Aib Keluarga Kok Dibikin Story?

Pernah nggak sih, pagi-pagi baru bangun tidur, nyeduh kopi, terus iseng buka WhatsApp atau Instagram. Niatnya mau lihat update cuaca atau meme lucu, eh malah disuguhi "sinetron azab" versi Story dari kontak kita.

"Punya ipar kok nggak tahu diri, pinjem duit nggak pernah balik!""Ternyata mertua sendiri lebih berbisa dari ular kobra.""Capek ngurus anak, suami cuma bisa main game terus. #LelahHati #ButuhPiknik"

Jempol kita mungkin gatal ingin membalas dengan emoji api atau popcorn 🍿, sambil bergumam dalam hati, "Wah, ada drama baru nih." Tapi mari kita jeda sejenak dan berpikir gaya Katolik: sejak kapan masalah ruang makan harus diselesaikan di kolom komentar?

Netizen Bukan Romo, Nggak Bisa Kasih Absolusi 

Sebagai orang Katolik, kita ini sebenarnya umat yang paling beruntung. Kalau kita punya dosa, kita punya Sakramen Tobat. Kita bisa masuk ke ruang pengakuan, cerita ke Romo secara rahasia (Romo terikat Sigillum Confessionis alias rahasia pengakuan), dan pulang bawa kelegaan hati beserta absolusi.

Anehnya, kalau urusan konflik keluarga, kita malah lebih suka "mengaku" di media sosial. Sayangnya, netizen itu bukan Romo. Bukannya dikasih absolusi dan penebusan dosa, yang ada masalahnya malah makin panas karena dikompor-komporin oleh netizen yang kurang piknik. Keluarga yang tadinya cuma retak rambut, eh malah hancur lebur jadi debu karena gengsi yang sudah terlanjur viral.

Bayangkan Kalau Keluarga Kudus Punya Medsos 

Coba kita pakai imajinasi sedikit. Bayangkan kalau Santo Yosef punya akun Facebook. Saat tahu Maria mengandung padahal mereka belum hidup bersama, apa Yosef bikin status: "Galau berat... Tunangan tiba-tiba hamil. Ada saran, lur? #Kecewa #BatalNikah"? Tentu tidak! Alkitab mencatat Yosef berniat menceraikan Maria secara diam-diam untuk melindungi nama baiknya, sebelum akhirnya malaikat datang mencerahkan (Matius 1:19).

Atau ingat peristiwa Yesus yang hilang tiga hari di Bait Allah (Lukas 2)? Bunda Maria tidak buru-buru buka TikTok Live sambil menangis, "Guys, bantu share dong, anakku hilang di Yerusalem! Yang nemuin kasih info ya!" Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan mencari Yesus secara langsung.

Matius 18:15 vs Algoritma Medsos 

Tuhan Yesus sendiri sudah memberi "SOP" yang sangat jelas soal konflik. Dalam Matius 18:15 dikatakan: "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata."

Perhatikan baik-baik. Yesus berkata "di bawah empat mata", bukan "di bawah ribuan followers". Yesus tidak pernah bersabda: "Apabila saudaramu berbuat dosa, viralkanlah dia sampai masuk FYP, agar ia di-cancel oleh masyarakat."

Membawa masalah keluarga ke ranah publik tidak menyelesaikan masalah, melainkan hanya memberi makan ego kita yang sedang lapar akan validasi. Saat kita mem-posting kemarahan, kita sebenarnya sedang menelanjangi martabat keluarga kita sendiri yang seharusnya menjadi Ecclesia Domestica (Gereja Rumah Tangga).

Jempol untuk Rosario, Bukan untuk Ngomel 

Jadi, mari kita buat komitmen baru. Kalau sedang emosi dengan suami, istri, anak, mertua, atau ipar, jauhkan smartphone dari jangkauan tangan. Ambil napas panjang. Kalau jempol rasanya masih gatal mau beraksi, daripada dipakai mengetik capslock di Twitter atau Instagram, mending dipakai buat memutar biji-biji Rosario. Bawa kekesalan itu ke hadapan Sakramen Mahakudus. Marah-marah sama Tuhan di ruang adorasi itu jauh lebih aman dan menyembuhkan daripada marah-marah di dunia maya.

Yuk, kembalikan masalah keluarga ke meja makan keluarga, bukan ke beranda media sosial. Karena sebaik-baiknya filter Instagram, ia tidak akan pernah bisa menutupi aib keluarga yang sudah terlanjur kita sebar sendiri.

Pax et Bonum!

*OM