Puasa Gadget, Sanggupkah Kita?

Memaknai Ulang Matiraga di Tengah Kebisingan Digital

Masa Prapaskah telah tiba. Abu telah dioleskan di dahi, dan seruan "Bertobatlah dan Percayalah kepada Injil" kembali bergema. Biasanya, pertanyaan klasik yang muncul di benak kita adalah: "Tahun ini pantang apa ya? Pantang daging? Pantang garam? Atau pantang jajan?"

Semua itu baik dan mulia. Namun, di zaman di mana jempol kita lebih aktif daripada lutut kita yang berlutut berdoa, mungkin ada satu bentuk matiraga yang jauh lebih menantang sekaligus mendesak: Puasa Gadget.

"Berhala" Kecil di Saku Kita

Mari jujur sejenak. Benda apa yang pertama kali kita cari saat bangun tidur? Dan benda apa yang terakhir kali kita tatap sebelum memejamkan mata? Bagi sebagian besar dari kita, jawabannya bukan Salib, bukan Alkitab, melainkan smartphone.

Tanpa sadar, gawai telah menjadi "perpanjangan tangan" yang mengendalikan ritme hidup kita. Notifikasi media sosial seringkali lebih cepat mendapat respons daripada panggilan lonceng gereja atau bisikan hati nurani. Jika Prapaskah adalah masa "padang gurun"—masa untuk hening dan memurnikan diri—maka kebisingan digital adalah antitesisnya.

"Tuhan sering berbicara dalam suara angin sepoi-sepoi basa (1 Raja-raja 19:12), dalam keheningan. Bagaimana kita bisa mendengar suara-Nya jika telinga dan hati kita terus-menerus dibisingkan oleh notifikasi?"

Mengapa Puasa Gadget Itu Penting?

Gereja tidak anti-teknologi. Namun, Gereja mengajarkan kita untuk tidak terikat (detach) pada hal-hal duniawi yang menghalangi relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Puasa gadget bukan berarti membenci teknologi, melainkan menempatkannya kembali pada posisinya: sebagai alat, bukan sebagai tuan.

Ada tiga dimensi rohani yang bisa kita raih lewat puasa ini:

  1. Mengembalikan Kehadiran (Presence): Seringkali kita "hadir" secara fisik di meja makan bersama keluarga atau di ruang gereja, namun pikiran kita melayang ke dunia maya. Puasa gadget mengembalikan kita menjadi manusia yang hadir utuh bagi sesama.

  2. Melatih Penguasaan Diri: Menahan diri untuk tidak mengecek likes atau update status melatih otot rohani kita untuk tidak diperbudak oleh keinginan impulsif.

  3. Menciptakan Ruang bagi Tuhan: Waktu yang biasanya habis untuk scrolling tanpa tujuan, kini menjadi ruang kosong. Di ruang kosong itulah doa bisa masuk.

Tips Praktis: Tidak Harus Ekstrem, Tapi Konsisten

Puasa gadget tidak berarti membuang ponsel Anda selama 40 hari (terutama jika Anda bekerja menggunakan gawai). Kuncinya adalah intensi dan pembatasan. Berikut beberapa langkah konkret yang bisa dicoba selama masa Prapaskah ini:

  • Zona Bebas Ponsel: Tetapkan area "suci" di rumah, misalnya meja makan atau kamar tidur, di mana gawai dilarang masuk.

  • Puasa Notifikasi: Matikan semua notifikasi aplikasi yang tidak esensial (seperti media sosial, game, atau e-commerce). Biarkan ponsel berbunyi hanya untuk telepon atau pesan kerja yang mendesak.

  • Satu Jam Pertama & Terakhir: Berjanjilah untuk tidak menyentuh ponsel 1 jam setelah bangun tidur dan 1 jam sebelum tidur. Gunakan waktu itu untuk doa pagi, bacaan rohani, atau pemeriksaan batin.

  • Ganti Scrolling dengan Praying: Setiap kali ada dorongan impulsif untuk membuka Instagram atau TikTok, ubahlah menjadi doa singkat: "Tuhan Yesus, kasihanilah aku orang berdosa ini" atau satu kali Salam Maria.

Sebuah Undangan

Masa Prapaskah adalah perjalanan menuju kebebasan sejati—kebebasan anak-anak Allah. "Puasa Gadget, Sanggupkah Kita?" Jawabannya bukan tentang kuat atau tidak kuat, melainkan tentang mau atau tidak mau.

Mungkin awalnya akan terasa sepi, bosan, atau gelisah (FOMO - Fear of Missing Out). Itu wajar. Itu adalah tanda bahwa kita sedang mengalami detoksifikasi rohani. Namun percayalah, di balik keheningan tanpa gawai itu, ada perjumpaan yang jauh lebih indah yang sedang menanti: perjumpaan dengan diri sendiri, dengan sesama yang nyata, dan dengan Tuhan yang merindukan kita.

Selamat memasuki masa Prapaskah. Selamat berpuasa dari kebisingan, dan selamat berbuka dengan keheningan yang memulihkan. (EKZ)