Sekolah Katolik Bukan "Bengkel Rohani"

Sebagai orang tua di zaman modern, tantangan terbesar kita adalah waktu. Kita bekerja keras pagi hingga malam, seringkali demi satu tujuan mulia: memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak.

Namun, di tengah hiruk-pikuk mengejar karier dan memastikan SPP terbayar, seringkali muncul salah kaprah yang fatal mengenai pendidikan iman anak. Mari kita lihat dua situasi yang sering terjadi di paroki kita.

Situasi 1: Jebakan "Terima Beres" (Anak di Sekolah Katolik)

Banyak orang tua merasa lega karena anaknya sudah masuk sekolah Katolik favorit. "Saya sudah bayar mahal, biar suster/bruder/guru agama yang mengurus imannya," mungkin begitu batin kita berbisik. Kita menganggap sekolah seperti "bengkel": kita antar anak dalam keadaan rusak/mentah, dan berharap mereka pulang menjadi santo-santa.

Kenyataannya: Sekolah Katolik mengajarkan Pengetahuan Agama (nilai, sejarah, liturgi). Namun, Iman (relasi pribadi dengan Tuhan) ditularkan melalui pengalaman hidup. Jika di sekolah anak diajarkan tentang kasih dan pengampunan, tetapi di rumah orang tua tidak pernah berdoa bersama, sering bertengkar kasar, atau tidak peduli pada orang kecil, maka anak akan mengalami kebingungan nilai. Sekolah hanya menjadi pelengkap; fondasinya tetaplah rumah.

Situasi 2: Kekhawatiran "Padang Gurun" (Anak di Sekolah Negeri/Non-Katolik)

Di sisi lain, ada orang tua yang karena alasan zonasi, biaya, atau kualitas akademik, menyekolahkan anaknya di sekolah Negeri atau Swasta Non-Katolik. Ditambah dengan kesibukan orang tua bekerja, muncul ketakutan: "Apakah imannya akan hilang? Apakah dia akan jadi minoritas yang minder?"

Kenyataannya: Anak-anak di sekolah non-Katolik justru memiliki peluang menjadi misionaris kecil. Namun, syaratnya satu: Api iman di rumah harus menyala terang. Jika anak tidak mendapatkan suasana Katolik di sekolah, maka rumah (dan kegiatan Gereja seperti BIA/BIR) adalah satu-satunya sumber air hidup mereka. Jika orang tua sibuk dan abai, "tanaman" iman itu akan layu karena tidak pernah disiram.

Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica)

Gereja Katolik mengajarkan bahwa orang tua adalah "Pendidik Pertama dan Utama". Saat kita membaptis anak, imam bertanya: "Sanggupkah saudara mendidik anak ini dalam iman...?" dan kita menjawab "Sanggup", bukan "Sanggup (asal dibantu guru agama)".

Tuhan tidak menuntut kita menjadi ahli teologi. Tuhan hanya meminta kita "Hadir".

Tips Praktis untuk Orang Tua Super Sibuk

Lalu, bagaimana caranya mengajari iman jika kita pulang kerja sudah lelah? Iman tidak harus diajarkan lewat "kuliah" satu jam. Iman ditularkan lewat momen-momen mikro (micro-moments):

  1. Tanda Salib yang Benar: Bagi anak balita/TK, ajarkan membuat Tanda Salib dengan hormat sebelum tidur. Ini adalah katekesis tubuh yang paling dasar.

  2. Ritual Mobil/Perjalanan: Saat mengantar anak ke sekolah (Katolik maupun Negeri), matikan radio/gadget 5 menit saja. Ajak doa Bapa Kami bersama, atau doakan teman/guru yang akan ditemui.

  3. Makan Malam (Tanpa Gadget): Meja makan adalah altar kedua. Tanyakan, "Apa hal baik yang terjadi hari ini?" Ajak anak melihat tangan Tuhan dalam kejadian sederhana di sekolah.

  4. Prioritas Misa Minggu: Bagi anak sekolah Negeri, Misa Minggu dan Sekolah Minggu (BIA/BIR) adalah "oksigen". Jangan jadikan les, jalan-jalan, atau rasa kantuk sebagai alasan membolos Misa. Anak akan belajar prioritas dari apa yang orang tuanya lakukan, bukan yang diucapkan.

  5. Validasi Perasaan (Khusus Sekolah Negeri): Jika anak bertanya tentang perbedaan agama atau merasa aneh karena berbeda cara doa dengan teman sekolahnya, dengarkanlah. Jangan dimarahi. Jelaskan dengan santai bahwa "Kita Katolik, cara kita begini, dan itu indah."

Bapak/Ibu yang terkasih, pekerjaan adalah sarana kita menafkahi keluarga, dan itu adalah ibadah. Namun, jangan sampai kesibukan membuat kita menjadi "orang asing" bagi pertumbuhan jiwa anak kita.

Sekolah Katolik membantu, Sekolah Negeri melatih mental, tetapi Rumah adalah tempat di mana anak pertama kali mengenal wajah Allah melalui kasih sayang orang tuanya.

Mari kita pastikan, sesibuk apapun kita, anak-anak tahu bahwa Tuhan selalu punya tempat di ruang tamu keluarga kita. (Yohanes RG)