Pernahkah Anda membayangkan betapa lelahnya menjadi "Sultan" di lingkungan gereja?
Mari kita panggil tokoh kita ini Pak Anton. Pak Anton adalah pengusaha sukses. Mobilnya Eropa, sepatunya kulit asli, dan rumahnya di kawasan elit. Namun, suatu Minggu, setelah mendengarkan homili yang berapi-api tentang semangat kemiskinan St. Fransiskus dari Asisi dan bahaya materialisme, hati Pak Anton tergerak.
Ia lelah dengan hiruk-pikuk duniawi. Ia ingin downsizing. Ia ingin hidup sederhana, fokus pada keheningan batin, mengurangi kemewahan, dan hidup secukupnya saja. Sebuah niat yang sangat injili, bukan?
Sayangnya, realitas di lapangan tidak seindah buku hagiografi orang kudus. Ketika Pak Anton mulai menjual koleksi mobil mewahnya dan datang ke gereja hanya dengan mengendarai mobil LCGC yang penyok sedikit di bemper kiri, apa yang terjadi? Lingkungannya tidak memujinya sebagai pahlawan kesederhanaan. Lingkungannya justru panik.
"Wah, Pak Anton habis jual Rubicon ya? Berarti ada dana cair nih! Pas banget, Pak, panitia Paskah lagi defisit lima puluh juta. Bapak bisa cover seksi dekorasi dan konsumsi, kan?" todong ketua panitia dengan senyum paling manis yang pernah diciptakan umat manusia.
Di sinilah letak ironi gerejawi kita. Ketika seorang yang kaya raya ingin melepaskan diri dari kelekatan harta benda, umat di sekitarnya malah menuntutnya untuk terus mendemonstrasikan kekayaannya melalui jalur donasi.
Sindrom "Sultan Paroki"
Di banyak paroki, ada hukum tak tertulis bahwa orang kaya adalah shock absorber dari segala ambisi pembangunan gereja. Mau bikin retret ke luar kota tapi dana umat pas-pasan? Tenang, ada Pak Anton. Mau ganti AC gereja yang sudah berbunyi seperti traktor? Masukkan proposal ke grup WhatsApp, jangan lupa tag Pak Anton.
Masalahnya, lingkungan gereja kadang lupa bahwa orang kaya juga manusia biasa yang butuh bertumbuh secara spiritual. Bertumbuh itu tidak melulu soal seberapa banyak nominal yang bisa ditransfer ke rekening Panitia Pembangunan Gereja (PPG). Kadang, mereka hanya ingin duduk di bangku umat, menyanyi sumbang, menyambut komuni, lalu pulang dengan damai tanpa harus dicegat di depan pintu keluar oleh seksi dana yang membawa map proposal berwarna merah.
Ketika Pak Anton memutuskan untuk hidup sederhana, ia sedang mencoba memotong rantai konsumerisme pribadinya. Namun, menuntutnya untuk terus menjadi donatur utama sama saja dengan memaksa ia tetap berada dalam mindset bahwa "nilai utamanya di mata gereja adalah isi dompetnya".
Biarkan Mereka Miskin (Secara Rohani)
Tentu saja, berdonasi adalah perbuatan mulia. Gereja memang butuh dana operasional. Sedekah dan persembahan adalah wujud syukur. Namun, mari kita bersikap adil. Menjadi donatur seharusnya adalah panggilan sukarela yang lahir dari kebebasan batin, bukan beban sosial atau "pajak kekayaan" yang ditagih secara pasif-agresif oleh lingkungan.
Jika seorang "Sultan" di paroki Anda mulai memakai baju yang itu-itu saja, berhenti pamer liburan, dan menolak mensponsori doorprize utama acara tujuh belasan di gereja, jangan buru-buru bergosip bahwa bisnisnya sedang bangkrut. Siapa tahu, dia memang sedang mempraktikkan kesederhanaan.
Sudah saatnya gereja berhenti menjadikan umat yang mapan sebagai "ATM berjalan". Mari biasakan patungan bersama, yang ringan sama dijinjing, yang berat sama dipikul, tanpa harus menunggu subsidi silang dari satu-dua orang kaya.
Beri ruang bagi para "Sultan" ini untuk mengalami Tuhan dalam keheningan, bukan hanya dalam tepuk tangan panitia saat laporan pertanggungjawaban dibacakan. Karena pada akhirnya, di hadapan Tuhan, kita semua ini miskin—terlepas dari apakah kita masuk daftar donatur VVIP atau tidak.
*(JUN)