Apakah Anda merasa hari Anda sudah "habis" bahkan sebelum sempat menyapa Tuhan?
Bangun tidur, tangan langsung meraih ponsel. Mematikan alarm, lalu secara refleks membuka WhatsApp, mengecek email pekerjaan, atau melihat update terbaru di media sosial. Mandi, sarapan terburu-buru, lalu terjebak macet. Sesampainya di rumah, tubuh sudah terlalu lelah, dan doa malam pun menjadi sekadar tanda salib cepat sebelum tidur.
Jika ini terdengar akrab, Anda tidak sendirian. Kita hidup di era dromologi—era yang terobsesi dengan kecepatan. Di tengah kebisingan digital dan tuntutan hidup yang tak ada habisnya, menjaga hidup doa terasa seperti tugas yang mustahil.
Namun, Gereja mengajarkan bahwa doa bukanlah "tugas tambahan". Doa adalah nafas jiwa. Tanpa doa, roh kita akan "sesak napas" di tengah polusi kesibukan. Lalu, bagaimana caranya tetap terhubung dengan Tuhan ketika waktu terasa begitu sempit?
Berikut adalah 5 langkah praktis untuk merawat hidup doa di tengah kesibukan:
1. Ubah Paradigma: Doa Bukan Hanya "Waktu Khusus"
Seringkali kita berpikir bahwa doa yang "sah" hanyalah saat kita berlutut di kamar selama satu jam. Itu sangat baik, namun jika tidak sempat, jangan batalkan doa sama sekali.
Santo Paulus mengajak kita untuk "berdoalah setiap waktu" (Efesus 6:18). Ini berarti menjadikan aktivitas kita sebagai doa.
Saat menyetir atau di kereta: Matikan radio/Spotify sejenak, dan bicaralah pada Yesus seperti pada sahabat di kursi sebelah.
Saat mencuci piring atau melipat baju: Doakan keluarga yang akan memakai baju atau piring tersebut.
2. Praktikkan Doa Aspirasi (Doa "Anak Panah")
Para Bapa Gereja mengajarkan doa-doa pendek yang diluncurkan ke surga seperti anak panah di tengah aktivitas. Ini sangat ampuh untuk orang sibuk. Ucapkan dalam hati berkali-kali:
"Tuhan Yesus, aku mengasihi-Mu."
"Yesus, Engkau andalanku."
"Datanglah, Roh Kudus."
Doa ini hanya butuh 2 detik, tapi mampu mengembalikan kesadaran kita akan kehadiran Tuhan di tengah meeting yang penat sekalipun.
3. "Digital Detox" Mini
Tuhan berbicara dalam keheningan, namun dunia kita penuh kebisingan. Cobalah tantangan sederhana:
5 Menit Pertama dan Terakhir. Jangan sentuh ponsel di 5 menit pertama setelah bangun dan 5 menit terakhir sebelum tidur. Serahkan waktu emas itu untuk Tuhan. Ucapkan syukur saat pagi, dan penyerahan diri saat malam.
4. Manfaatkan Teknologi untuk Iman
Jika ponsel adalah sumber gangguan, ubahlah menjadi sarana rahmat.
Unduh aplikasi Katolik (seperti Ekatolik atau iBreviary).
Baca atau dengarkan Bacaan Injil Harian saat perjalanan ke kantor.
Pasang reminder di ponsel pukul 12.00 siang untuk mendoakan "Malaikat Tuhan" (Angelus).
5. Doa Pemeriksaan Batin (Examen)
Ini adalah warisan berharga dari Santo Ignatius Loyola. Sebelum tidur, luangkan waktu 5-10 menit untuk melihat kembali hari Anda seperti memutar film:
Syukur: Apa hal kecil yang membuatku tersenyum hari ini? (Kopi yang enak, jalanan lancar, sapaan teman).
Evaluasi: Di momen mana aku merasa jauh dari Tuhan? Kapan aku marah atau tidak sabar?
Niat: Minta rahmat Tuhan untuk hari esok yang lebih baik.
Kualitas di Atas Kuantitas
Tuhan tidak menuntut kita menjadi biarawan-biarawati yang berdoa 8 jam sehari. Ia adalah Bapa yang mengerti situasi anak-anak-Nya. Doa yang singkat namun tulus dan penuh cinta, jauh lebih berharga daripada doa panjang yang dilakukan dengan hati yang menggerutu.
Jangan menunggu waktu luang untuk berdoa, karena waktu itu tidak akan pernah ada. Luangkanlah waktu, selipkan Tuhan di antara notifikasi ponsel dan jadwal kerja Anda.
Mari kita mulai hari ini. Bukan dengan beban, tapi dengan kerinduan. Karena di tengah dunia yang berlari kencang ini, hanya di dalam Tuhanlah jiwa kita mendapatkan ketenangan sejati.
"Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku." (Mazmur 62:2)
