"Segala sesuatu yang kamu lakukan, lakukanlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23)
Di era sekarang, kita sering mendengar nasihat, "Ikutilah passion-mu." Di sisi lain, banyak orang juga didorong untuk mengejar karier yang menjanjikan demi masa depan yang lebih baik. Tidak sedikit pula yang bertanya dalam doa, "Tuhan, sebenarnya apa kehendak-Mu atas hidupku?"
Lalu, bagaimana seorang Katolik memandang hubungan antara karier, passion, dan kehendak Tuhan?
Karier: Sarana, Bukan Tujuan Hidup
Karier merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Melalui pekerjaan, kita memenuhi kebutuhan keluarga, mengembangkan talenta, melayani sesama, dan mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah.
Namun, Gereja mengajarkan bahwa pekerjaan bukanlah tujuan akhir hidup manusia. Tujuan hidup kita adalah bersatu dengan Allah dan mencapai kekudusan. Karier hanyalah salah satu jalan untuk menghidupi panggilan tersebut.
Ketika karier menjadi pusat hidup, seseorang mudah mengukur nilai dirinya hanya dari jabatan, penghasilan, atau prestasi. Padahal martabat kita tidak ditentukan oleh profesi, melainkan karena kita adalah anak-anak Allah.
Passion adalah Anugerah
Passion sering dipahami sebagai sesuatu yang membuat kita bersemangat, menikmati pekerjaan, atau merasa "hidup" ketika melakukannya.
Tidak ada yang salah dengan passion. Bahkan, bisa jadi passion adalah salah satu cara Tuhan menunjukkan talenta yang Ia percayakan kepada kita.
Namun demikian, passion bukan satu-satunya kompas dalam mengambil keputusan hidup. Ada kalanya kita dipanggil melakukan sesuatu yang tidak selalu sesuai dengan kesenangan pribadi, tetapi justru menjadi jalan pertumbuhan iman dan kasih.
Yesus sendiri menunjukkan bahwa melakukan kehendak Bapa tidak selalu mudah. Di Taman Getsemani, Ia berdoa:
"Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Lukas 22:42)
Artinya, mengikuti kehendak Tuhan kadang menuntut pengorbanan, kesetiaan, dan keberanian melampaui rasa nyaman.
Kehendak Tuhan Tidak Selalu Berarti Jalan yang Paling Mudah
Ada anggapan bahwa jika suatu pilihan adalah kehendak Tuhan, maka semuanya akan berjalan mulus. Kenyataannya tidak selalu demikian.
Dalam Kitab Suci, banyak tokoh dipanggil justru menuju jalan yang penuh tantangan. Nabi Musa harus menghadapi Firaun. Nabi Yeremia mengalami penolakan. Para rasul menghadapi penganiayaan. Bahkan Santo Paulus berkali-kali dipenjara.
Kehendak Tuhan bukan selalu jalan yang paling nyaman, tetapi jalan yang membawa kita semakin mengasihi Allah dan sesama.
Karena itu, ketika mempertimbangkan pekerjaan atau karier, pertanyaan yang baik bukan hanya:
"Apakah aku akan sukses?"
Tetapi juga:
Apakah pekerjaan ini membantuku bertumbuh dalam iman?
Apakah aku tetap dapat hidup jujur dan berintegritas?
Apakah pekerjaanku menjadi berkat bagi orang lain?
Apakah aku masih memiliki waktu untuk keluarga, ibadah, dan pelayanan?
Membedakan Kehendak Tuhan
Membedakan kehendak Tuhan bukan berarti menunggu suara dari langit. Gereja mengajarkan bahwa Allah berbicara melalui banyak cara:
doa yang tekun;
Kitab Suci;
ajaran Gereja;
nasihat dari orang-orang bijaksana;
situasi hidup yang diizinkan-Nya terjadi;
serta damai sejahtera yang lahir dari keputusan yang benar.
Proses ini membutuhkan kerendahan hati dan kesabaran. Tidak semua jawaban datang seketika.
Ketika Passion dan Kehendak Tuhan Bertemu
Ada orang yang menemukan passion dan panggilannya berada di tempat yang sama. Mereka merasa sukacita sekaligus mampu memberi manfaat besar bagi banyak orang.
Namun ada pula yang awalnya tidak menyukai pekerjaannya, tetapi justru menemukan makna mendalam setelah menjalaninya dengan setia. Seorang guru, perawat, petugas kebersihan, pegawai administrasi, atau pengusaha dapat menjadi saksi kasih Kristus melalui pekerjaannya sehari-hari.
Yang membuat pekerjaan menjadi kudus bukan semata-mata jenis profesinya, melainkan kasih dan kesetiaan saat menjalankannya.
Menjadikan Kristus sebagai Pusat
Karier bisa berubah. Passion bisa berkembang. Kesempatan hidup bisa datang dan pergi.
Tetapi Kristus tetap sama, dahulu, sekarang, dan selama-lamanya.
Maka, sebelum bertanya, "Pekerjaan apa yang paling menghasilkan?" atau "Apa passion-ku?", mungkin kita perlu lebih dahulu bertanya:
"Tuhan, bagaimana melalui pekerjaan ini aku dapat semakin mengasihi-Mu dan melayani sesama?"
Ketika Kristus menjadi pusat hidup, karier tidak lagi sekadar tentang kesuksesan pribadi, passion tidak lagi sekadar tentang kepuasan diri, melainkan semuanya menjadi sarana untuk memuliakan Allah.
Dengan demikian, apa pun profesi kita—dokter, guru, pegawai, wirausaha, ibu rumah tangga, mahasiswa, atau pekerja sederhana—setiap pekerjaan dapat menjadi altar tempat kita mempersembahkan hidup bagi Tuhan.
Sebab pada akhirnya, panggilan terbesar setiap orang Kristiani bukanlah menjadi orang yang paling sukses, melainkan menjadi murid Kristus yang setia. (UH)
