Seni Menghadapi Rekan dengan Karakter "Sulit" dan Dominan

Gereja sering digambarkan sebagai tubuh Kristus yang satu dan harmonis. Namun, realitanya, Gereja juga merupakan "rumah sakit bagi jiwa-jiwa." Artinya, kita akan bertemu dengan berbagai macam karakter manusia di dalam pelayanan, mulai dari yang sangat rendah hati hingga mereka yang memiliki karakter sangat sulit, atau yang dalam psikologi modern sering dikaitkan dengan ciri-ciri narsistik (Narcissistic traits).

Mungkin Anda pernah mengalami situasi ini di Lingkungan, Wilayah, atau Seksi: seorang rekan yang selalu ingin mendominasi pembicaraan, haus akan pujian, sulit menerima kritik, atau sering membuat drama yang memecah belah tim.

Lantas, bagaimana kita sebagai pelayan Gereja menghadapi situasi ini tanpa kehilangan damai sukacita dan malah mundur dari pelayanan?

1. Kenali, Jangan Mendiagnosa

Pertama-tama, penting untuk diingat bahwa kita bukanlah psikolog. Melabeli seseorang dengan "NPD" secara sembarangan bisa menjadi penghakiman yang tidak adil. Namun, kita bisa mengenali polanya:

  • Kebutuhan berlebih untuk dikagumi.

  • Kurangnya empati terhadap perasaan rekan lain.

  • Sering memutarbalikan fakta (gaslighting) jika terjadi kesalahan.

  • Reaksi marah atau tersinggung yang berlebihan saat dikritik.

Menyadari bahwa perilaku ini seringkali berakar dari luka batin atau ketidakamanan (insecurity) yang mendalam dapat membantu kita melihat mereka dengan kacamata kasih, bukan kebencian.

2. Terapkan "Kasih yang Tegas" (Boundaries)

Dalam iman Katolik, mengasihi sesama bukan berarti membiarkan diri kita diinjak-injak atau membiarkan perilaku buruk merusak komunitas. Yesus mengajarkan kita untuk "Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati" (Mat 10:16).

Menghadapi rekan dengan ciri narsistik memerlukan batasan (boundaries) yang kuat:

  • Katakan "Tidak" dengan jelas: Jika mereka membebankan tugas yang tidak masuk akal atau di luar tupoksi, tolaklah dengan sopan namun tegas.

  • Fokus pada Fakta: Saat berdiskusi atau rapat, jangan terbawa emosi. Tetaplah pada data dan fakta pelayanan. Orang dengan ciri narsistik sering memancing reaksi emosional; jangan berikan itu.

3. Metode "Batu Karang" (Grey Rock Method)

Dalam psikologi, ada teknik yang disebut Grey Rock. Jadilah membosankan seperti batu karang bagi mereka. Jika rekan tersebut mencoba memancing drama, konflik, atau pamer diri, berikan respons yang datar dan minim emosi. Contoh: "Oh, begitu. Baiklah, mari kita kembali ke agenda rapat." Ketika mereka tidak mendapatkan "suplai" reaksi emosional dari Anda, biasanya mereka akan berhenti mengganggu.

4. Dokumentasi adalah Kunci

Dalam pelayanan paroki yang melibatkan kepanitiaan atau keuangan, menghadapi rekan yang manipulatif bisa berisiko. Biasakan segala sesuatu tertulis.

  • Gunakan grup WhatsApp atau Email untuk konfirmasi tugas.

  • Buat notulensi rapat yang jelas dan disepakati bersama. Ini bukan soal tidak percaya, melainkan soal transparansi dan akuntabilitas yang sehat dalam organisasi Gereja.

5. Hindari Gosip, Cari Mediator

Sangat menggoda untuk membicarakan keburukan rekan tersebut kepada orang lain. Namun, gosip hanya akan memperkeruh suasana dan merusak citra pelayanan. Jika konflik sudah mengganggu kinerja seksi atau wilayah:

  • Bicaralah pada Ketua Lingkungan/Wilayah atau Koordinator Bidang.

  • Jika perlu, libatkan Dewan Paroki atau Romo sebagai penengah, dengan membawa bukti masalah yang konkret (bukan sekadar perasaan tidak suka).

6. Doakan dan Jaga Hati

Ini adalah bagian tersulit namun terpenting. St. Theresia dari Lisieux pernah berkata bahwa hidup bersama orang-orang yang "menjengkelkan" adalah kesempatan untuk melatih kesabaran dan kekudusan.

Doakanlah rekan tersebut. Berdoalah agar Tuhan menjamah hatinya dan menyembuhkan luka batin yang membuatnya bersikap demikian. Di saat yang sama, doakan diri Anda sendiri agar tidak jatuh dalam dosa kemarahan. Ingatlah motivasi awal Anda melayani: Untuk Tuhan, bukan untuk kenyamanan diri sendiri.

Penutup 

Menghadapi "duri dalam daging" saat melayani memang melelahkan. Namun, jangan biarkan satu orang membuat Anda meninggalkan panggilan Tuhan. Tetaplah fokus pada Kristus, jaga batasan yang sehat, dan teruslah berkarya dengan tulus.

Selamat melayani, Tuhan memberkati.