Pagi itu, Anda tetap bangun pagi, mandi, berpakaian rapi, dan memanaskan kendaraan di garasi. Bahkan mungkin Anda tetap keluar rumah pada jam yang sama seperti biasanya dan baru pulang saat matahari terbenam. Tujuannya cuma satu: agar tetangga sebelah tidak curiga kalau Anda baru saja di-PHK.
Familiar dengan skenario ini?
Kehilangan pekerjaan memang pukulan telak. Ada rasa cemas memikirkan tagihan bulan depan, biaya sekolah anak, dan cicilan yang terus berjalan. Namun, anehnya, bagi banyak dari kita, ada beban lain yang terkadang terasa jauh lebih berat dari sekadar masalah finansial: rasa malu dan gengsi.
Kita takut menjadi bahan omongan ibu-ibu di tukang sayur. Kita cemas nama kita akan dikasihani (atau diam-diam disyukuri) di grup WhatsApp RT. Alhasil, kita memilih bersembunyi di balik topeng kesibukan palsu.
Sebagai umat Katolik, bagaimana seharusnya kita menyikapi pergumulan batin ini?
1. ID Card Perusahaan Bukan Penentu Harga Diri Anda
Dunia modern sering menjebak kita untuk mengukur nilai seseorang dari apa profesinya dan seberapa besar gajinya. Ketika pekerjaan itu hilang, kita merasa harga diri kita ikut terkikis habis.
Namun, iman Katolik mengajarkan hal yang jauh lebih indah: martabat Anda melekat pada status Anda sebagai Imago Dei (Gambar dan Rupa Allah). Tuhan mengasihi Anda bukan karena Anda seorang manajer, direktur, atau staf senior. Tuhan mengasihi Anda karena Anda adalah anak-Nya. Harga diri Anda divalidasi oleh salib Kristus, bukan oleh selembar surat keputusan dari HRD.
2. Melepaskan Kesombongan yang Tersembunyi
Rasa malu yang berlebihan kepada tetangga sering kali berakar pada kesombongan tersembunyi (pride). Kita terbiasa terlihat mandiri, sukses, dan "aman" di mata dunia, sehingga kita tidak siap terlihat rapuh.
Ingatlah bahwa Yesus Kristus sendiri menghabiskan sebagian besar hidup-Nya sebagai tukang kayu yang sederhana di desa kecil Nazaret. Ia tidak pernah peduli dengan pandangan status sosial pada zaman-Nya. Bahkan, Santo Paulus justru mengingatkan kita, "Sebab itu aku senantiasa bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (2 Korintus 12:9). Menerima kejatuhan dengan kerendahan hati adalah langkah pertama menuju pemulihan.
3. Gereja (dan Lingkungan) adalah Tempat Berbagi Salib
Ketika kita berbohong untuk menutupi status pengangguran kita, kita sedang memikul salib sendirian. Padahal, kita hidup di tengah komunitas. Siapa tahu, dengan sedikit membuka diri tentang kondisi Anda, Tuhan justru sedang menyiapkan jalan rezeki yang baru?
Banyak kesaksian di mana pekerjaan baru justru datang dari informasi tetangga atau sesama umat di lingkungan Wilayah/KUB, ketika kita berani meruntuhkan gengsi dan berkata jujur, "Saya sedang mencari peluang baru."
Berhenti Bermain Petak Umpet
Kehilangan pekerjaan bukanlah sebuah dosa besar atau aib keluarga. Itu hanyalah sebuah musim kehidupan. Sebuah koma, bukan titik.
Mulai besok pagi, Anda tidak perlu lagi bersandiwara memakai kemeja rapi hanya demi pandangan tetangga sebelah. Gunakan waktu luang di rumah untuk menata kembali mental Anda, memperbarui CV, mendekatkan diri pada keluarga, dan yang terpenting: duduk dalam hening bersama Tuhan.
Mintalah penyertaan Santo Yosef sang Pekerja, yang juga pernah berkali-kali dihadapkan pada ketidakpastian nasib keluarganya, namun tetap berserah penuh pada Penyelenggaraan Ilahi. Tuhan tahu apa yang Anda butuhkan, dan tetangga Anda... biarkan saja mereka mengurus halaman rumahnya sendiri. (GAD)