Pernahkah Anda duduk di bangku gereja saat Misa, mencoba berdoa, tetapi rasanya hampa? Atau mungkin saat Anda mencoba membaca Kitab Suci, kata-katanya terasa kering dan tidak menyapa hati? Rasanya seolah-olah Tuhan sedang "bersembunyi" atau diam seribu bahasa. Doa-doa kita terasa memantul ke langit-langit kamar.
Jika Anda pernah atau sedang merasakannya, pertanyaan pertama yang muncul biasanya adalah: "Apakah saya berdosa besar? Apakah Tuhan meninggalkan saya? Apakah iman saya hilang?"
Kabar baiknya: Anda tidak sendirian, dan perasaan ini adalah bagian yang sangat wajar dalam perjalanan iman Katolik.
Fenomena "Kekeringan Rohani"
Dalam tradisi Gereja Katolik, fase ini sering disebut sebagai Kekeringan Rohani atau Spiritual Dryness. Santo Ignatius dari Loyola menyebutnya sebagai masa "desolasi". Bahkan, para orang kudus besar pun mengalaminya.
Santa Teresa dari Kalkuta (Bunda Teresa), misalnya, mengalami periode "gelap" di mana ia tidak merasakan kehadiran Tuhan secara emosional selama puluhan tahun. Namun, ia tetap melayani orang miskin dengan setia. Santo Yohanes dari Salib menyebut pengalaman yang lebih mendalam sebagai "Malam Gelap Jiwa" (Dark Night of the Soul).
Jika para orang kudus saja mengalaminya, berarti perasaan "jauh" dari Tuhan belum tentu tanda bahwa kita sedang dihukum.
Mengapa Tuhan Mengizinkan "Musim Kering"?
Mungkin terdengar aneh, tetapi musim kering rohani seringkali merupakan tanda pertumbuhan, bukan kemunduran. Berikut adalah beberapa alasan mengapa Tuhan mungkin mengizinkan kita melewati padang gurun ini:
Memurnikan Motivasi Kita Di awal pertobatan, Tuhan sering memberikan "permen rohani"—perasaan sukacita, damai, dan semangat yang meluap-luap (konsolasi). Namun, jika itu terus terjadi, kita mungkin jatuh cinta pada perasaan dikasihi Tuhan, bukan pada Pribadi Tuhan itu sendiri. Musim kering melatih kita untuk tetap mencintai Tuhan meskipun tidak ada "rasa" enak yang kita dapatkan.
Mengajarkan Ketekunan Iman bukanlah perasaan; iman adalah keputusan. Saat kita tetap berdoa meski rasanya hampa, saat kita tetap ke Misa meski malas, di situlah otot-otot iman kita sedang dibentuk menjadi lebih kuat.
Mengundang Kerinduan yang Lebih Dalam Rasa jauh itu menciptakan rindu. Seperti rusa yang merindukan sungai berair (Mazmur 42), kekeringan membuat jiwa kita haus dan mencari Tuhan lebih sungguh-sungguh daripada sebelumnya.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Merasa Kering?
Jangan panik dan jangan menyerah. Berikut adalah langkah praktis yang bisa Anda lakukan:
Jangan Berhenti Berdoa: Kesalahan terbesar saat merasa kering adalah berhenti berdoa karena merasa "percuma". Tetaplah pada rutinitas doa Anda. Katakan jujur pada Tuhan, "Tuhan, rasanya Engkau jauh, aku merasa hampa, tetapi aku memilih untuk tetap ada di sini bersama-Mu." Doa yang jujur ini sangat berharga.
Periksa Batin (Secara Wajar): Kadang, kekeringan memang disebabkan oleh dosa yang tidak diakui atau kelalaian dalam hidup rohani. Lakukan pemeriksaan batin. Jika ada dosa berat, segera terima Sakramen Tobat. Namun, jika Anda sudah mengaku dosa dan tetap merasa kering, berhentilah menyalahkan diri sendiri. Itu adalah ujian iman, bukan hukuman.
Fokus pada Tindakan Kasih: Ketika perasaan sedang mati rasa, gerakkan tangan dan kaki Anda. Lakukan pelayanan kecil, bantu sesama, atau kunjungi orang sakit. Seringkali, Tuhan menyapa kita kembali melalui wajah sesama yang kita layani.
Bersabar: Musim kering adalah sebuah musim. Artinya, ia tidak abadi. Musim semi akan datang kembali.
Penutup: Tuhan Ada di Keheningan
Saudara-saudari terkasih, merasa jauh dari Tuhan bukan berarti Tuhan benar-benar jauh. Guru iman kita mengajarkan bahwa seringkali Tuhan justru bekerja paling intensif di dalam jiwa kita saat kita merasa Dia diam. Dia sedang memahat hati kita agar kapasitas kita untuk menampung kasih-Nya menjadi lebih besar.
Jika hari ini Anda berada di padang gurun rohani, bertahanlah. Anda sedang berjalan di jalan yang sama dengan para Santo dan Santa. Tetaplah melangkah, karena di ujung gurun itu, Tuhan sudah menanti dengan rahmat yang baru.
"Tuhan dekat pada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya." (Mazmur 34:19)
