Setiap tahun, ada dua momen magis di mana gereja kita, Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, berubah menjadi lautan manusia. Tenda-tenda tambahan dipasang, kursi-kursi plastik disusun hingga ke halaman, dan lahan parkir penuh sesak.
Ya, itu adalah momen Natal dan Paskah.
Fenomena ini seringkali memunculkan senyum campur bingung di antara kita. Ada istilah jenaka yang sering terdengar, mulai dari "Kristen Tomat" (Tobat Kumat) hingga istilah Chreasters (Christmas and Easter Christians). Namun, di balik keramaian musiman ini, ada sebuah refleksi mendalam yang perlu kita renungkan bersama sebagai satu keluarga paroki.
Pintu yang Selalu Terbuka
Pertama-tama, kehadiran saudara-saudari kita yang mungkin hanya terlihat setahun dua kali ini adalah berkat. Fakta bahwa mereka masih melangkahkan kaki ke gereja menunjukkan bahwa bara iman itu masih ada, sekecil apapun itu. Ada kerinduan akan Tuhan, ada memori akan "rumah", dan ada keinginan untuk merayakan momen besar bersama komunitas.
Gereja Katolik, dan secara khusus Paroki MBSB, tidak pernah menutup pintu. Kita bersukacita karena bangku-bangku terisi penuh. Namun, sukacita ini menyisakan sebuah pertanyaan: "Ke mana perginya sukacita ini di hari Minggu biasa?"
Iman Bukanlah "Kembang Api"
Iman Katolik seringkali disalahartikan sebagai sebuah perayaan besar semata. Padahal, inti dari iman kita bukanlah pada kemeriahan setahun sekali, melainkan pada kesetiaan di hal-hal sederhana setiap harinya.
Bayangkan sebuah hubungan pernikahan atau persahabatan. Apakah hubungan itu akan sehat jika kita hanya menyapa pasangan atau sahabat kita dua kali setahun saat ulang tahun dan tahun baru? Tentu tidak. Hubungan membutuhkan komunikasi rutin, makan bersama, dan kehadiran yang nyata.
Demikian pula hubungan kita dengan Tuhan.
Masa Biasa adalah Masa Penting: Dalam liturgi, "Masa Biasa" (baju hijau yang dikenakan imam) bukanlah masa "istirahat". Itu adalah masa di mana benih iman bertumbuh lewat rutinitas.
Ekaristi adalah Makanan: Kita tidak makan setahun dua kali. Jiwa kita membutuhkan asupan Tubuh Kristus setiap minggu untuk mampu menghadapi tantangan dunia yang semakin berat.
Undangan untuk "Pulang"
Bagi Anda yang membaca tulisan ini dan mungkin merasa menjadi bagian dari umat yang hadir musiman, artikel ini bukan untuk menghakimi. Artikel ini adalah sebuah undangan cinta.
Tuhan tidak hanya lahir di kandang Betlehem (Natal) atau bangkit dari kubur (Paskah). Ia hadir setiap Minggu di altar, menunggu untuk bertemu Anda secara pribadi.
Mungkin Anda sibuk, mungkin Anda merasa berdosa, atau mungkin Anda merasa liturgi itu membosankan. Namun, percayalah, kedamaian sejati tidak ditemukan dalam keriaan perayaan besar, melainkan dalam keheningan doa dan Ekaristi yang rutin.
Mari Jadikan Setiap Minggu sebagai Perayaan
Kepada umat yang setia hadir setiap minggu, tugas kita bukanlah menyindir mereka yang jarang hadir, melainkan menyambut mereka dengan hangat saat mereka datang. Jadikan wajah gereja kita ramah, sehingga mereka yang datang setahun dua kali itu merasa: "Ah, ternyata enak ya misa di sini. Minggu depan saya mau datang lagi."
Dan bagi saudara-saudari yang masih ragu untuk kembali aktif, ingatlah: Tuhan tidak pernah menghitung absen kita. Ia hanya peduli pada saat kita memutuskan untuk mengetuk pintu dan masuk kembali.
Pulanglah. Ekaristi hari Minggu di Kota Wisata selalu merindukan kehadiranmu.
Berkah Dalem.
