Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah

Setiap tanggal 1 Januari, saat dunia merayakan Tahun Baru, Gereja Katolik merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah (Theotokos). Perayaan ini bukan sekadar tradisi, melainkan memiliki dasar teologis dan sejarah yang sangat mendalam.


1. Puncak dari Oktaf Natal (Hari Kedelapan)

Dalam tradisi Gereja, pesta-pesta besar seperti Natal dirayakan selama delapan hari berturut-turut, yang disebut sebagai Oktaf.

  • Tanggal 25 Desember: Kelahiran Yesus.

  • Tanggal 1 Januari: Hari kedelapan setelah kelahiran Yesus.

Menurut hukum Yahudi, pada hari kedelapan seorang anak laki-laki harus disunat dan diberi nama (Luk 2:21). Karena kita merayakan kelahiran Yesus sebagai bayi yang sungguh manusia, maka sangat tepat jika kita menghormati sosok yang melahirkan-Nya tepat saat masa Oktaf ini berakhir.

2. Dogma "Theotokos" (Bunda Allah)

Alasan paling mendasar adalah pengakuan iman Gereja bahwa Maria adalah Bunda Allah. Gelar ini ditetapkan secara resmi dalam Konsili Efesus pada tahun 431.

  • Logika Teologisnya: Yesus Kristus adalah satu Pribadi yang memiliki dua kodrat: Kodrat Ilahi (Tuhan) dan Kodrat Manusia. Karena kedua kodrat ini tidak bisa dipisahkan dalam diri Yesus, maka Maria yang melahirkan Yesus bukan hanya melahirkan "kemanusiaan-Nya" saja, tetapi melahirkan Pribadi yang adalah Allah.

  • Gelar ini bukan berarti Maria ada sebelum Allah, melainkan mengakui bahwa Anak yang dikandungnya dari Roh Kudus adalah sungguh-sungguh Allah.

3. Pergeseran dari Hari Raya "Penyunatan Tuhan"

Dahulu, kalender liturgi menandai 1 Januari sebagai hari Penyunatan Tuhan. Namun, dalam reformasi liturgi oleh Paus Paulus VI melalui dokumen Marialis Cultus (1974), penekanan dikembalikan kepada peran Maria dalam misteri keselamatan.

Gereja ingin mengawali tahun baru dengan mengarahkan pandangan kita kepada Maria, sebagai teladan iman yang membawa Sang Terang (Yesus) ke dalam dunia yang gelap.


4. Hari Perdamaian Sedunia

Sejak tahun 1967, Paus Paulus VI juga menetapkan 1 Januari sebagai Hari Perdamaian Sedunia. Gereja memohon perantaraan Bunda Maria, Sang "Ratu Damai", agar sepanjang tahun yang baru, dunia dijauhkan dari peperangan dan kebencian. Maria adalah sosok yang menghadirkan Raja Damai, maka ia dianggap sebagai pelindung yang paling tepat untuk mengawali doa-doa perdamaian kita di awal tahun.


Kesimpulan dan Makna bagi Kita

Merayakan Hari Raya ini di tanggal 1 Januari mengajak kita untuk:

  1. Meniru Ketaatan Maria: Mengawali tahun dengan kata "Fiat" (Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu).

  2. Menghormati Kemanusiaan Yesus: Menyadari bahwa Allah begitu mencintai kita sehingga Ia mau lahir dari rahim seorang wanita.

  3. Berjalan dalam Harapan: Meletakkan seluruh rencana setahun ke depan di bawah perlindungan keibuan Maria.

"Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya." (Lukas 2:19)