Dompet Menipis, Iman Menebal

Masa Prapaskah selalu membawa kita pada tiga pilar utama: doa, puasa, dan sedekah. Namun, mari kita jujur—berbicara soal sedekah atau mengisi kotak Aksi Puasa Pembangunan (APP) di saat kondisi ekonomi sedang sulit, harga barang naik, dan dompet menipis, seringkali membuat kita merasa bimbang. Ada kalanya kita berpikir, "Boro-boro buat sedekah, buat makan sendiri saja pas-pasan."

Perasaan cemas akan keuangan itu sangat wajar dan manusiawi. Namun, di sinilah letak keindahan spiritualitas Katolik. Masa Prapaskah justru mengajak kita memutar cara pandang: bahwa memberi di masa sulit adalah momen di mana iman kita benar-benar diuji dan ditebalkan.


Makna Pengorbanan, Bukan Sekadar Angka

Tuhan tidak pernah melihat nominal, Ia melihat hati dan pengorbanan kita. Ingatkah kita pada kisah persembahan seorang janda miskin (Markus 12:41-44)? Yesus memuji janda tersebut bukan karena jumlah uang yang ia masukkan ke dalam peti persembahan, melainkan karena ia memberi dari kekurangannya.

Sedekah dalam tradisi Katolik bukanlah membagikan "uang sisa" atau kembalian yang tidak kita butuhkan lagi. Sedekah sejati lahir dari pengorbanan. Ketika kita memberi di saat kita sendiri sedang serba pas-pasan, nilai persembahan kita di mata Tuhan menjadi luar biasa besar karena ada ego dan kenyamanan yang kita matikan di sana.

Rasa Lapar Kita, Solidaritas untuk Mereka

Mengapa Gereja menggabungkan puasa/pantang dengan sedekah (APP)? Jawabannya ada pada kata solidaritas.

Ketika kita berpantang kopi, rokok, atau cemilan, tubuh kita akan bereaksi. Kita merasa "lapar", "haus", atau "ingin". Alih-alih mengeluh, ubahlah rasa tidak nyaman itu menjadi doa hidup. Jadikan rasa lapar sementara yang kita alami sebagai jembatan empati untuk mengingat mereka yang kelaparan setiap hari tanpa punya pilihan.

Saat perut berbunyi atau mulut terasa pahit karena menahan diri dari rokok, katakan dalam hati: "Tuhan, rasa tidak nyaman ini kupersatukan dengan penderitaan saudara-saudariku yang hari ini tidak bisa makan." Uang yang tidak jadi kita pakai untuk memuaskan keinginan itulah yang kemudian mewujud nyata menjadi aksi kasih melalui kotak APP.


Tips Praktis Menyisihkan Dana APP di Masa Sulit

Mengisi kotak APP tidak harus menunggu gajian atau memiliki uang dalam jumlah besar. Berikut adalah beberapa tips praktis menyisihkan uang dari hal-hal kecil sehari-hari:

  • Substitusi Kopi dan Minuman Manis: Jika Anda terbiasa membeli kopi susu atau boba seharga Rp20.000 - Rp30.000 setiap hari, cobalah ganti dengan kopi sachet seduh sendiri atau air putih. Masukkan selisih uangnya ke dalam kotak APP.

  • "Pajak" Jajan dan Food Delivery: Kurangi kebiasaan memesan makanan lewat aplikasi. Jika Anda biasanya menghabiskan ongkos kirim dan biaya layanan yang cukup lumayan, masaklah makanan sederhana di rumah. Uang "jajan ekstra" tersebut bisa disisihkan.

  • Diet Rokok: Bagi Anda yang merokok, Masa Prapaskah adalah waktu yang tepat untuk berlatih pengendalian diri. Kurangi konsumsi setengah bungkus per hari. Uang dari rokok yang tidak dibeli itu sangat berharga bagi mereka yang membutuhkan.

  • Buat "Celengan Godaan" di Meja: Sediakan toples kecil atau amplop APP di meja kerja/belajar Anda. Setiap kali Anda berhasil menahan godaan untuk membeli cemilan yang tidak perlu, masukkan uang Rp2.000, Rp5.000, atau berapa pun ke dalamnya.

Masa Prapaskah adalah undangan untuk menciutkan ego agar cinta kasih bisa mengembang. Dompet yang menipis karena berbagi tidak akan pernah membuat kita miskin kasih karunia.


"Bukan berapa banyak yang kita berikan, melainkan berapa banyak cinta yang kita letakkan dalam pemberian itu."St. Teresa dari Kalkuta