Pernahkah Anda merasakan rasa bersalah yang menyelinap saat menutup telepon dari orang tua di kampung halaman? Suara mereka terdengar ceria, namun Anda tahu ada kesepian di balik tawa itu.
Bagi banyak umat Paroki MBSB yang merupakan perantau, ini adalah realitas yang menyayat hati. Kita terjebak dalam dilema klasik: Di satu sisi, tuntutan pekerjaan dan ekonomi mengharuskan kita tinggal di kota. Di sisi lain, orang tua kita semakin menua, sendirian di rumah, dan kondisi fisik mereka mulai menurun.
Pertanyaan berat itu pun muncul: "Apakah saya durhaka jika memikirkan Panti Jompo? Atau haruskah saya memaksa mereka pindah ke kota?"
Mengubah Paradigma tentang "Panti Jompo"
Dalam budaya timur kita, menitipkan orang tua ke panti jompo (atau kini lebih halus disebut Senior Living) seringkali dianggap sebagai aib. Stigma "membuang orang tua" begitu lekat. Namun, mari kita renungkan dengan kepala dingin dan hati yang tenang.
Gereja mengajarkan kita untuk menghormati ayah dan ibu. Namun, "menghormati" tidak melulu berarti harus tinggal satu atap, apalagi jika kondisi tidak memungkinkan.
Bayangkan situasi ini: Orang tua tinggal sendirian di rumah yang besar. Anak-anak bekerja dari pagi hingga malam. Jika orang tua jatuh di kamar mandi atau lupa mematikan kompor, tidak ada yang tahu. Dalam kondisi seperti ini, apakah membiarkan mereka sendirian di rumah lebih "berbakti" daripada menempatkan mereka di tempat di mana ada perawat 24 jam, dokter, dan teman-teman seusia mereka?
"Kasih yang sejati adalah memprioritaskan keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan orang tua, di atas ego kita sendiri yang takut dianggap anak tidak berbakti."
Opsi-Opsi Jalan Tengah
Sebelum mengambil keputusan ekstrem, ada beberapa opsi yang bisa dipertimbangkan oleh keluarga:
Mencari Perawat/Pendamping di Rumah (Home Care) Jika orang tua bersikeras tidak ingin meninggalkan rumah kenangan mereka, menyewa perawat atau asisten rumah tangga yang khusus melayani lansia bisa menjadi solusi. Pastikan mereka orang yang terpercaya.
Membawa Orang Tua ke Kota (Dengan Catatan) Membawa orang tua tinggal bersama kita di kota terdengar ideal. Namun, perhatikan psikologis mereka. Orang tua sering mengalami culture shock, kesepian di apartemen/rumah saat kita bekerja, dan kehilangan komunitas tetangga lama mereka. Jika memilih ini, pastikan ada aktivitas atau komunitas lansia di lingkungan Paroki yang bisa mereka ikuti.
Senior Living (Panti Werdha) yang Berkualitas Jika kondisi medis orang tua membutuhkan penanganan khusus (seperti demensia atau stroke), Senior Living seringkali adalah tempat teraman. Di sana, kebutuhan rohani mereka juga seringkali lebih terjamin dengan adanya kunjungan rutin prodiakon atau misa.
Apa Kata Iman Kita?
Paus Fransiskus sering mengingatkan kita bahwa lansia adalah "harta karun" bagi masyarakat dan Gereja. Menghormati mereka berarti menjamin martabat hidup mereka.
Dalam mengambil keputusan, libatkan Tuhan dalam doa. Ajaklah orang tua bicara dari hati ke hati, bukan dengan memaksakan kehendak. Tanyakan apa yang membuat mereka paling bahagia dan tenang.
Jangan mengambil keputusan hanya karena "apa kata tetangga".
Ambillah keputusan berdasarkan "apa yang paling aman dan membahagiakan bagi orang tua".
Kesimpulan
Tidak ada satu jawaban yang benar untuk semua keluarga. Setiap situasi unik. Menempatkan orang tua di panti jompo bukanlah dosa jika itu adalah satu-satunya cara untuk menjamin keselamatan dan perawatan medis mereka yang tidak bisa kita penuhi sendiri. Sebaliknya, memaksakan merawat sendiri namun menelantarkan mereka karena kesibukan kerja juga bukan tindakan kasih.
Apapun keputusannya, pastikan: Cinta kasih tetap menjadi landasannya. Kunjungi mereka sesering mungkin, telepon mereka setiap hari, dan pastikan mereka tahu bahwa mereka tidak pernah dilupakan.
Semoga Tuhan memberkati setiap pergumulan keluarga kita dalam merawat orang tua tercinta. (LA)
