Hari ini kita memasuki Hari Minggu Biasa Kedua. Namun, hari ini terasa istimewa karena Gereja secara universal memulai Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen. Di tengah dunia yang sering terpecah-belah, dan kadang di tengah tubuh Kristus yang terkotak-kotak, bacaan hari ini memberikan kita visi yang sangat jernih tentang siapa pusat iman kita dan apa tugas kita.
Inti dari pesan hari ini dapat diringkas dalam satu gerakan sederhana: Menunjuk kepada Yesus.
Mengenali "Anak Domba" (Injil Yohanes)
Dalam Injil hari ini, Yohanes Pembaptis melakukan sesuatu yang luar biasa rendah hati namun sangat powerful. Ketika ia melihat Yesus datang, ia tidak berkata, "Lihat, itu sepupuku yang hebat" atau "Lihat, itu muridku."
Yohanes berseru: "Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia."
Yohanes bertindak sebagai "telunjuk". Ia tidak menarik perhatian orang kepada dirinya sendiri, melainkan mengarahkannya kepada Yesus. Ia mengenali Yesus bukan sebagai raja yang akan menaklukkan Romawi dengan pedang, melainkan sebagai "Anak Domba". Ini adalah gelar yang menyiratkan kurban, kelembutan, dan penebusan.
Pesan bagi kita: Kita tidak bisa menjadi orang Kristen yang sejati jika kita tidak terlebih dahulu mengenali Yesus secara pribadi. Bukan hanya tahu tentang Dia, tapi mengalami kehadiran-Nya sebagai Dia yang menghapus dosa-dosa kita.
Misi yang Melampaui Batas (Yesaya)
Setelah kita mengenali Yesus, apa langkah selanjutnya? Bacaan Pertama dari Nabi Yesaya mengingatkan kita bahwa tugas hamba Tuhan itu tidaklah sempit.
Tuhan berfirman: "Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub... Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa."
Ini adalah teguran sekaligus undangan. Tuhan mengingatkan bahwa keselamatan itu bukan "milik pribadi" atau "eksklusif untuk kelompok kita saja". Terang itu harus bersinar sampai ke ujung bumi. Jika kita menyimpan iman kita hanya di dalam gedung gereja ini, kita membatasi "terang" yang seharusnya menerangi bangsa-bangsa.
Panggilan Persatuan (Surat Rasul Paulus)
Inilah yang membawa kita pada peringatan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen. Dalam Bacaan Kedua, Santo Paulus menyapa jemaat di Korintus. Perhatikan baik-baik sapaannya:
Ia menulis kepada mereka yang dikuduskan, "...beserta semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita."
Paulus mengingatkan kita bahwa kekudusan kita itu bersifat kolektif. Kita terhubung dengan siapa saja—baik Katolik, Protestan, Ortodoks—yang berseru kepada nama Yesus. Yesus adalah "Tuhan mereka dan Tuhan kita."
Seringkali, perpecahan terjadi karena kita berhenti menatap "Anak Domba Allah" dan mulai menatap perbedaan liturgi, perbedaan tafsir, atau ego organisasi. Yohanes Pembaptis mengajarkan kita untuk menyingkirkan ego ("Ia harus makin besar, aku harus makin kecil") dan fokus menunjuk pada Kristus.
Jika semua orang Kristen, dari berbagai denominasi, fokus memandang dan berjalan menuju Kristus (sang Pusat), maka secara otomatis kita akan semakin dekat satu sama lain. Seperti jari-jari roda sepeda, semakin dekat ke pusat (as), semakin dekat pula jarak antar jari-jari tersebut.
Refleksi dan Penutup
Saudara-saudari terkasih,
Hari ini, mari kita ambil dua sikap konkret:
Jadilah "Telunjuk": Dalam keluarga atau tempat kerja, jangan biarkan orang berhenti pada kekaguman akan kebaikan Anda, tapi arahkan mereka pada Sumber kebaikan itu, yaitu Yesus.
Berdoa bagi Persatuan: Jangan memandang saudara-saudari Kristen dari gereja lain sebagai saingan. Mereka adalah rekan sekerja Allah. Minggu ini, doakanlah secara khusus agar tembok-tembok pemisah di antara umat beriman runtuh oleh cinta kasih Kristus.
Semoga seperti Yohanes Pembaptis, kita pun berani bersaksi: "Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."
Tuhan memberkati kita semua. Amin. (EK)
