Counselor Enrichment

Pada hari Sabtu, 14 Maret 2026, Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) mengadakan program pengayaan pengetahuan bagi para konselor (Counselor Enrichment). Momen ini menjadi catatan istimewa karena untuk pertama kalinya diadakan secara mandiri di Paroki MBSB semenjak Pastoral Care Center (PCC) mulai melayani umat hampir 10 tahun lalu, tepatnya pada 2016.

Sebelum masa pandemi Covid-19, kegiatan pengayaan biasanya dilakukan bersama para konselor PCC Katedral yang memiliki jam terbang lebih tinggi. Kolaborasi tersebut sangat membantu dalam membahas berbagai studi kasus, sehingga para konselor kita bisa lebih cepat memberikan insight yang tepat saat menghadapi konseli dengan permasalahan serupa.

Acara yang berlangsung akhir pekan lalu ini memberikan warna dan semangat baru bagi para konselor yang hadir. Sesi diskusi berjalan sangat interaktif; hampir seluruh pertanyaan yang telah disiapkan maupun yang muncul secara spontan dapat dibahas dan dijawab dengan sangat memuaskan.

Hadir sebagai narasumber adalah Dr. Theresia Indira Shanti, M.Si., Psikolog, Psikoterapis. Di awal sesi, beliau membagikan perjalanan akademis dan profesionalnya. Setelah menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 Psikologi di Universitas Indonesia (UI), beliau banyak menangani konseling anak usia pra-remaja. Ilmu tersebut kemudian diperdalam hingga jenjang S3 di Radboud University, Belanda. Dengan tambahan keahlian sebagai psikoterapis, kini beliau—yang juga aktif sebagai peneliti dan dosen di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya—lebih banyak mendampingi umat di usia pasca-remaja hingga dewasa.

Satu pembelajaran berharga yang dibagikan oleh Dr. Theresia adalah pengalaman pribadinya. Berasal dari keluarga dengan dinamika yang tidak mudah, beliau berhasil membuktikan bahwa siklus tersebut bisa dihentikan. Meminjam pendekatan psikogenetik terkait "memutus rantai", beliau menekankan bahwa pengalaman buruk dari pendahulu (orang tua) tidak harus diteruskan ke generasi berikutnya. Ia kini berhasil membangun keluarga yang jauh lebih baik bersama suami dan ketiga anaknya.

Kisah inspiratif ini tentu menjadi refleksi mendalam bagi para peserta. Para konselor dapat mengambil poin penting untuk pelayanan mereka kelak: kesalahan masa lalu orang tua tidak selalu mendikte masa depan anak-anaknya.

Meskipun jumlah peserta tidak terlalu masif, formasi yang hadir—ditambah narasumber—kebetulan pas berjumlah 11 orang, layaknya sebuah kesebelasan sepak bola. Ukuran kelompok yang solid dan taktis ini justru membawa keuntungan tersendiri. Alokasi waktu menjadi sangat ideal, sehingga setiap pertanyaan dan contoh kasus dapat dibedah secara mendalam dan tuntas. Sungguh sebuah kesempatan yang sangat berharga bagi para konselor yang berpartisipasi.

Ke depannya, ada harapan agar cakupan kegiatan ini dapat diperluas, tidak hanya untuk konselor, tetapi juga melibatkan para pendamping dan pemerhati keluarga, tentunya dengan penyesuaian materi. Semoga dengan demikian, semakin banyak umat yang merasakan manfaat positifnya.

Tuhan Memberkati 🙏 hc - Maret 2026