Pernahkah Anda berdiri di gereja, entah sebagai lektor yang baru selesai membacakan sabda, anggota koor yang usai menyanyikan mazmur dengan nada tinggi yang sempurna, atau panitia pembangunan yang baru saja mempresentasikan desain megah, lalu tiba-tiba terlintas sebuah pikiran: "Coba kalau bukan saya yang pegang ini, pasti berantakan." Atau mungkin, Anda merasa jengkel setengah mati, bahkan sampai mengancam mundur dari kepengurusan, hanya karena usulan Anda dicoret dalam rapat Dewan Paroki Pleno?
Jika iya, selamat. Anda baru saja mencium bau menyengat dari sesuatu yang kita sebut 'Ego', yang diam-diam menyusup di tengah harumnya asap dupa pelayanan.
Mari kita bicara jujur, tanpa basa-basi liturgis atau kepalsuan senyum kesalehan. Garis batas antara melayani Tuhan dan melayani diri sendiri itu ternyata setipis hosti. Sering kali, kita melangkah masuk ke dalam kepengurusan gereja dengan niat yang begitu suci dan berkobar. Namun, seiring berjalannya waktu, jabatan, dan tepuk tangan, altar pengorbanan perlahan-lahan berubah fungsi menjadi panggung sandiwara. Kita tidak lagi mencari kemuliaan Allah dalam pelayanan kita, melainkan mencari panggung kehormatan, pengakuan eksistensi, atau setidaknya rasa 'penting' di mata pastor paroki dan komunitas.
Pelayanan atau Ajang Pencitraan Rohani?
Konflik antara kepentingan pribadi dan pelayanan di gereja tidak selalu bermanifestasi dalam bentuk ekstrem seperti penggelapan uang kolekte atau skandal besar. Godaan terbesarnya justru jauh lebih halus, licin, dan terbungkus rapi dalam jubah "kerohanian". Berikut adalah beberapa gejalanya:
Haus Pengakuan dan "Lampu Sorot": Kita mulai mengukur kualitas pelayanan dari seberapa sering nama kita disebut dalam sambutan ketua panitia, atau minimal, apakah wajah kita terpampang jelas di baris depan foto warta paroki. Jika kontribusi kita luput dari apresiasi, kita seketika mogok pelayanan, merasa tidak dihargai, dan menebar playing victim ke sesama umat. Pelayanan berubah menjadi transaksi: saya memberi waktu saya, gereja harus memberi saya panggung.
Sindrom 'Pemegang Kunci Keselamatan' (Merasa Paling Suci): Ini adalah penyakit kronis para aktivis gereja. Karena sering rapat di pastoran dan mengenal banyak romo, kita mulai menghakimi umat lain yang 'hanya' datang misa hari Minggu. Kita merasa diri sebagai "satpam surga" yang berhak menentukan siapa yang layak melayani dan siapa yang tidak. Kita menjadi eksklusif, membentuk klik-klik elitis dalam kategorial, dan lupa bahwa gereja adalah rumah sakit bagi pendosa, bukan museum bagi orang suci.
Ambisi Kekuasaan Berbalut "Inisiatif Pastoral": Gereja bukanlah korporasi multinasional, tapi anehnya, kita sering membawanya seolah-olah ada hierarki karier yang harus didaki. Kita berebut posisi ketua seksi atau koordinator wilayah. Mengapa? Bukan karena kita ingin menderita lebih banyak dalam melayani, tapi karena kita ingin mengatur lebih banyak orang. Ketika ego memegang kendali, rapat paroki berubah menjadi arena unjuk gigi, adu argumen demi gengsi, dan menolak ide cemerlang orang lain hanya karena gengsi senioritas.
Bahaya Membangun Kerajaan Sendiri di Rumah Tuhan
Kisah Ananias dan Safira dalam Kisah Para Rasul adalah contoh kelam ketika pelayanan dicampuradukkan dengan kepentingan pribadi. Mereka menjual harta untuk diserahkan kepada rasul-rasul, namun diam-diam menahan sebagian untuk diri sendiri. Bukan jumlah uangnya yang menjadi masalah, melainkan kebohongan dan motif tersembunyi di baliknya. Mereka ingin terlihat dermawan dan saleh, padahal hati mereka terikat pada kepentingan pribadi.
Dalam konteks pelayanan gereja saat ini, "menahan sebagian" bisa berarti menahan ketulusan, menyembunyikan motif mencari popularitas di balik aktivitas amal, atau memanfaatkan jaringan gereja untuk kepentingan bisnis pribadi (ini juga sering terjadi!).
Yesus bersabda dengan sangat gamblang: "Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani" (Matius 20:28). Pertanyaan refleksinya menyakitkan: Apakah kita sedang mengikuti teladan-Nya yang merendahkan diri, atau kita sedang asyik mendandani ego kita dengan atribut-atribut kerohanian?
Kembali ke Esensi: Pelayanan Sejati Itu 'Menyakitkan'
Mari kita definisikan ulang makna pelayanan. Pelayanan sejati itu menyakitkan bagi ego. Ia menuntut kerendahan hati yang radikal untuk bersedia melakukan pekerjaan "kotor" di belakang layar—menyapu halaman gereja, merapikan buku puji syukur—tanpa ada satu orang pun yang melihat atau mengucapkan terima kasih.
Pelayanan sejati menuntut kesabaran tingkat dewa saat menghadapi umat yang cerewet, banyak protes, atau panitia yang lamban, bukan justru membalasnya dengan ketus atau ancaman mundur. Jika pelayanan Anda justru membuat Anda semakin sombong, gampang tersinggung, eksklusif, dan malah menjauhkan Anda dari kasih persaudaraan sejati, maka sadarilah: Anda tidak sedang melayani di altar. Anda sedang sibuk membangun Menara Babel bagi kejayaan diri Anda sendiri, tepat di dalam rumah Tuhan.
Menyalibkan "Tuan Ego"
Tuhan yang Mahakuasa sejatinya tidak membutuhkan kehebatan suara kita, kecerdasan manajerial kita, atau kekayaan kita untuk menjalankan gereja-Nya. Dia mencari ketaatan yang hancur hati dan kerelaan yang murni.
Mari kembali memandang salib. Di sana, kepentingan pribadi ditanggalkan demi keselamatan banyak orang. Mulailah membersihkan niat setiap kali kita melangkah ke ruang rapat paroki atau naik ke mimbar. Bunuh "Tuan Ego" yang diam-diam ingin bertahta di hati kita. Jadikanlah setiap hembusan napas pelayanan kita murni dan tak bercacat hanya untuk kemuliaan-Nya. Sebab pada akhirnya, di hadapan takhta pengadilan-Nya nanti, yang dihitung bukan berapa kali nama kita disebut dalam warta paroki, melainkan seberapa tulus kita mencuci kaki sesama. (*)
*Penulis adalah umat Paroki MBSB Kota Wisata yang sudah cukup lama berkecimpung dalam dunia pelayanan.
