mengumpulkan cerita, tetapi orang yang mampu menjaga cerita. Bukan orang yang sibuk mencari siapa yang salah, tetapi orang yang bertanya apa yang bisa dilakukan untuk membantu. Bukan orang yang ingin mengetahui seluruh kehidupan orang lain, tetapi orang yang tahu kapan harus menghormati privasi.
Pada akhirnya, mungkin ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada "Apa yang terjadi dengan orang itu?"
"Apa yang bisa saya lakukan untuk mengasihinya?"
Kalau jawabannya adalah tidak ada, mungkin kita tidak perlu bertanya lebih jauh. Kalau kita tidak bisa membantu, setidaknya jangan menambah beban. Kalau kita tidak diminta berpendapat, jangan buru-buru memberikan penilaian. Kalau kita tidak perlu tahu, jangan memaksa diri untuk tahu. Sebab dalam kehidupan menggereja, ada bentuk pelayanan yang sering dilupakan: menjaga batas.
Dan ada bentuk kasih yang sering dianggap terlalu sederhana: tahu kapan harus berhenti bertanya. (AM)