"Gereja dipanggil bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi saksi kasih yang menghadirkan damai."
Intoleransi: Luka Bersama
Dalam masyarakat majemuk, perbedaan agama dan budaya adalah keniscayaan. Namun, intoleransi muncul ketika kita menolak keberadaan mereka yang berbeda. Mulai dari diskriminasi halus, ujaran kebencian, hingga kekerasan.
Gereja tidak boleh diam. Intoleransi melukai martabat manusia dan merusak persaudaraan. Setiap tindakan penolakan terhadap sesama adalah penolakan terhadap pesan Injil itu sendiri.
Dialog Bukan Sekadar Diskusi
Dialog antaragama adalah usaha tulus untuk saling memahami, bukan sekadar pertemuan formal para pejabat. Bagaimana kita bisa memulainya?
-
Ruang Perjumpaan: Berani mengadakan kegiatan bersama lintas agama, bukan hanya eksklusif untuk kalangan sendiri.
-
Menghidupi Kasih: Menunjukkan sikap ramah, terbuka, dan penuh hormat kepada tetangga yang berbeda keyakinan.
-
Pendidikan Dini: Mengajarkan anak-anak kita bahwa "berbeda itu biasa" dan indah.
-
Aksi Sosial: Membantu korban bencana atau warga miskin tanpa melihat KTP agamanya.
Panggilan Gereja Katolik
Sebagai kehadiran nyata Kristus di tengah masyarakat majemuk, Gereja Katolik secara universal memiliki panggilan suci:
-
Suara Profetis: Berani menyuarakan keadilan dan menolak segala bentuk diskriminasi di lingkungan kita.
-
Teladan Hidup Damai: Umat diajak menjadi pembawa damai di kantor, sekolah, dan cluster perumahan masing-masing.
-
Jembatan Persaudaraan: Menjalin relasi baik dengan tokoh agama dan rumah ibadah lain di sekitar kita.
Penutup:
Intoleransi adalah tantangan nyata, tetapi harapan selalu ada. Mari kita nyalakan lilin perdamaian di tengah dunia yang gelap oleh kebencian. Dengan merawat toleransi, kita sedang merawat kemanusiaan dan memuliakan Tuhan.
