Menjaga Martabat Manusia di Tengah Gempuran AI dan Media Sosial

Perkembangan teknologi digital adalah anugerah yang luar biasa. Ia mendekatkan yang jauh dan memudahkan pekerjaan kita. Namun, seperti dua sisi mata uang, kemajuan ini membawa tantangan baru bagi kehidupan iman dan sosial kita.

Belakangan ini, kita dihadapkan pada dua fenomena yang meresahkan: kecanggihan Artificial Intelligence (AI) yang disalahgunakan untuk penipuan, serta dampak psikologis media sosial terhadap anak-anak dan remaja kita. Gereja mengajak kita untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi menjadi "misionaris digital" yang membawa kebenaran.

1. Lansia dan Jerat Tipuan AI

Kelompok yang paling rentan terhadap sisi gelap teknologi AI saat ini adalah orang tua atau lansia di keluarga kita. Teknologi AI kini mampu memanipulasi suara dan wajah (deepfake) dengan sangat meyakinkan.

Sering terjadi modus penipuan di mana penipu menggunakan AI untuk meniru suara anak atau cucu yang sedang "kecelakaan" atau "ditahan polisi" untuk meminta transfer uang segera. Bagi para lansia yang mungkin kurang familiar dengan teknis teknologi ini, suara yang terdengar sangat mirip tersebut bisa memicu kepanikan dan percaya begitu saja.

Selain itu, konten-konten hoax (berita bohong) yang diproduksi dengan AI—seperti foto rekayasa tokoh agama atau politik—seringkali beredar di grup WhatsApp keluarga. Lansia yang memiliki hati tulus seringkali menjadi korban karena langsung meneruskan (forward) pesan tersebut tanpa verifikasi, dengan niat baik untuk "memberi info".

Apa yang bisa kita lakukan?

  • Dampingi dan Edukasi: Luangkan waktu untuk menjelaskan kepada orang tua/kakek-nenek kita bahwa "tidak semua yang dilihat dan didengar di layar HP itu nyata."

  • Kata Sandi Keluarga: Buatlah "kata sandi" khusus dalam keluarga. Jika ada telepon darurat meminta uang yang mengaku sebagai anggota keluarga, minta mereka menyebutkan kata sandi tersebut.

2. Anak Muda dan Ilusi Standar Hidup

Di sisi lain, anak-anak dan remaja kita sedang bertarung melawan "standar kesempurnaan" yang tidak realistis di media sosial (Instagram, TikTok). Algoritma media sosial cenderung menampilkan potongan hidup orang lain yang paling indah, mewah, dan sempurna.

Banyak remaja merasa rendah diri (insecure), tidak bersyukur, bahkan depresi karena merasa fisik atau hidup mereka tidak seindah influencer yang mereka lihat. Mereka mengejar "Likes" sebagai tolak ukur harga diri. Padahal, banyak dari konten tersebut adalah hasil suntingan filter digital yang tidak nyata.

Pesan Gereja untuk Orang Tua:

  • Ingatkan anak-anak kita bahwa martabat mereka tidak ditentukan oleh jumlah followers atau standar kecantikan duniawi, melainkan karena mereka adalah citra Allah (Imago Dei) yang berharga.

  • Terapkan diet digital atau jam bebas gawai di rumah untuk membangun kembali komunikasi tatap muka yang hangat.

Kebenaran yang Memerdekakan

Sebagai umat Katolik, mari kita menjadi agen kebenaran. Santo Paulus mengingatkan kita dalam Efesus 4:25, "Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain."

Mari kita lindungi orang tua kita dari kebohongan teknologi, dan lindungi anak-anak kita dari ilusi dunia maya. Gunakan jari kita untuk menyebarkan kasih dan kebenaran, bukan ketakutan atau kepalsuan.

Tuhan memberkati keluarga kita semua.


Tips Singkat "Saring Sebelum Sharing" untuk Umat:

  1. Cek Sumber: Apakah beritanya dari situs berita resmi?

  2. Cek Emosi: Apakah berita itu membuat marah atau panik berlebihan? Biasanya itu tanda hoax.

  3. Verifikasi: Cari judul berita yang sama di Google untuk memastikan kebenarannya.

_RB_