Memaafkan Pasangan: Bertahan Demi Anak atau Demi Janji Suci?

Dalam perjalanan kehidupan rumah tangga, tidak ada pasangan yang bebas dari konflik. Namun, ketika luka hati terasa begitu dalam—entah karena pengkhianatan, ketidakjujuran, atau kekecewaan yang menumpuk—pertanyaan berat itu sering muncul: "Apakah saya harus tetap bertahan?"

Seringkali, jawaban yang paling cepat muncul adalah: "Saya bertahan demi anak-anak."

Kalimat ini terdengar heroik dan penuh pengorbanan. Namun, dalam perspektif iman Katolik dan psikologi keluarga, apakah "demi anak" saja cukup menjadi alasan untuk mempertahankan sebuah perkawinan sakramental?

Jebakan "Hanya Demi Anak"

Anak-anak adalah peniru ulung dan pengamat yang jeli. Mereka mungkin tidak selalu mengerti detail konflik orang tua, namun mereka bisa merasakan atmosfer di rumah.

Jika pasangan suami istri bertahan dalam satu atap tetapi saling mendiamkan, penuh amarah terpendam, atau hidup tanpa kasih, anak-anak sebenarnya tidak mendapatkan "rumah" yang utuh. Mereka justru belajar bahwa pernikahan adalah tentang penderitaan, bukan tentang kasih yang memberi hidup.

Bertahan hanya demi anak seringkali membuat pasangan merasa menjadi "korban", yang lama-kelamaan bisa memicu rasa benci, bahkan secara tidak sadar menyalahkan anak sebagai alasan ketidakbahagiaan mereka.

Perspektif Gereja: Perjanjian (Covenant), Bukan Sekadar Kontrak

Gereja Katolik memandang perkawinan bukan sekadar kontrak sosial yang bisa diputus ketika tidak lagi menguntungkan, melainkan sebuah Sakramen dan Perjanjian (Covenant).

Dalam janji perkawinan, kita mengucapkan, "Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit..."

Gereja mengajak kita untuk melihat bahwa tujuan perkawinan adalah kekudusan (holiness), bukan sekadar kebahagiaan duniawi (happiness). Saat krisis melanda, panggilan kita bukan sekadar "bertahan" (surviving), melainkan "berjuang" (striving) untuk memulihkan kasih itu kembali.

Mengapa kita berjuang memaafkan dan memulihkan relasi?

  1. Karena Janji di Hadapan Allah: Kita bertahan karena kita menghormati Tuhan yang mempersatukan.

  2. Karena Kasih adalah Keputusan: Memaafkan bukanlah perasaan, melainkan keputusan kehendak untuk tidak membalas jahat dengan jahat.

  3. Demi Anak (Dalam Arti yang Benar): Kita berjuang memulihkan perkawinan agar anak-anak melihat teladan nyata tentang pengampunan, komitmen, dan daya tahan dalam iman.

Kapan "Pisah" Diperbolehkan?

Penting untuk dicatat: Gereja Katolik tidak pernah menyarankan seseorang untuk bertahan dalam situasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang membahayakan nyawa fisik maupun psikis pasangan atau anak-anak.

Dalam situasi abusive (kekerasan), pemisahan fisik (pisah ranjang/pisah rumah) terkadang diperlukan demi keselamatan, meskipun ikatan sakramental tetap ada. Jika Anda berada dalam situasi ini, mencari bantuan profesional dan pastoral adalah langkah yang bijak dan berani, bukan tanda kelemahan.

Langkah Menuju Pemulihan

Jika situasi masih memungkinkan untuk diperbaiki, bagaimana kita bergerak dari sekadar "bertahan" menjadi "memulihkan"?

  1. Stop Mentalitas Korban: Alihkan fokus dari "Apa salah pasanganku?" menjadi "Apa yang bisa aku lakukan untuk mengundang Tuhan hadir kembali dalam relasi ini?"

  2. Cari Bantuan (Konseling & Sakramen): Jangan ragu meminta bantuan Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) paroki, konselor perkawinan, atau imam untuk pengakuan dosa dan bimbingan rohani. Rahmat sakramen tobat seringkali menjadi pintu pembuka untuk bisa memaafkan pasangan.

  3. Doa Bersama: Paus Fransiskus sering mengingatkan tiga kata ajaib dalam keluarga: "Tolong, Maaf, dan Terima Kasih." Mulailah dengan mendoakan pasangan Anda, bahkan saat hati masih terasa sakit.

Bapak/Ibu yang terkasih, "bertahan demi anak" adalah awal yang mulia, tetapi jangan berhenti di situ. Jadikanlah itu jembatan untuk menuju tujuan yang lebih tinggi: memulihkan kasih demi kemuliaan Tuhan.

Anak-anak tidak hanya butuh orang tua yang tinggal serumah. Mereka butuh orang tua yang menunjukkan bahwa dengan rahmat Tuhan, luka bisa disembuhkan, kesalahan bisa dimaafkan, dan cinta bisa diperbaharui.

Mari kita bawa pergumulan keluarga kita ke dalam Ekaristi, memohon kekuatan dari Dia yang telah lebih dulu mencintai dan memaafkan kita tanpa syarat. (RB)