Di era modern yang serba cepat, di mana kesuksesan sering kali diukur dari kekayaan materi, pencapaian karier, dan popularitas di media sosial, sebuah pertanyaan kritis sering muncul di kalangan umat: "Apakah panggilan hidup membiara atau imamat masih relevan saat ini?"
Bagi sebagian orang, memilih untuk hidup miskin, murni, dan taat (kaul kebiaraan) atau mempersembahkan seluruh hidup untuk melayani Gereja (imamat) tampak seperti pilihan yang usang atau tidak rasional. Namun, jika kita melihat lebih dalam pada kondisi dunia saat ini, kehadiran para imam, biarawan, dan biarawati justru menjadi semakin krusial.
Berikut adalah beberapa alasan mengapa hidup bakti dan imamat tidak hanya masih relevan, tetapi sangat dibutuhkan di zaman ini.
1. Menjadi "Tanda Kontradiksi" di Tengah Dunia
Dunia modern sering kali menawarkan ilusi bahwa kebahagiaan mutlak didapat dari uang, kekuasaan, dan kebebasan tanpa batas. Hidup membiara hadir sebagai sebuah tanda kontradiksi yang sehat:
Kaul Kemiskinan: Mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada apa yang kita miliki, melainkan pada siapa kita bersandar (Tuhan).
Kaul Kemurnian: Menjadi saksi bahwa cinta sejati dan pemberian diri yang utuh dapat melampaui kepuasan fisik, serta menunjukkan kasih Allah yang universal.
Kaul Ketaatan: Menawarkan penawar bagi kebanggaan dan individualisme ekstrem, menunjukkan keindahan dari mendengarkan dan mengikuti kehendak Tuhan.
2. Oase di Tengah Kekeringan Spiritual
Teknologi telah menghubungkan kita secara digital, namun ironisnya, tingkat kesepian, kecemasan, dan depresi semakin meningkat. Manusia modern sangat haus akan makna dan kedamaian batin.
Para biarawan/biarawati yang hidup dalam doa dan kontemplasi menjadi penopang spiritual bagi dunia yang terlalu sibuk untuk berdoa.
Kehadiran mereka di bidang pendidikan, kesehatan, dan panti-panti sosial membawa sentuhan kasih Kristus yang nyata kepada mereka yang terpinggirkan.
3. Pelayan Sakramen yang Tak Tergantikan
Bagi umat Katolik, Sakramen adalah saluran rahmat utama. Tanpa adanya imam, kita tidak memiliki akses kepada Ekaristi dan Sakramen Tobat.
Ekaristi: Imam adalah alat yang dipilih Kristus untuk menghadirkan kembali Diri-Nya dalam rupa roti dan anggur.
Pengampunan: Melalui Sakramen Rekonsiliasi, imam menjadi perpanjangan tangan kerahiman Allah yang mengampuni dan menyembuhkan luka-luka dosa kita. Kebutuhan akan rahmat Allah tidak akan pernah lekang oleh waktu, dan karena itu, peran imam akan selalu esensial.
4. Pendampingan Gembala yang Berbelas Kasih
Di tengah kebingungan moral dan kompleksitas masalah keluarga maupun pribadi saat ini, umat membutuhkan sosok bapa rohani. Seorang imam atau rohaniwan/rohaniwati sering kali menjadi tempat pertama yang didatangi umat saat mereka menghadapi krisis. Mereka memberikan bimbingan rohani, penghiburan, dan telinga yang siap mendengarkan tanpa menghakimi.
Panggilan Adalah Inisiatif Allah
Penting untuk diingat bahwa imamat dan hidup membiara bukanlah sebuah profesi atau karier, melainkan sebuah panggilan (vokasi). Inisiatifnya selalu datang dari Allah. Jika Allah masih terus memanggil orang-orang muda di zaman ini, itu berarti Dia tahu bahwa dunia ini masih membutuhkan mereka.
Tugas kita sebagai Gereja—baik keluarga, lingkungan, maupun paroki—adalah menciptakan lingkungan yang subur bagi benih-benih panggilan itu untuk tumbuh.
"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." (Matius 9:37-38)
Hidup membiara dan imamat akan selalu relevan selama manusia masih membutuhkan Tuhan, membutuhkan pengampunan, dan membutuhkan cinta kasih. Mari kita terus mendoakan para imam, biarawan, dan biarawati kita, serta mendukung kaum muda yang sedang merespons panggilan Tuhan di dalam hati mereka. (EKZ)
