Badai dalam Bahtera:
Menyikapi Konflik & Perpecahan di Komunitas Gereja
Refleksi Pastoral tentang Ego, Pelayanan, dan Kesatuan
Gereja bukanlah museum bagi orang-orang suci, melainkan rumah sakit bagi orang-orang berdosa yang sedang berjuang menuju kekudusan. Oleh karena itu, gesekan, perbedaan pendapat, bahkan konflik tajam antar pengurus atau anggota komunitas adalah realitas yang tidak terhindarkan.
Namun, ketika konflik tersebut berujung pada perpecahan hingga lahirnya "komunitas tandingan", hal ini menjadi luka bagi Tubuh Kristus. Bagaimana kita sebagai umat Katolik harus bersikap?
— Yohanes 17:21
1. Kembali pada Motivasi Awal (Purificatio Intentio)
Akar dari perpecahan seringkali bukan masalah doktrin, melainkan ego. Rasa tidak dihargai, keinginan untuk mendominasi, atau merasa "cara sayalah yang paling benar" adalah pintu masuk si jahat.
Langkah pertama adalah refleksi diri yang jujur: "Apakah saya melayani untuk kemuliaan Tuhan, atau untuk panggung saya sendiri?" Jika sebuah komunitas pecah karena perebutan kekuasaan, maka fokusnya sudah bergeser dari Kristus ke manusia.
2. Bahaya "Komunitas Tandingan"
Dalam tradisi Katolik, ketaatan pada hierarki (Pastor Paroki dan Uskup) adalah hal mutlak. Komunitas kategorial (seperti PD Karismatik atau Legio Maria) hanya sah jika berada di bawah naungan penggembalaan Gereja setempat.
3. Mengelola Konflik dengan Cara Injili
Jika Anda berada di tengah konflik atau melihatnya terjadi, lakukan langkah berikut:
- Hindari Gosip: Membicarakan keburukan lawan konflik kepada anggota lain hanya akan memperkeruh suasana dan memecah belah umat (kubu-kubuan).
- Dialog Empat Mata: Terapkan prinsip Matius 18:15. Tegurlah atau bicaralah secara pribadi terlebih dahulu, bukan menyerang di forum terbuka atau grup WhatsApp.
- Libatkan Moderator/Imam: Jika konflik meruncing, jangan mengambil keputusan sendiri. Bawalah kepada Pastor Moderator atau Romo Paroki sebagai penengah. Keputusan Romo harus ditaati dengan kerendahan hati.
4. Sikap Bagi Anggota yang Bingung
Seringkali, anggota biasa menjadi bingung ketika pengurus pecah dan saling mengajak pindah ke komunitas baru. Sikap terbaik adalah:
Tetaplah setia pada komunitas yang diakui secara resmi oleh Paroki. Jangan mengikuti figur atau tokoh, tetapi ikutilah Gereja. Tokoh bisa jatuh, bisa salah, dan bisa pergi, tetapi Gereja tetap berdiri.
