Dari Tenda Sederhana Menuju Keluarga Sinodal Bermisi: Refleksi 18 Tahun Paroki Maria Bunda Segala Bangsa

Perayaan Ulang Tahun ke-18 Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Kota Wisata bukan sekadar perayaan pertambahan usia, melainkan sebuah momen untuk menengok kembali jejak rahmat Tuhan di atas tanah berlumpur, dan memandang ke depan menuju panggilan perutusan yang baru. Menginjak usia yang semakin dewasa ini, Paroki MBSB diajak untuk menyelaraskan detak jantungnya dengan arah pastoral Keuskupan Sufragan Bogor di tahun 2026.

Mengenang Akar Sejarah: Menemukan Rahmat dalam Keprihatinan

Jika kita memutar waktu kembali, benih iman di paroki ini berawal dari sebuah lingkungan kecil di bawah naungan Paroki Keluarga Kudus Cibinong, yang kemudian bertumbuh menjadi Stasi Yohanes Berchmans Cileungsi pada tahun 1988. Pelayanan Ekaristi pada masa itu dirayakan secara berpindah-pindah dari rumah ke rumah.

Kenangan paling mendalam tentu terukir di tahun 2004. Ketika perayaan Ekaristi terpaksa dipindahkan dari selasar Sekolah BHK ke areal gereja yang belum selesai dibangun, umat harus beribadah di bawah tenda darurat. Tanpa atap yang memadai dan hanya beralaskan tanah, umat kerap merasa kepanasan, bahkan basah kuyup dan penuh lumpur saat hujan turun. Namun, anehnya, di tengah keterbatasan fasilitas di kawasan perumahan Kota Wisata tersebut, jumlah umat justru bertumbuh dengan sangat pesat. Kesulitan itu tidak menciutkan nyali, melainkan memperkuat solidaritas.

Sejak diangkat menjadi Paroki Persiapan pada 21 Juli 2004, MBSB memiliki karakteristik yang unik: paroki ini digerakkan oleh dinamika keluarga-keluarga muda dengan anak-anak kecil yang datang dari berbagai latar belakang. Sejarah membuktikan bahwa paroki ini dibangun di atas fondasi keluarga yang saling menopang dalam kesulitan.

Panggilan Tahun 2026: Keluarga Sebagai Unit Misi

Karakteristik historis Paroki MBSB yang didominasi oleh keluarga ini menemukan gaung yang sangat relevan dengan arah Keuskupan kita. Pada tahun 2026 ini, Keuskupan Bogor telah menetapkan bahwa keluarga mendapat prioritas penggembalaan sebagai subyek pastoral. Tema pastoral yang diusung adalah "Membangun Keluarga Sinodal yang Menciptakan Misi Pengharapan dan Perdamaian".

Pengalaman umat MBSB di masa lalu—beribadah di tengah lumpur dan tenda bocor—adalah bentuk awal dari "berjalan bersama" atau sinodalitas itu sendiri. Kini, Gereja menegaskan bahwa keluarga merupakan salah satu "unit misi" untuk melaksanakan perutusan Gereja. Keluarga tidak sekadar menjadi tempat berlindung, tetapi menjadi bagian utuh dan kokoh untuk melakukan misi evangelisasi secara aktif. Misi ini bersatu dengan misi Kristus yang datang untuk membangkitkan pengharapan dan menciptakan perdamaian.

Menjadi Agen Pengharapan dan Perdamaian di Usia ke-18

Di usia yang ke-18, dengan dinamika kehidupan modern di Kota Wisata dan sekitarnya, kita menyadari bahwa dunia kerap dipenuhi oleh pertengkaran, konflik, dan rasa putus asa. Oleh karena itu, keluarga-keluarga Paroki MBSB dipanggil untuk menjadi agen pengharapan dan perdamaian.

Bagaimana wujud nyatanya? Bapak Uskup melalui Surat Gembalanya merumuskan beberapa tindakan konkret yang dapat kita hidupi sebagai sebuah keluarga paroki:

  • Kepedulian pada yang Lemah: Memberikan pengharapan dan rasa damai bagi orang miskin dan terpinggirkan. Hal ini bisa diwujudkan dengan mengorganisir bantuan, atau membantu memperbaiki rumah sederhana milik umat di paroki.

  • Pendidikan Berkelanjutan: Melengkapi program pendidikan Katolik dengan pendidikan keterampilan (skills) bagi anak-anak dan remaja, terutama dari keluarga yang kurang mampu.

  • Pastoral Kehadiran: Terus melakukan pastoral kunjungan kepada orang sakit di rumah sakit atau di rumah. Perjumpaan ini akan sangat memberikan dukungan moral dan spiritual bagi keluarga-keluarga atau orang-orang yang sedang menghadapi masalah.

  • Pertobatan Ekologis: Menggalakkan kesadaran dan tindakan untuk melindungi lingkungan hidup. Praktik sederhana seperti mengatasi masalah sampah dan pembuatan pupuk organik atau eco-enzyme perlu terus ditingkatkan.

Penutup

Delapan belas tahun yang lalu, umat Paroki Maria Bunda Segala Bangsa membuktikan bahwa pengharapan bisa mekar bahkan di atas lantai tanah yang berlumpur. Hari ini, gedung gereja yang kita tempati mungkin sudah jauh lebih nyaman, namun tantangan zaman membutuhkan militansi iman yang sama.

Mari kita jadikan keluarga-keluarga kita sebagai teladan sinodal bermisi. Akhirnya, marilah kita menyerahkan seluruh perjuangan pastoral kita ke dalam perlindungan Bunda Maria, Bunda Evangelisasi, yang namanya menjadi pelindung kebanggaan paroki kita.

Selamat Ulang Tahun ke-18, Paroki Maria Bunda Segala Bangsa! Teruslah menjadi garam dan terang dunia. (EKZ)