Mengapa Harus Yordan? Menelusuri Jejak Misteri Pembaptisan Yesus

Seringkali kita membayangkan peristiwa pembaptisan Yesus sebagai sebuah adegan sakral yang "sudah seharusnya" terjadi begitu saja. Namun, jika kita melihat peta Yudea kuno dan memahami konteks budaya abad pertama, pilihan Sungai Yordan—dan bukan lokasi lain—sebenarnya sangat radikal dan penuh dengan simbolisme tersembunyi.

Mengapa Yesus tidak dibaptis di kolam ritual (Mikveh) yang bersih di Yerusalem? Mengapa harus di sungai yang keruh di gurun tandus?

Simbolisme "Tempat Terendah di Bumi"

Salah satu fakta geografis yang paling puitis namun jarang disadari adalah elevasi Sungai Yordan. Lembah Sungai Yordan adalah titik terendah di permukaan bumi (sekitar 400 meter di bawah permukaan laut).

Dari sudut pandang teologis, ini bukan kebetulan. Keputusan Yesus untuk turun dari Galilea menuju Yordan bisa dilihat sebagai simbol fisik dari kenosis (pengosongan diri).

  • Filosofi: Untuk mengangkat manusia ke surga (tempat tertinggi), Dia harus turun secara fisik ke tempat yang paling rendah di bumi.

  • Kontras: Yerusalem berada di atas bukit (Gunung Sion). Para elit agama berada "di atas", sementara Yesus memulai pelayanan-Nya di titik "paling bawah", menunjukkan solidaritas dengan mereka yang rendah dan terpinggirkan.

Apakah Baptisan Adalah "Hal Baru"? (Konteks Zaman Itu)

Sebelum agama Kristen ada, apakah orang-orang sudah mengenal baptisan? Jawabannya: Ya, tetapi maknanya berbeda.

Pada zaman itu, orang Yahudi sangat akrab dengan ritual pembasuhan air yang disebut Mikveh.

  • Ritual Mikveh: Dilakukan berulang kali untuk menyucikan diri dari ketidaktahiran ritual (misalnya setelah menyentuh mayat atau sebelum masuk Bait Allah). Ini adalah soal kebersihan ritual, bukan pertobatan moral seumur hidup.

  • Revolusi Yohanes Pembaptis: Yohanes melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ia mengubah ritual yang biasanya self-service (mencuci diri sendiri) dan berulang, menjadi sebuah tindakan satu kali yang dilakukan oleh orang lain (dibaptiskan) sebagai tanda pertobatan hati dan persiapan menyambut Mesias. Ini adalah protes terhadap kemapanan agama di Yerusalem; ia mengatakan bahwa menjadi keturunan Abraham saja tidak cukup, hati harus "dicuci" ulang.

Mengapa Tidak di Sungai Lain?

Secara teknis, ada sumber air lain di Israel, seperti Sungai Kishon atau mata air di Galilea yang lebih jernih. Namun, Sungai Yordan dipilih karena memori sejarah bangsa Israel:

  • Pintu Gerbang Tanah Perjanjian: Di sungai inilah Yosua membelah air dan memimpin bangsa Israel masuk ke Tanah Perjanjian setelah 40 tahun di gurun. Dengan dibaptis di sini, Yesus seolah menyatakan diri sebagai "Yosua Baru" (nama Yesus dan Yosua dalam bahasa Ibrani adalah sama: Yeshua) yang akan memimpin umat-Nya ke "Tanah Perjanjian" yang sejati (Kerajaan Allah).

  • Jejak Elia dan Elisa: Sungai Yordan adalah tempat Nabi Elia naik ke surga dan mewariskan jubahnya kepada Elisa (2 Raja-raja 2). Yohanes Pembaptis, yang berpenampilan seperti Elia, membaptis di sana untuk menyambung benang merah kenabian yang sudah terputus ratusan tahun.

"Gurun" sebagai Tempat Perlawanan

Lokasi pembaptisan ini berada di "padang gurun" ( wilderness ), jauh dari pusat kekuasaan. Jika Yesus ingin mencari popularitas instan, Dia seharusnya pergi ke Bait Allah di Yerusalem. Namun, Dia memilih Yordan di gurun.

  • Dalam tradisi Yahudi, gurun adalah tempat di mana Tuhan berbicara kepada hati umat-Nya (seperti saat Eksodus).

  • Gurun adalah tempat yang bebas dari korupsi politik dan agama kota besar. Memilih Yordan adalah pernyataan politis-spiritual bahwa pembaruan tidak akan datang dari istana atau gedung megah, tetapi dari pinggiran yang sunyi.

Lebih dari Sekadar Air

Pembaptisan di Sungai Yordan bukan sekadar ritual pembersihan, tapi adalah sebuah "pementasan" teologis yang brilian. Dengan masuk ke sungai itu, Yesus menyatukan diri dengan sejarah Israel (Yosua), merendahkan diri ke titik terendah bumi, dan mengubah tradisi cuci tangan ritual menjadi transformasi hati yang radikal. Air Yordan yang keruh hari itu tidak menyucikan Yesus (karena Dia tidak berdosa), tetapi justru kehadiran Yesus-lah yang "menguduskan" air tersebut bagi baptisan kita hari ini. (RSA)