Bacaan: Zefanya 2:3; 3:12-13 | 1 Korintus 1:26-31 | Matius 5:1-12a
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Pernahkah Anda bertanya, apa definisi "sukses" atau "bahagia" menurut dunia saat ini? Jika kita membuka media sosial atau menonton iklan, jawabannya hampir seragam: Bahagia itu kalau kaya, sukses itu kalau punya jabatan tinggi, dan hebat itu kalau kita kuat, populer, dan tidak terkalahkan. Dunia mengajarkan kita untuk berlomba-lomba menjadi "nomor satu."
Namun, hari ini, Liturgi Sabda mengajak kita naik ke atas bukit bersama Yesus. Di sana, Yesus memutarbalikkan logika dunia. Ia melakukan sebuah "revolusi kebahagiaan." Dalam Injil Matius yang baru saja kita dengar, kalimat pertama yang keluar dari mulut-Nya bukanlah "Berbahagialah orang kaya," melainkan:
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga."
Apa artinya ini? Apakah kita harus membuang harta kita dan hidup menderita untuk masuk surga? Mari kita renungkan bersama benang merah dari ketiga bacaan hari ini.
Menjadi "Anawim": Sisa yang Rendah Hati
Dalam bacaan pertama, Nabi Zefanya berbicara kepada bangsa Israel di tengah masa krisis. Ia menyerukan, "Carilah Tuhan, hai semua orang yang rendah hati di negeri... carilah keadilan, carilah kerendahan hati."
Zefanya berbicara tentang Sisa Israel. Mereka adalah orang-orang yang tidak lagi mengandalkan kekuatan militer, politik, atau kekayaan untuk merasa aman. Mereka adalah anawim—orang-orang kecil yang hanya memiliki Tuhan sebagai satu-satunya sandaran hidup.
Menjadi "miskin di hadapan Allah" (seperti dalam Sabda Bahagia) berarti memiliki sikap batin seperti anawim ini. Ini adalah kesadaran bahwa tanpa Tuhan, saya bukan apa-apa. Tanpa Tuhan, saya kosong. Orang yang sombong merasa dirinya penuh; tidak ada ruang bagi Tuhan. Tetapi orang yang "miskin di hadapan Allah" menyediakan ruang seluas-luasnya bagi rahmat Tuhan untuk bekerja.
Allah Memilih Apa yang Lemah
Rasul Paulus dalam bacaan kedua menegaskan hal ini dengan sangat jeli kepada jemaat di Korintus. Ia mengajak mereka bercermin: "Coba lihat dirimu, adakah di antara kamu yang bijak, berpengaruh, atau terpandang menurut ukuran dunia?" Jawabannya: Tidak banyak.
Tetapi justru di situlah letak indahnya iman kita. Paulus berkata:
"Apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat; dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat."
Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna, kaya raya, atau jenius dulu baru Ia mau memakai kita. Justru dalam kelemahan kita, kuasa Tuhan menjadi nyata. Jika kita merasa hidup kita sedang berantakan, jika kita merasa kecil dan tidak berdaya menghadapi masalah, kabar baiknya adalah: Anda berada di posisi yang tepat untuk ditolong oleh Tuhan.
Sabda Bahagia: Peta Jalan Kekudusan
Kembali ke Injil, Delapan Sabda Bahagia yang diajarkan Yesus adalah potret diri Yesus sendiri.
Dia yang berdukacita, akan dihibur.
Dia yang lemah lembut, akan mewarisi bumi.
Dia yang membawa damai, disebut anak Allah.
Dunia menghindari penderitaan, tangisan, dan kelemahan. Namun Yesus mengatakan bahwa di balik semua itu—jika dijalani bersama Allah—ada kebahagiaan sejati (Makarios). Kebahagiaan ini bukan sekadar perasaan senang sesaat (seperti makan enak atau liburan), melainkan sukacita mendalam yang tidak bisa direbut oleh siapa pun, karena bersumber dari kepastian bahwa kita dikasihi Allah.
Refleksi dan Penutup
Saudara-saudari terkasih,
Pesan hari ini sangat jelas: Jangan takut menjadi kecil. Di dunia yang berisik dan penuh persaingan ini, Tuhan mengajak kita menjadi "Sisa Israel" yang rendah hati.
Mungkin saat ini Anda sedang berduka atau terluka.
Mungkin Anda sedang berjuang demi kebenaran tetapi justru disingkirkan.
Mungkin Anda berusaha berbuat baik tapi dianggap bodoh oleh orang lain.
Ingatlah Sabda Tuhan hari ini: Anda diberkati. Kerajaan Sorga adalah milik Anda.
Marilah kita mengubah orientasi hidup kita. Bukan lagi mengejar pengakuan dunia, tetapi mengejar "kemiskinan di hadapan Allah"—sikap hati yang selalu bergantung penuh kepada-Nya. Sebab, ketika kita merasa lemah, saat itulah bersama Tuhan, kita menjadi kuat.
Tuhan memberkati. Amin. (FEL)
