Suara-Suara di Padang Gurun

Fenomena Petapa dan Pembaptis di Zaman Yesus

Ketika kita membaca Injil, sosok Yohanes Pembaptis sering kali muncul secara tiba-tiba: seorang pria aneh berjubah bulu unta, memakan belalang, dan berteriak di padang gurun. Ia tampak seperti anomali tunggal.

Namun, catatan sejarah dan arkeologi mengungkapkan fakta yang berbeda. Pada abad pertama Masehi, gurun Yudea bukanlah tempat yang sunyi. Gurun itu "ramai" oleh para pencari Tuhan, petapa, dan gerakan radikal yang menolak kemapanan. Yohanes Pembaptis adalah suara yang paling lantang, tetapi ia bukanlah satu-satunya.

Mengapa Lari ke Gurun?

Untuk memahami mengapa banyak orang seperti Yohanes muncul, kita harus melihat situasi Yerusalem saat itu.

Pada masa itu, banyak orang Yahudi yang saleh merasa bahwa Bait Allah dan kepemimpinan imam di Yerusalem telah korup karena kolaborasi dengan penjajah Romawi. Bagi mereka yang merindukan kesucian sejati, kota adalah tempat najis.

Maka, mereka melakukan apa yang dilakukan nabi-nabi zaman dulu (seperti Elia): mereka lari ke padang gurun. Bagi orang Yahudi, gurun bukan sekadar tempat kosong, melainkan tempat pemurnian dan awal yang baru—mengingatkan pada perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Terjanji.

Wajah-Wajah Lain di Tepian Sungai Yordan

Selain Yohanes, sejarah mencatat adanya kelompok dan individu lain yang mempraktikkan hidup asketis (bertapa) dan ritual air:

1. Bannus: Sang Petapa Alam Sosok yang paling mirip dengan Yohanes Pembaptis adalah seorang pria bernama Bannus. Kita mengetahui tentang dia dari sejarawan Yahudi kuno, Flavius Josephus, yang pernah tinggal bersamanya di gurun selama tiga tahun.

  • Gaya Hidup: Bannus menolak apa pun yang dibuat oleh tangan manusia (seperti roti atau pakaian tenun). Ia hanya mengenakan kulit kayu atau dedaunan dan memakan apa yang tumbuh liar di alam.

  • Ritual Air: Ia mandi dengan air dingin siang dan malam untuk menjaga kesucian ritual.

  • Kemiripan: Bannus mewakili bentuk protes ekstrem terhadap peradaban kota, sangat mirip dengan gaya hidup Yohanes yang memakan belalang dan madu hutan.

2. Kaum Eseni (Komunitas Qumran) Di tepi Laut Mati, tidak jauh dari tempat Yohanes membaptis, terdapat komunitas biara Yahudi yang ketat, yang kini kita kenal lewat penemuan Naskah Laut Mati.

  • Ritual Air: Mereka sangat terobsesi dengan kebersihan ritual. Mereka melakukan mikveh (mandi ritual) setiap hari sebelum makan perjamuan suci.

  • Teologi: Mereka menyebut diri mereka "Anak-anak Terang" dan memisahkan diri sepenuhnya dari "Anak-anak Kegelapan" di Yerusalem. Banyak ahli menduga Yohanes Pembaptis mungkin pernah tinggal atau setidaknya berinteraksi dengan kelompok ini sebelum memulai pelayanannya sendiri.

3. Kelompok Hemerobaptist Secara harfiah berarti "Pembaptis Harian". Ini adalah sekte Yahudi yang percaya bahwa keselamatan dan penyucian dosa memerlukan pembasuhan fisik setiap hari. Bagi mereka, air adalah sarana utama mediasi dengan Tuhan.

Apa yang Membuat Yohanes Berbeda?

Jika ada begitu banyak orang yang merendam diri di air gurun Yudea, mengapa nama Yohanes Pembaptis yang bertahan dan mengguncang sejarah? Ada tiga perbedaan teologis yang tajam:

  1. Satu Kali vs Berulang-ulang Kaum Eseni dan Bannus mandi setiap hari demi kebersihan ritual. Jika besok najis lagi, mereka mandi lagi. Yohanes menawarkan baptisan satu kali untuk selamanya. Ini adalah inisiasi pertobatan total, sebuah titik balik hidup yang tidak perlu diulang, melainkan dibuktikan dengan "buah pertobatan" (perubahan perilaku).

  2. Moral vs Ritual Kelompok lain berfokus pada kenajisan ritual (misalnya: tidak sengaja menyentuh mayat atau orang sakit). Yohanes berfokus pada kenajisan moral (dosa, ketidakadilan, keserakahan). Seruannya bukan "sucikan dirimu," melainkan "bertobatlah."

  3. Masa Depan vs Masa Kini Para petapa lain menarik diri ke gurun untuk menyelamatkan diri sendiri dari dunia yang jahat. Yohanes pergi ke gurun untuk mempersiapkan orang lain menyambut Dia yang Akan Datang (Mesias). Baptisannya bersifat eskatologis—sebuah persiapan untuk penghakiman terakhir.

Yohanes Pembaptis tidak muncul di ruang hampa. Ia adalah puncak dari gelombang kerinduan spiritual masyarakat Yahudi saat itu yang lelah dengan korupsi duniawi dan merindukan campur tangan Tuhan.

Ketika orang-orang melihat Yohanes, mereka melihat sosok yang familier—seorang petapa gurun—tetapi dengan pesan yang baru dan mendesak. Ia tidak mengajak orang untuk sekadar mandi dan merasa bersih; ia mengajak mereka untuk mati terhadap masa lalu dan bangkit menyambut Sang Mesias. (YBS)