Hati-hati dengan Label "Tidak Aktif"

Mengapa Kita Perlu Berhenti Menghakimi Ketidakhadiran Sesama Umat

Dalam dinamika hidup menggereja, baik di tingkat lingkungan maupun paroki, kehadiran fisik sering kali dijadikan tolok ukur utama keterlibatan seseorang. Ketika ada umat yang rajin hadir di setiap pertemuan doa, rapat panitia, atau kegiatan sosial, mereka dengan cepat mendapat predikat sebagai "umat yang aktif". Sebaliknya, ketika ada seseorang yang jarang atau bahkan tidak pernah menampakkan diri, stempel "tidak aktif" atau "kurang beriman" sering kali disematkan tanpa pikir panjang.

Namun, benarkah keaktifan iman hanya diukur dari daftar presensi? Dan yang lebih penting, berhakkah kita menghakimi ketidakhadiran mereka?

Realita Kehidupan yang Tidak Kita Ketahui (Fenomena Gunung Es)

Apa yang kita lihat di gereja atau di ruang pertemuan lingkungan hanyalah puncak gunung es dari kehidupan seseorang. Kita sering kali lupa bahwa setiap keluarga membawa salib dan pergumulannya masing-masing di balik pintu rumah mereka yang tertutup.

Ketika kita dengan mudah mengecap seseorang "tidak aktif", kita mungkin tidak tahu bahwa:

  • Bisa jadi mereka sedang berjuang mati-matian secara finansial, terpaksa mengambil jam kerja tambahan, atau kelelahan secara fisik setelah bekerja seharian demi menghidupi keluarga.

  • Bisa jadi mereka sedang kehabisan tenaga karena harus merawat anak balita yang sedang aktif-aktifnya, sekaligus mendampingi anak-anak mereka yang lain belajar dan beraktivitas di rumah.

  • Bisa jadi mereka sedang mengalami pergumulan batin, depresi, atau konflik keluarga yang membuat mereka merasa tidak pantas atau tidak memiliki energi untuk bersosialisasi.

Menghakimi mereka karena tidak hadir pada kegiatan doa lingkungan pada malam hari, padahal mereka sudah kehabisan energi sejak sore, adalah sebuah tindakan yang jauh dari semangat belas kasih.

Cara Pandang Allah vs. Cara Pandang Manusia

Kitab Suci dengan tegas mengingatkan kita tentang kecenderungan manusia yang sering kali hanya melihat kulit luarnya saja. Dalam 1 Samuel 16:7, Allah berfirman:

"Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

Seseorang yang jarang hadir di kegiatan paroki mungkin saja adalah orang yang dengan setia mempraktikkan kasih Kristus di tempat kerjanya, menjadi pahlawan bagi keluarganya, atau sering membantu orang miskin dalam diam. Keaktifan beriman sejatinya adalah bagaimana kita menghidupi Injil dalam keseharian, bukan sekadar seberapa sering wajah kita terlihat di area gereja.

Menghakimi orang lain justru menjebak kita pada dosa kesombongan rohani (spiritual pride), di mana kita merasa lebih suci hanya karena kita punya lebih banyak waktu luang untuk kegiatan gereja.

Mengubah Sikap: Dari Menghakimi Menjadi Merangkul

Sebagai komunitas beriman, tugas kita bukanlah menjadi pengawas presensi, melainkan menjadi saudara. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa kita ambil ketika melihat ada umat yang jarang hadir:

  • Ganti Asumsi dengan Empati: Alih-alih berasumsi mereka malas, asumsikanlah bahwa mereka sedang sibuk, lelah, atau memiliki beban berat. Empati menutup pintu bagi gosip.

  • Sapa secara Pribadi, Bukan Menegur: Jika kebetulan bertemu, sapalah dengan hangat. Tanyakan kabar keluarga dan kesehatan mereka tanpa menyisipkan kalimat sindiran seperti, "Wah, ke mana saja nih baru kelihatan?" Kalimat semacam itu sering kali membuat orang semakin malas untuk datang kembali.

  • Tawarkan Bantuan Jik Diperlukan: Daripada menuntut kehadiran mereka, cobalah tawarkan kehadiran kita dalam hidup mereka. "Apakah ada yang bisa kami bantu doa atau dukungan lainnya?"

  • Doakan Mereka: Masukkan nama-nama keluarga yang jarang terlihat dalam intensi doa pribadi maupun doa umat di lingkungan. Biarkan Roh Kudus yang bekerja menyentuh hati mereka di waktu yang tepat.

Gereja adalah rumah sakit bagi mereka yang berjuang, bukan sekadar klub eksklusif bagi mereka yang memiliki waktu luang. Mari kita ciptakan lingkungan dan paroki yang ramah, di mana setiap orang merasa dirangkul saat mereka hadir, dan dirindukan—bukan dihakimi—saat mereka tidak ada.

(HE)